Renungan GMKI Kupang

“Anak Muda yang Gaul di Mata Tuhan”, Refleksi Mazmur 119 : 9 oleh: Irma Tersia Mesen 

“Anak Muda yang Gaul di Mata Tuhan”, Refleksi Mazmur 119 : 9 oleh: Irma Tersia Mesen 

Refleksi Mazmur 119 : 9 oleh: Irma Tersia Mesen – Komisariat Rabi GMKI Kupang

“Anak Muda yang Gaul di Mata Tuhan”

Penulis : Irma Tersia Mesen  (Komisariat Rabi)

(Mazmur 119 : 9)

“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih dengan menjaganya sesuai Firman-Mu”

“Berbicara tentang anak muda berarti orang-orang yang usianya masih muda baik itu laki-laki maupun perempuan”.

Sebagai muda-mudi kita memiliki tanggung jawab yang besar di pundak kita ada bermacam-macam harapan terutama sebagai generasi penerus.

Firman Tuhan dalam pengkhotbah 11:9 berkata: Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! .

Firman ini mengatakan bahwa sebagai anak muda kita memiliki kebebasan atau peluang untuk menjalani kehidupan kita di dunia. Banyak tawaran yang ditawarkan oleh dunia kepada kita mulai dari pergaulan, lingkungan hidup dan hal-hal lain yang menarik untuk dinikmati apalagi di era perkembangan IT yang serba instan zaman sekarang.

Namun Tuhan menghendaki supaya kita (orang muda) menjauhi nafsu orang muda, karena segala keinginan untuk memenuhi hawa nafsu hanya akan membawa kita kepada kebinasaan. Karena itu orang muda harus memiliki kekariban dengan Tuhan supaya beroleh kekuatan untuk dapat menolak setiap hawa nafsu yang ada dan firman Tuhan juga mengingatkan kita bahwa sebagai anak-anak muda Kristen kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai dasar, sebagai pedoman hidup kita, agar jalan hidup kita sesuai dengan kehendak Allah.

Lebih dari itu kita harus memiliki komitmen untuk taat dan ketaatan hanya bisa dimulai dari diri kita sendiri.

Bagaimana caranya supaya kita bisa taat?

Ada 2 langkah untuk menunjukkan ketaatan yaitu :

Kenali diri

    Kita harus mengenali diri kita sendiri, mengenali potensi-potensi yang ada dalam diri kita, Kita juga harus punya cara pandang yang baik terhadap diri kita dan potensi yang kita miliki.

    Mandiri

    Mandiri berarti kita harus mampu mengambil keputusan sendiri, tertib bertanggung jawab atas pilihan kita dan yang lebih penting bisa mengendali diri.

    Pertanyaannya bagaimana kita bisa melakukan semua ini?  jawabannya sederhana saja pertama kita harus ambil tanggung jawab atas diri kita dan mulai mengelola kegiatan-kegiatan hidup kita intinya kita harus memiliki karakter/ mental yang kuat (tahan uji).

    Mari memulai dari hal-hal kecil, jadilah pemuda yang gaul di mata Tuhan dengan cara hidup seturut firman -Nya dan percayalah bahwa Tuhan akan membawa kita melihat hal-hal besar  yang luar biasa.

    Syalom, Selamat beraktivitas, kiranya renungan kali ini menjadi alasan mutlak bagi kita untuk tetap menjaga kelakuan kita dan biarlah Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus.  Amin. ”UOUS”

    Gambar Allah yang Bermitra bersama kita dalam Realitas Perbedaan, Konflik, Kekerasan di Bumi Indonesia, oleh: Janter E. Rano Baki

    Gambar Allah yang Bermitra bersama kita dalam Realitas Perbedaan, Konflik, Kekerasan di Bumi Indonesia, oleh: Janter E. Rano Baki

    Janter E. Rano Baki – Staf Kerohanian BPC GMKI Kupang MB 2020-2022

    (Surat Efesus 4:1-16)

    Syalom….. Kata “syalom” berasal dari bahasa Ibrani mengandung makna mendalam, bahwa damai sejahtera Allah dalam kehidupan kita, manusia, dan termasuk segenap ciptaan-Nya. Kata syalom sangat berarti dalam realitas keberagaman saat ini dan seterusnya. Bagaimana damai sejahtera Allah yang bertahkta di atas realitas kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia, bahkan dalam unit terkecil dalam keluarga?

    Kita hidup di tengah perbedaan dan menjadi ancaman konflik yang silih berganti baik sesama individu maupun dalam komunitas tertentu. Ancaman demikian dilatarbelakangi, bahwa fakta menunjukkan setiap orang memiliki keunikan masing-masing (kelebihan dan kelemahan), cara berpikir, tujuan, impian, dan kepentingan yang beragam. Bahkan, anak yang kembarpun secara fisik sama, namun berbeda dengan keunikan, cara berpikir, tujuan, impian, dan kepentingan. Dalam konteks bergereja, setiap kita mempunyai karunia dan peran yang beragam. Apalagi, dalam konteks berbangsa, kita hidup dengan kekayaan budaya dan agama. Lantas untuk apa semuanya itu bagi kehidupan kita, jika benar bahwa perbedaan itu menghasilkan ancaman dan konflik semata?

    Fakta di balik sejumlah perbedaan yang ada, tersirat kekuatan besar yang mestinya kita sadari dan gali bersama. Kita perlu sadar, bahwa perbedaan adalah anugerah Allah. Cara pandang kita perlu dibaharui. Cara hidup kita perlu dibenahi menurut maksud Allah. Setiap keunikan kita adalah kekayaan dari anugerah Allah (pemberian). Maka, sepatutnya setiap pemberian Allah itu kita kelola bersama secara tepat. Pertanyaan kunci yang menjadi reflektif bersama adalah bagaimana kita mengelola (mentransformasi) perbedaan sesuai kehendak Allah?Pertanyaan ini mewakili sejumlah kegelisahan, bahwa perbedaan menimbulkan konflik yang berujung kehancuran relasi, menimbulkan trauma, perlakuan kekerasan verbal (hujatan, cemooh antar agama maupun budaya), diskriminasi, bahkan kekerasan fisik. Dalam kehidupan berbangsa, penganut agama Kristen sebagai kaum minoritas di tengah bangsa ini seringkali mendapatkan perlakuan tidak adil dari pihak tertentu yang memiliki kepentingan dan menyalahgunakan kekuasaan. Maupun sebaliknya, kaum minoritas seringkali juga mendukung jalan kekerasan sebagai upaya mempertahankan dirinya.

    Konflik tidak selamanya mendatangkan kehancuran, tergantung bagaimana kita sebagai mitra Allah mampu melakukan kehendak Allah sehingga mentransformasi konflik perbedaan yang ada pada akhirnya semakin mempererat relasi, semakin membangun toleransi, dan bahu-membahu. Inilah yang menjadi fokus utama kita dan panggilan iman kita bersama. Kita tidak bisa terhindar dari pada konflik, namun kita mentransformasi konflik yang ada.

    Rasul Paulus menyinggung soal bagaimana orang percaya dan juga melibatkan orang lain turut mentransformasi konflik perbedaan, dalam surat Efesus 4:1-16. Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Efesus bahwa sebagai mitra Allah, mereka harus menjaga kesatuan dalam persekutuan. Karunia memang berbeda-beda. Namun, Allah yang memberi karunia, hanya satu. Karena itu, setiap orang perlu bersikap menghargai satu sama lain. Setiap orang perlu memanfaatkan berbagai karunia untuk melayani Allah dan sesama. Dalam nasihat Paulus, ada empat poin penting bagi kita sebagai mitra Allah untuk mengelola perbedaan yang ada. Kita memerlukan empat fondasi yang kokoh.

     Pertama, orang beriman mesti memiliki tabiat/karakter yang baik (ay. 1-2). Apa itu karakter yang baik? Karakter yang baik adalah adalah sifat-sifat mulia yang mesti dimiliki seseorang. Paulus menyebutkan kerendahan hati, lemah lembut, sabar, suka menolong sesama, dan menjaga keharmonisan di dalam hidup bersama. Soal rendah hati, kita berat. Kita yang suka mengandalkan diri dan merasa inti sehingga orang lain diabaikan. Sebagai tubuh Kristus, ia belum menyerahkan dirinya secara utuh kepada Kristus. Karena dalam tubuh Kristus tidak ada yang lebih besar atau dominan dari pada orang lain, karena semuanya sama-sama setara dan berharga di hadapan Allah. Orang yang rendah hati tidak muda terpengaruh dari kelicikan isu politik atas nama agama untuk tujuan politik pihak tertentu. Dia mampu menjauhkan diri dari ujaran kebencian, kekerasan, dan balas dendam. Oleh karena orang yang rendah hati menguasai dirinya sebagai dampak didikan dari Allah atas kehidupannya. Soal kasih, kita dapat menghargai perbedaan, bahkan “merayakan” perbedaan yang ada. Karena hanya dalam kasih Allah, kita dari berbagai latar belakang agama dan budaya dapat melebur dalam relasi yang sehat dan membangun, bahkan bertumbuh bersama-sama. Karena hanya kasih yang dapat mendorong kesadaran dan tanggung jawab kita sebagai mitra Allah. Kasih demikian sangat urgen dalam kehidupan bersama. Apalagi kita masyarakat NTT secara khusus memiliki kekuatan komunitas yang kuat. Kasih mendorong kita bersatu melawan segala bentuk kekerasan dalam konflik yang ada. Isu agama yang memecah belah kita, terkhususnya relasi Kristen dan Islam hancur akibat elit politik tertentu yang berniat memperoleh kuasa. Kita, Kristen dan Islam dari satu keturunan Abraham, namun persaudaraan kita renggang akibat penyalahgunaan politik (berkuasa tanpa kasih Allah), yang sebenarnya tujuan politik adalah mendatangkan damai sejahtera. Misalnya Kitab Suci dipakai oleh pihak tertentu sebagai media untuk mendukung konflik dan kekerasan agar meraup keuntungan politik. Fondasi demikian yang kita lupakan dan abaikan, bahwa faktanya kita bersaudara dari keturunanan Abraham (Isak; lahir keturunan Yahudi, Kristen dan semua orang percaya, dan Ismael; Islam). Fondasi demikian memungkinkan persatuan kita, bahwa sebagai saudara yang memiliki peran dan tanggung jawab yang beragam. Relasi Kristen dan Islam, saya gambarkan sebagai “rumah” yang memiliki kamar masing-masing. Jika kita telah memahami kita adalah satu rumah, satu keluarga, maka kita harus berperang bersama orang asing dari dalam rumah atau luar rumah yang merusak relasi kita.

    Kedua, kesatuan yang mengedepankan damai sejahtera Allah (ay. 3-7). Sekelompok orang bisa bersatu karena berbagai faktor. Ada yang dipaksa orang lain. Ada yang bergantung pada orang lain. Ada yang sekadar ikut arus. Sebagai orang percaya, persekutuan kita tidak didasarkan pada faktor demikian. Sebaliknya, persatuan mesti terjalin akibat adanya ikatan damai sejahtera. Artinya bahwa dalam ikatan persekutuan itu, semua pihak merasa aman, nyaman, dan harmonis satu terhadap yang lain. Orang merasakan kehadiran kita sebagai “rumah” bukan “penginapan”. Satu sama lain tidak merasakan asing dengan yang lain. Karena ada perasaan senasib sepenanggungan dalam persekutuan. Persekutuan dalam satu tubuh, satu Roh, satu pengaharapan di dalam Allah. Dalam hal ini, persatuan bukan berarti satu untuk semua dan bukan pula semua untuk satu. Tapi, persatuan adalah semua untuk semua. Jadi, semua yang terlibat dalam ikatan persatuan itu mempunyai tanggung jawab yang sama untuk memelihara damai sejahtera Allah.

    Ketiga, Allah yang menciptakan perbedaan agar setiap orang bekerja sama membangun Tubuh Kristus (ay. 8-14). Perbedaan itu ciptaan Allah. Karena itu, perbedaan perlu dipandang sebagai anugerah Allah. Karena itu, semua bentuk perbedaan mesti dipakai untuk kemuliaan Allah. Kita memuliakan Allah dengan menghargai setiap keunikan orang masing-masing. Sebab, apa pun keadaan seseorang, dia merupakan ciptaan Allah. Jika kita menghina orang lain karena merasa kita berbeda, maka kita telah menghina Allah yang menciptakannya. Siapakah yang pantas menghina Allah? Tidak ada! Kita terbatas memahami karya Allah. Itu sebabnya, perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan dan kekerasan. Kita dapat memahami maksud Allah ketika kita melakukan firmanNya. Allah menghendaki kita dengan keunikan, kelebihan, kelemahan, cara pandang, impian, kepentingan yang ada difokuskan untuk kebaikan bersama. Jika kita melakukan hal demikian, maka tidak ada lagi penghalang atau tembok dalam relasi kita beragama maupun antar budaya, karena Kristuslah yang memimpin persekutuan kita. Allah bermintra dengan kita, ketika kita sebagai Gereja, Masyarakat, Pemerintah, Lintas Agama, dan Lintas Budaya bekerja sama mendatangkan damai sejahtera Allah secara nyata dalam kehidupan bersama.

    Keempat, Allah yang memberikan keteraturan (ay. 15-16). Itu berarti, bahwa Allah mau supaya semuanya rapi. Tiap bagian tersusun sesuai tempat yang Allah berikan. Dalam hal ini, setiap orang memahami tugas, peran dan tanggung jawab masing-masing. Karya dan pelayanan memang berbeda. Namun, semuanya diarahkan untuk kemuliaan Allah, bukan kemuliaan diri kita atau orang tertentu. Keteraturan dapat terjadi jika kita sudah memiliki karakter Kristus, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat 2a, yakni rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Karakter tersebut hendaknya diwujudnyatakan dalam kehidupan berelasi dengan sesama dalam konteks bergereja dan bermasyarakat. Setiap karunia yang kita miliki tidak ditujukan kita berbangga, berkuasa, dan menyombongkan diri sendiri, melainkan saling melengkapi dan membangun satu dengan lainnya. Keteraturan Allah membuat rumah kita (Indonesia) dengan kamar masing-masing, yakni lintas agama dan lintas budaya menjadi kokoh. Karena itu, rumah yang kokoh adalah karya Allah yang sedang bermitra dengan kita dari latar belakang agama dan budaya yang beragam untuk bersatu dan saling bekerja sama membangun Tubuh Kristus.

    Kita membutuhkan rumah yang kokoh demikian untuk menghadapi krisis relasi antar agama dan budaya yang semakin goyah akibat penyalahgunaan politik (misalnya ancaman politik identitas demi kepentingan tertentu). Kita sebagai mitra Allah terpanggil menjadi rumah yang kokoh melalui jalan kerja sama dan melibatkan Allah, sehingga mentransformasi konflik dan kekerasan yang diciptakan oleh pihak-pihak Perusak Hubungan dalam Gereja dan Bangsa (PHGB) dengan berbagai bentuknya (sejarah dan masa kini) dan tantangan di masa yang akan datang.

    “Belahan Jiwa”, Refleksi Kejadian 2:18 oleh: Ferdi Aryanto Babu

    “Belahan Jiwa”, Refleksi Kejadian 2:18 oleh: Ferdi Aryanto Babu

    Ferdi Aryanto Babu – Komisariat Salam GMKI-Kupang

    Penulis: Ferdi Aryanto Babu (Komisariat Salam)

    Firman : Kejadian 2:18

    TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

    Dari sebuah laman medsos, saya mendengarkan suatu kesaksian dari seorang hamba Tuhan yang cukup terkenal. Saat ditanya tentang awal mulanya memilih Yesus sebagai Juruselamat, ia berkisah bahwa ia menemukan Yesus di dalam kamarnya, saat ia sedang berencana untuk mengakhiri hidupnya. Telinganya mendengar langsung suara Yesus yang berkata, “Aku, Yesus, mengasihimu.” Suara yang tidak pernah lagi didengarnya secara langsung itu, membuat hidupnya berbalik total. Dan tahukah Bung dan Usi sekalian,mengapa saat itu ia ingin mengakhiri hidupnya? Pacarnya memutus cinta. Sesuatu yang amat berarti baginya telah direnggut. Sadarilah bahwa ketika Bung dan Usi sekalian mulai menunjukkan perhatian khusus saat mendekati seseorang yang Bung dan Usi cintai, saat itu Bung dan Usi sedang mengincar sesuatu yang teramat berarti dalam hidupnya, yaitu hatinya. PDKT atau apapun istilahnya di kalangan muda, tidaklah sesederhana itu untuk dipermainkan. Berhati-hatilah dengan hati seseorang, apalagi ketika kita sudah mengikat komitmen yang lebih serius dalam ikatan pernikahan.

    Amsal 4:23 mengatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Hati manusia memancarkan kehidupan. Seorang pria dipenjara karena percaya pada Yesus. Setiap hari, ia menerima pukulan dari salah satu sipir penjara. Namun, tiap kali itu pula, ia berkata, “Aku tidak akan membalas, karena aku tahu Tuhan Yesus mengasihimu.” Semakin hari, semakin banyak pukulan yang harus diterimanya, sampai suatu hari ia ditantang akan dihabisi oleh sang sipir. Jawaban yang sama membuat sang sipir tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Dalam pelukannya, sipir itu memintanya untuk membawa dia kepada Yesus. Hati yang dipenuhi kasih Yesus telah memancarkan kehidupan yang sejati. Sebagai pengikut Yesus, mari pancarkan kehidupan dengan menjaga hati kita dan menjaga hati orang lain, istimewanya bagi belahan jiwa kita, pasangan hidup kita. Mulailah dari masa berpacaran. Hormatilah kekasih hati, pasangan atau belahan jiwa kita, dengan menjaga hatinya.

    Allah adalah inisiator kehidupan keluarga. Sejak semula, Tuhan ingin kita saling bertolong-tolongan, dengan sepenuh hati. Terpujilah Yesus!

    Doa: “Bapa, ampunilah jika aku sering menyakiti hati-Mu dan hati sesamaku, termasuk pasangan hidupku. Tolonglah aku untuk menjaga hatiku dan hati sesamaku. Amin. ”UOUS”

    “Bagaikan Bejana”, Refleksi Yeremia 18 : 1-17 oleh: Irma Tersia Mesen

    “Bagaikan Bejana”, Refleksi Yeremia 18 : 1-17 oleh: Irma Tersia Mesen

    Irma Tersia Mesen – Komisariat Rabi GMKI-Kupang

    Penulis: Irma Tersia Mesen (Komisariat Rabi)

    Firman: Yeremia 18 : 1-17

    “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya”. (Yeremia 18 : 4)

    Seorang seniman tidak akan berhenti  berusaha sebelum menghasilkan karya yang indah, demikian pula dengan Allah. Allah tidak akan menyerah terhadap ketidaksetiaan kita.

    Firman ini diawali dengan tindakan simbolis dimana Allah memerintahkan nabi Yeremia untuk belajar dari dari si tukang periuk yang sedang kerja pelarikan (ayat 1-3)

    Firman Tuhan mengatakan bahwa hidup kita seperti tanah liat di tangan tukang periuk yang awalnya tidak ada arti sama sekali. Namun ketika tukang periuk mengambil kita dari kehidupan yang tidak berarti itu, Ia mulai membentuk kita seturut Kehendak-Nya dan akhirnya kita menjadi berharga.

    Proses Tuhan itu tidak mudah, mudah bagi kita untuk mengatakan bahwa kita adalah bejana yang siap dibentuk tapi realitanya tidak semudah yang kita pikirkan.

    Kita harus melewati proses yang panjang, melewati tahap demi tahap sama seperti sebuah bejana. Kadang kita merasa sakit hati, marah dan kecewa tapi itulah proses. kita harus rela memberi diri(taat) untuk diproses/dibentuk Tuhan, karna Tuhan tau persis bagaimana kehidupan kita kelak.

    Tuhan menghancurkan kehidupan lama kita bukan untuk menghancurkan kita tetapi Ia menghancurkan kita dan Ia mulai memperbaiki/ mempersiapkan kita menjadi lebih baik lagi, menjadi alat yang berguna bagi kemuliaan-Nya.

    Hidup butuh proses dan proses butuh waktu bahkan harga yang harus dibayar. tetapi jika kita menjalani proses dengan penuh ketaatan, ketahuilah proses yang kita lalui tidak pernah mengkhianati hasil yang kita peroleh.

    Syalom dan Selamat beraktivitas, Tuhan Yesus sang kepala Gerakan memberkati kita senantiasa. Amin “UOUS”

    “Janji Tuhan”, Refleksi Yeremia 17 : 7-8 oleh: Ferdi Aryanto Babu

    Janji Tuhan”, Refleksi Yeremia 17 : 7-8 oleh: Ferdi Aryanto Babu

    Ferdi Aryanto Babu – Komisariat Salam GMKI-Kupang

    Penulis : Ferdi Aryanto Babu (Komisariat Salam)

    Firman : Yeremia 17 : 7-8

    “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”.

    Tuhan memberikan janji-Nya kepada orang percaya. Firman-Nya, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN.” Berkat di sini adalah berkat yang turun dari Allah bagi manusia, yaitu segala sesuatu yang baik. Allah menyatakan diri-Nya sebagai sumber berkat dan Ia senang memberkati umat-Nya. Abraham adalah salah satu contoh orang yang diberkati Tuhan.

    Nats kita juga mengungkapkan syarat agar kita diberkati oleh Tuhan. Pertama, mengandalkan Tuhan. Ketika mengandalkan Tuhan, kita perlu percaya dengan teguh kepada Tuhan. Kita harus yakin bahwa Tuhan dapat dipercaya. Percaya kita kepada Tuhan juga harus disertai pengetahuan bahwa Allah sanggup melakukan segala perkara. Tuhan yang kita percayai adalah Tuhan yang Mahakuasa dan tidak pernah mengecewakan. Dalam segala hal yang kita hadapi, bagian kita adalah tetap percaya. Kedua, menaruh harapan kepada Tuhan. Seseorang akan menerima janji Tuhan apabila ia menaruh harapannya kepada Tuhan dengan keputusan yang bulat. Jika percaya berbicara tentang masa sekarang, harapan menunjuk pada masa mendatang. Kita tidak mengetahui hari esok. Namun sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi, kita yakin Tuhan yang mengatur hari esok. Rancangan Tuhan adalah masa depan yang penuh harapan. Tidak ada kehidupan masa depan yang lebih baik dari yang disiapkan oleh Tuhan bagi kita. Tidak ada yang dapat menggagalkan rancangan Tuhan, asalkan kita menaruh harapan kepada-Nya.

    Kehidupan orang yang diberkati Tuhan digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Akarnya bertumbuh ke arah sumber mata air. Di saat musim kering, selalu mendapatkan air. Sumber air yang hidup adalah Tuhan (Yeremia 17:13). Jika kita dekat dengan Tuhan sebagai sumber kehidupan, maka kita tidak takut menghadapi tahun kekeringan. Orang percaya yang mengandalkan Tuhan tidak akan berhenti berbuah. Tuhan setia dan Mahakuasa. Apapun yang kita hadapi, tetap letakkan hidup dan masa depan kita kepada Tuhan. Tuhan menyediakan jauh lebih banyak untuk segala sesuatu di masa sekarang, mendatang bahkan hingga kekekalan. Mari kita tetap percaya dan berharap kepada Tuhan yang suka memberkati umat-Nya. Doa: “Tuhan Yesus, janji-Mu itu Ya dan Amin. Aku percaya Engkau pasti memberkatiku sesuai dengan janji-janji-Mu. Amin. “UOUS”

     “YESUS AIR HIDUP” REFLEKSI DARI YOHANES 4:1-14

     

     “YESUS AIR HIDUP” REFLEKSI DARI YOHANES 4:1-14 OLEH: FLORIT P. TAE

    Florit P. TaeKetua Cabang GMKI Kupang

    Saudara-saudara, mengawali perenungan dan refleksi ini, masing-masing membacakan salah satu nats dalam teks Yohanes 4:13-14. Dan sesudah itu, mari ambil waktu untuk ada dalam momen hening.

    Jawab Yesus kepadanya: Barang siapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barang siapa minum air yang akan kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.  (Yohanes 4:13-14).

    Selama ini, para penafsir menjelaskan dengan sangat luas makna dari cerita perjumpaan Yesus dengan Perempuan Samaria. Banyak ahli Tafsir yang mengatakan bahwa cerita ini hendak menggambarkan sikap kemanusiaan Yesus yang bisa haus akan air. Para teolog dan bapa-bapak gereja menggunakan cerita ini sebagai salah satu cerita Alkitab yang menegaskan hakekat Kemanusiaan Yesus. Tetapi, banyak Teolog juga yang menggunakan cerita tersebut untuk menerangkan sikap Yesus yang bersolider dengan Perempuan tertindas, orang-orang yang diasingkan, termarjinalkan dan seterusnya dan sebagainya. Memang, Keterangan-keterangan tersebut tentu, tidak salah.

    Bukankah cerita perjumpaan Yesus dan Perempuan Samaria adalah bentuk solidaritas Yesus dengan orang asing yang termarjinal?, bukankah cerita tentang Yesus yang haus merupakan cerita yang menarik kita untuk mengenal Yesus sebagai  sahabat? Bukankah cerita itu juga hendak mengarahkan kita pada pengakuan bahwa Yesus sebagai Manusia Sejati?

    Namun, tepat seperti dialog menarik yang terjadi antara Yesus dan Perempuan itu,  Yesus berkata: Berilah Aku Minum!, Sang Perempuan menjawab dengan terheran-heran, :Masakan Engkau seorang Yahudi minta minum kepada ku, seorang Samaria? Lantas dengan penuh kuasa dan kasih yang tulus Yesus berkata: Jikalau engkau tau tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu “Berikanlah Aku minum” Niscaya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.

    Bagi saya, Yesus menunjukan dirinya sebagai seorang Penjamu. Cerita ini, tidak hanya hendak memberi penegasan bahwa  Yesus adalah Manusia yang bisa haus, juga tidak hanya bercerita tentang Yesus bersolider dengan Perempuan dan orang-orang termarjinal. Tetapi, cerita ini juga hendak menegaskan bahwa Yesus adalah Tamu bagi perempuan samaria dan sekalaigus sebagai “penjamu” bagi perempuan Samaria yang termarjinal itu. Yesus sedang mengajarkan sebuah Teologi yang amat penting bagi kita yakni Teologi Jamuan.  

    Saya mengambil istilah “Jamuan” ini dari Leonardo Boff, Teolog Fransiskan dari Brasil. Baginya, Yesus itu sangat solider dengan mereka yang kecil, lemah, termarginal. Leonardo Boff mrnulis dengan sangat indah dalam sebuah bukunya Jesus Christ Liberator :

    Yesus tidak menawarkan air dari Sorga yang jauh disana lalu mengundang manusia untuk berusaha menjangkaunya, pada hal sudah pasti manusia tidak dapat meraihnya. Air itu yang kini turun, menerobos pekatnya dosa dan memasuki ruang dahaga manusia.[1]

    Boff sesungguhnya secara terbuka ia mau menegskan bahwa Yesus tidak hanya penyedia air hidup, tetapi Yesus adalah air hidup itu sendiri. Di dalam diri Yesus kita menemukan Air yang sangat sejuk itu, di dalam diriNya kita menemukan pelepas dahaga itu. 

    Perempuan Samaria itu, sesungguhnya merupakan seorang yang haus, seorang yang sedang berjalan dalam padang gurun yang amat terik. Ia berjalan sendirian. Perempuan Samaria itu tidak ditemani oleh suaminya, Perempuan itu tidak ditemani oleh orang-orang sekitarnya. Ia bahkan kehabisan penyejuk. Oleh karena itu, Yesus berbicara soal Air Kehidupan karena Yesus Tau bahwa Perempuan itu membutuhkannya. Ia membutuhkan Yesus sebagai satu-satunya penyejuk. Ia membutuhkan teman seperjalanan ketika menumpuh gurun hidup yang panjang, penuh hinaan, stigma dan seterusnya dan sebagainya. Yesus menjamu perempuan itu dengan Air yang kerap Ia sebut Air Hidup. Oleh karena itu, spiritualitas seperti apa yang mesti diterapkan?

    Izinkan saya menutup dengan beberapa pemikiran dan refleksi yang memang masih tercerai-berai, namun semoga memberikan petunjuk konkret bagi kita semua dalam menghidupi Teologi Jamuan:

    1. Yesus adalah Air Hidup, jika engkau sedang dahaga, lelah karena Tugas Kuliah, masalah Keluarga, masalah pacaran dan seterusnya dan sebagainya, datanglah kepada Yesus mintalah segelas air penyejuk tuk menyejukkan dahagamu.
    2. Menjadi Penjamu, bukanlah sebuah tanggung jawab yang mudah. Menjadi penjamu, membutuhkan kerelaan, ketulusan. Dan tentu harus selalu belajar dari sang Penjamu ulung Yesus Kristus.
    3. Anak-anak GMKI adalah kumpulan orang Asing, berbeda suku, latar belakang status sosial, beda kampus, beda pikiran dan seterusnya. Namun, sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk kita melatih diri menjadi penjamu yang baik. Kita kerap dibutuhkan untuk menjadi sahabat berbagi, oleh karena itu, jadilah pribadi seperti Air yang Menyejukkan. Selalu berupaya menghidangakn kesejukan bagi siapa saja yang dijumpai.
    4. Hanya dengan spiritualitas semacam itu, kita dapat belajar mencintai Yesus sang Air Hidup kembali, mencintai diri sendiri kembali, dan mencintai dunia kembali.

    Demikian refleksi yang dapat saya bagikan. Terima kasih.

    [1] Leonnardo Boff.

    Makna dan Tujuan Hidup

    MAKNA DAN TUJUAN HIDUP

    Mardila Kebkole/Komisariat STIM GMKI Kupang

    Oleh: Mardila Kebkole (Komisariat STIM)

    Firman Tuhan: 1 Korintus 10:31

    Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10 :31

    Manusia di dunia ini bukan sekedar untuk hidup, namun ada satu tujuan yang harus ditempuh dalam kehidupannya.

    Makna hidup adalah sesuatu yang dipandang penting, dirasa berharga dan diyakini sebagai sesuatu yang besar serta dapat dijadikan tujuan hidup.

    Memiliki tujuan hidup yang benar berarti memiliki cita-cita yang jelas dan sasaran yang tepat dalam menjalankan sesuatu.

    Jika demikian, apa tujuan kita sebagai anak Tuhan? Bagi orang percaya pencapaian cita-cita, kedudukan, kesuksesan bukanlah tujuan hidup yang utama, semua itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih utama.

    Tujuan utama dan tujuan tertinggi adalah memuliakan nama Tuhan. Konsep memuliakan Allah dalam hidup orang Kristen harus menjadi etos hidup, yang menuntut dan menggerakkan orang percaya kepada suatu cara hidup yang betul-betul menyenangkan hati Allah.

    Oleh sebab itu, mari kita mulai mengarahkan hidup kita pada tujuan yang paling utama yaitu memuliakan Tuhan.

    ”Kita jadikan memuliakan Tuhan sebagai sebuah gaya hidup. Sehingga apapun yang kita lakukan dengan perkataan dan perbuatan haruslah untuk kemuliaan Allah. Dengan sendirinya kita akan berada pada proses hidup yang dikehendaki Allah. Kita akan memberikan yang terbaik dengan cara-cara terbaik untuk menghasilkan hidup yang memuliakan Allah.” Jangan lupa bersyukur untuk nafas kehidupan yang Tuhan berikan sampai detik ini, Amin. “UOUS”

    Berawal Dari Mimpi

    Berawal Dari Mimpi

    Yanti C. Adu/Komisariat STIM GMKI Kupang
    Oleh: Yanti C. Adu (Komisariat STIM)

    Firman Tuhan: Amsal 16:1-33

    “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” (Amsal 16:9) ayat inilah yang menjadi renungan untuk kita.

    Setiap kita(manusia)pasti memiliki segudang rencana dan impian. Salah satu impian banyak orang adalah meraih keberhasilan. Mungkin ada banyak rencana, harapan dan impian yang kemarin belum berhasil diwujudkan, karena itu kita bertekad untuk menggapainya di lembaran-lembaran hari berikutnya di yang akan datang

    Apa yang menjadi mimpi Saudara?

    Mimpi artinya memiliki sesuatu dalam pikiran sebelum diwujudkan menjadi sebuah kenyataan. Mimpi semacam ini bukanlah sekedar buah tidur, melainkan mimpi yang di dalamnya terkandung harapan, kerinduan dan cita-cita untuk memiliki sesuatu atau mencapai sesuatu, yang terkadang sulit dipahami secara akal sehat kita.

    Inilah yang disebut mimpi besar atau berpikir besar!

    Jika kita sedang mengembangkan kemampuan dalam bermimpi dan berpikir besar, berarti kita sedang berpikir sebagaimana Tuhan berpikir. Ingat! Segala sesuatu atau apa yang berhasil diwujudkan oleh setiap orang semuanya berawal dari mimpi, yang ditanamkan Tuhan dalam hati dan pikirannya. Contoh: Yusuf mendapatkan mimpi bahwa kelak ia akan menjadi seorang pemimpin besar (baca Kejadian 37:7-9). Seiring berjalannya waktu, mimpi itu pun menjadi kenyataan, sekalipun untuk menggapainya butuh waktu yang tidak singkat dan melalui proses pembentukan yang teramat menyakitkan.

    Jangan pernah takut bermimpi! Seseorang dalam bukunya berkata “Jika berpikir besar menghasilkan begitu banyak, mengapa tidak semua orang berpikir seperti itu?” Ingat, mimpi akan tetap menjadi mimpi, tidak pernah menjadi kenyataan, bila tidak disertai dengan usaha dan kerja keras. Ada harga yang harus dibayar, sebab tidak ada berkat yang langsung turun dari langit. Karena itu dalam segala hal dan di setiap kerinduan kita hendaknya kita senantiasa melibatkan Tuhan dan mengandalkan Dia. Kita lakukan semaksimal mungkin apa yang menjadi bagian kita, dan kita serahkan kepada Tuhan apa pun yang tidak sanggup kita perbuat.

    Sekalipun punya mimpi besar, tapi tanpa ada upaya meraihnya, hanya akan jadi bunga tidur! Kirannya Tuhan Yesus Sang kepala Gerakan memberkati kita dalam segalah impian dan cita-cita kita, Amin. “UOUS”

    MELAYANI DENGAN HATI HAMBA

    MELAYANI DENGAN HATI HAMBA

    Mardila Kebkole/Komisariat STIM GMKI Kupang

    Oleh: Mardila Kebkole (Komisariat STIM)

    Firman Tuhan: Yesaya 49:1-7

    “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Yesaya 49:3

    Dunia mendefinisikan kebesaran seseorang ketika berkedudukan tinggi, kaya raya dan juga terkenal. Ketika ia mampu memerintah orang lain atau meminta pelayanan orang lain itu menunjukkan ia adalah orang ‘besar’. Tetapi Tuhan Yesus justru mengajarkan hal yang jauh berbeda, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” (Markus 10:43-44). Tuhan mengukur ‘kebesaran’ seseorang bukan berdasarkan status sosial, popularitas atau kuasanya, namun berdasarkan berapa banyak orang yang sudah ia layani. Inilah yang tidak disukai oleh kebanyakan orang karena mereka maunya dilayani, bukan melayani. Kita cenderung ingin dihormati, dihargai, diutamakan dan dianggap penting. Kita ingin jadi pemimpin dan bukan hamba.

    Rasul Paulus menasihati, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7). Tuhan Yesus sendiri menyebut diri-Nya sebagai hamba, bahkan Ia rela melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dipandang remeh dan rendah oleh kebanyakan orang, seperti membasuh kaki murid-murid-Nya, “Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.” (Yohanes 13:4-5); Ia dekat dengan orang-orang ‘kecil’ dan punya empati tinggi terhadap orang-orang yang membutuhkan: menyembuhkan orang buta, mentahirkan orang kusta, membebaskan orang kerasukan setan dan sebagainya.

    Hamba sejati selalu melihat kesempatan menolong orang lain. Tidak ada yang lebih rendah dibandingkan apa yang telah Yesus perbuat, karena Dia datang memang untuk melayani, bukan minta dilayani.

    Dia melayani justru karena kebesaran-Nya, karena itu kita wajib meneladani Dia. Kiranya Tuhan YESUS Sang Kepala Gerakan memberkati, Amin. “UOUS”

    Scroll to Top