Info GMKI Kupang

kesesakan masa kini: tanda-tanda pembaharuan bangsa: oleh: florit p. tae (ketua gMKI cabang kupang)

Kesesakan Masa Kini: Tanda-tanda Pembaharuan Bangsa; Oleh: Florit P. Tae (Ketua GMKI Cabang Kupang)

Kesesakan masa kini: tanda-tanda pembaharuan bangsa; oleh: Florit Tae (Ketua GMKI Cabang Kupang)

Refleksi Kritis terhadap fenomena pembusukan kekuasaan, hilangnya Malu Spiritual dan mastinya MADILOG

Oleh: Florit P. Tae (Ketua GMKI Cabang Kupang)

Bangsa Ini sedang Sakit. Entah Sakit karena sudah tiba saatnya pembusukan harus terjadi sebagaimana diucapkan berulang kali oleh Rocky Gerung dalam banyak Kesempatan, atau sakit karena “Malu Spiritual” menghilang dari masyarakat yang taat beragama tapi lupa Ber-Tuhan apalagi Beriman. Bangsa ini benar-benar sakit, mungkin juga karena tidak lagi mengindahkan “Madilog” sebagaimana gagasan yang disodorkan salah satu bapak Revolusi Indonesia, Tan Malaka.

Tanda-tanda sakit itu antara lain, Virus Abuse of Power merajalela sampai lahan-lahan yang paling sempit dan kecil. Homo homini lupus est menjadi tontonan masyarakat kecil. Hasrat kekuasaan, kekayaan, kehormatan memerintah dengan tangan besi di dalam diri. Kebisingan propaganda para baser mengganggu telingan dan menampilkan kedangkalan kadar intelektual.

Bangsa ini benar-benar sakit. Banyak Kasus menohok berebut panggung untuk tampil di ruang publik jadi objek tontonan sesama anak bangsa, bahkan masyarakat global. Orang-orang baik dan berintelek seperti Edy, Firli Bahuri, Joni Plate, Anwar Usman, dan rentetan nama lainnya terjerat kasus yang beragam. Pada intinya, kasus-kasus yang menyandera mereka adalah kekejian bagi negara demokratis yang berabad-abad menjunjung nilai keadaban.

Dalam media masa, kita amati penguasa bermain-main dengan Kekuasaanya. Para Elit saling Curiga, lantaran saling bermain “petak umpet” demi kekuasaan dan menguasai. Itulah fakta publik Indonesia hari-hari ini. Memang kita berharap, jika situasi belakangan terjadi sebagai puncak dari pembusukan “sampah-sampah” kekuasaan, maka biarlah terjadi lebih cepat agar bangsa ini memulai yang baru. Yang baru mungkin lebih baik.

Jika, peristiwa yang terjadi hari-hari ini (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) merupakan sebuah pertanda hilangnya “Malu Spiritul”, maka biarlah ini menjadi titik akhir dan titik Awal kita mulai sadar untuk tidak hanya taat beragama, tapi perlu taat Ber-Tuhan dan Beriman. Sebab, kasus-kasus heroik yang terjadi, mempertontonkan negara yang sesungguhnya berdiri atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak punya rasa Malu. Ketika tampil di media (ruang Publik) selalu dengan senyuman, berpidato menebar janji dan harapan yang jelas-jelas Palsu. Segala skenario menutupi miliaran tindakan buruk di belakang layar.

Kita harus terus bertanya, jika fenomena para elit dan masyarakatnya yang menebar kebencian, ketakutan,  hoaks, merancang segala sesuatu karena elektabilitas dan bukan kapasitas merupakan tanda-tanda matinya Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika), maka biarkan semua ini menjadi refleksi, agar sekiranya kita kembali menjadi bangsa yang cerdas. Sebab, bangsa yang besar dan bermartabat harus melihat segala sesuatu, merespon segala sesuatu dengan berdasar pada fakta dan bukan hoaks.

Bangsa ini harus merespon segala sesuatu dengan Dialog dan bukan ujaran kebencian, apalagi mengintimidasi atas nama otoritas kekuasaan. Bangsa ini pada sisi lain, harus menganalisa segala sesuatu dengan logika dan bukan mengkiti saja para elit yang menebar janji dan motivasi, namun membabi buta merampas kekuasaan demi pribadi dan kelompok.

PEMBUSUKAN SEDANG TERJADI

Dalam ilmu biologi, Pembusukan merupakan suatu proses alamiah yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa adanya pembusukan yang melepaskan karbon dari organisme mati, karbon akan terus berkurang. Akibatnya akan semakin berkurang bahan baku untuk kelahiran organisme baru. Sehingga, proses pembusukan memainkan peran kunci dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem di bumi. Proses pembusukan adalah untuk mencegah penumpukan organisme mati.

Jika suatu bangsa telah dipenuhi “sampah-sampah” dengan wajah korupsi, kolusi dan nepotisme, maka perlu adanya upaya “pembusukan” oleh gerakan Civil Society. Sebab, sangat sulit tugas “pembusukan” itu dijalankan oleh pemerintah atau penguasa. Penguasaa kerap kali “berselingkuh” dengan oknum-oknum berintelektual, oligarki dan kaum kapitalis, sehingga upaya pembusukan itu hanyalah narasi, bahkan penindakan tanpa mencabut akar-akarnya. Penguasa kerap kali melakukan “pembusukan” tergantung pada orderan, bahkan bergantung pada apakah oknum yang hendak “digiling” musuh atau kawan. Oleh karena itu, “Pembusukan” mesti diambil alih oleh masyarakat akar rumput (Wong Cilik) melalui gerakan Civil Society.

Sejarah dunia mencatat bahwa orang jahat, penguasa arogan yang terorganisir akan mengalahkan orang baik, masyarakat kecil yang tidak terorganisir. Penguasa akan memenangkan pertarungan karena mereka memiliki seperangkat fasilitas untuk menipu dan menghasut masyarakat miskin dan kecil. Jika menghasut dengan narasi propaganda yang diciptakan oleh penguasa, aktor-aktor politik sombong, maka hegemoni pada saat yang sama menyusup masuk dalam nadi masyarakat rentan. Oleh sebabnya, kesadaran harus dibangkitkan. Kekritisan harus dihidupkan kembali.    

Melihat beragam dinamika dan kontestasi di bangsa kita hari-hari ini, maka tidak berlebihan bila kita harus berharap pembusukan segera terjadi. Pembusukan bila perlu terjadi lebih cepat lebih baik. Sebab, indonesia akan menyambut masa emas dan hadirnya bonus usia produktif anak-anak bangsa di tahun 2045. Pembusukan terjadi sekaranga, dengan demikian kematian aroganisme para elit dan kepentingan diri para penguasa terurai.

“MALU SPIRITUAL” MENGHILANG DALAM SAMUDRA RAYA KEKUASAAN

“Malu Spiritual” merupakan perasaan batin manusia yang muncul tatkala keinginan untuk melanggar nilai-nilai, prinsip-prinsip etis-moral atas dasar kepentingan apapun. “Malu Spiritual” pada satu sisi merupakan perasan yang mengontor sikap dan perilaku seseorang dalam menjalani hidup bersama di ruang publik. Sedangkan,  pada sisi yang lain perasaan ini membuat orang merasa bersalah, malu dan menuntut seseorang untuk mengungkapkan kebersalahannya di depan publik.

Di Indoensia hari-hari ini, “Malu Spiritual” menjadi fenomena yang langka, bahkan sulit kita jumpai dalam ruang publik kita. Banyak aktor politik, pejabat-pejabat negara selalu tampil dengan senyum di depan kamera yang menyorot, kendati menjadi tersangka dalam kasus-kasus korupsi, Nepotisme dan sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa “Malu Spiritual” tidak ada pada diri para “penjahat” ini. Semua merasa baik-baik saja, kendati tindakan mereka merugikan negara, merampas hak-hak masyarakat miskin, bahkan mematikan demokrasi.

Fenomena yang terjadi sekarang disebabkan oleh hasrat untuk menguasai (berkuasa dibidang Ekonomi, hukum, politik dan sebagainya). Yang kaya merasa perlu menambah kekayaan dengan cara korupsi, menerima suap dan lain-lain. Mereka yang sudah berkuasa ingin mempertahankan kekuasaan dengan cara nepotisme dan seterusnya. Lebih lanjut, fenomena “Malu Spiritual” menghilang, karena terkesan hukum tumpul keatas, tajam kebawah. Masyrakat kecil menjadi sasaran empuk hegemoni politik, hukum dan ekonomi. 

Dalam situasi yang demikian, perlunya pembaharuan yang radikal. Negara mesti meciptakan hukum yang ekstrim tegas (seperti memiskinkan, memecat, menghapus hak –hak politik seumur hidup dll.,). Selain negara, lembaga-lembaga keagamaan pun mesti melakukan pendampingan “Pastoral” yang intens dan tidak disandera oleh rasa segan dan sungkan yang palsu.

SUARA “MADILOG” MENYERUAK DI UDARA, TERHALAU NAPSU POPULARITAS

Seiring perkembangan peradaban manusia, teknologi Informasi menjadi sarana untuk membaca, mengetik, mengirim dan mempropaganda. Semua orang menguji kecepatan jari dan menarik sebanyak-banyaknya Viewers tanpa memperhatikan kualitas konten. Kadar kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual “dibunuh” oleh banyaknya pembaca dan pengikut. Alhasil, tindakannya membuat luka pada bangsa ini.

Ruang publik Indonesia saat ini menampilkan secara vulgar bahwa Masyarakat tidak lagi memfokuskan perhatian pada fakta-fakta (Materialisme), sehingga apa yang dibaca, diketik, dikirim bukanlah konten atau informasi yang valid dan mendidik. Ketika menerima berbagai informasi propaganda, masyarakat tidak lagi mempertimbangkan dengan hati yang bersih, melainkan merespon dengan beragam ujaran kebencian pada sesama anak bangsa (Dialektika). Setiap detik pemberitaan yang masuk dalam “dunia yang digenggam”, baik ujaran kebencian, doktrin-doktrin sesat dan sebagainya, masyarakat tidak mempertimbangkan dengan pikiran yang jernih dan sejuk (Logika).

Jika bangsa ini terus seperti ini. Tidak ada pembaharuan yang masif dan serius oleh kaum intelektual dan tokoh-tokoh publik, maka kesakitan bangsa ini akan semakin parah. Virus kebodohan akan menjalar di seluruh tubuh bangsa ini. Organ-organ tubuh bangsa Indonesia yang seharusnya berfungsi menyalurkan makanan yang sehat dan bergisi diserang dan dihancurkan oleh virus yang tak kasat mata itu.

“MADILOG” adalah gagasan yang perlu diinternalisasikan kembali. “MADILOG” harus menjadi konten pembelajaran bagi seluruh masyarakat yang miskin, maupun yang kaya. Yang berjabatan tinggi maupun yang pemulung dijalanan. Sebab, hanya dengan menghidupkan “MADILOG”, bangsa ini perlahan-lahan sembuh dari sakit. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak terluka. Melainkan ia yang berupaya mencari obat penawar sekaligus membersihakan luka-lukanya untuk sembuh dari sakit.

TANDA-TANDA PEMBAHARUAN MUNCUL DALAM KESESAKAN MASA KINI.

Dunia Bergerak seperti sebuah misteri yang tidak kita pahami. Tapi, kita akan selalu menemukan ruang yang mengantarkan kita pada jawaban-jawaban, harapan-harapan, mimpi-mimpi yang kita cari. Secara Spiritual-Teologis, kita perlu mempertimbangkan apa yang diucapkan oleh Teolog besar Indonesia, Eka Darmaputra; “Allah Tak Hanya berbisik melalui pengalaman-pengalaman kita yang menyenangkan. Allah tidak hanya berbicara melalui getaran-getaran kesadaran hati nurani kita. Namun, Dia juga berteriak keras-keras melalui kesakitan-kesakitan, luka-luka bangsa, bencana etis-moral sosial, dan penderitaan-penderitaan publik. Semuanya itu adalah Megafon Allah bagi bangsa Indonesia.”

Refleksi kita, sebagai bangsa yang dituntun oleh Prinsip-prinsip agama, berdasar pada nilai-nilai ketuhanan dan berakar pada iman yang utuh kepada KeTuhanan Yang Maha Esa, maka perlu sampai pada kesadaran bahwa semua Kesesakan masa kini yang dialami bangsa ini adalah suara Tuhan bagi bangsa yang dijanjikan ini.

Bangsa ini, dengan melihat berbagai fenomena yang terjadi, seharusnya kita mulai jujur bahwa mungkin selama ini kita beragama, tapi tidak berTuhan, apalagi beriman. Karena itu, nilai-nilai etis-moral, kesadaran akan makna demokrasi kerakyatana mulai memudar, bahkan nyaris menghilang dari wajah bangsa ini. Sebagai anak bangsa yang hidup dalam pengharapan, pembaharuan harus dimulai. Pembaharuan harus diupayakan dengan melakukan “pembusukan” masal, menghidupkan kembali kesadaran “Malu Spiritual”, dan mengindahkan kembali “MADILOG”. Dengan itu, bangsa Indonesia akan menjadi negara maju, sekaligus beradab. Menjadi negara adikuasa, sekaligus hidup dalam komunalisme dan bukan indiviualisme.

SEBUAH SUMPAH UNTUK BANGSA DAN NEGERIKU, oleh: Florit P. Tae

SEBUAH SUMPAH UNTUK BANGSA DAN NEGERIKU, oleh: Florit P. Tae

refleksi hari sumpah pemuda 28 Oktober 2023 oleh Florit P. Tae

“Kami pemuda-pemudi bersumpah; Berpolitik Etis dan adab, berdemokrasi kerakyatan, melawan Domestikasi Politik kepentingan atas nama persatuan. Kami Pemuda-pemudi bersumpah; mendidik bangsa dan Negeri dengan ide dan karya, melawan kendaraan politik yang bersuara menarik belas kasihan. Kami Pemuda-pemudi Bersumpah; Berbakti tulus demi tanah terjanji Indonesia Merdeka.”

Ketika Nusantara dijajah oleh bangsa yang mencintai Imperialisme dan kolonialisme, para pemuda gerah karena Imperialisme dan kolonialisme adalah duri dalam daging yang mencabik dengan perih tanpa mengingat air mata, keringat dan darah yang mengalir dari tubuh yang kecil dan tulang yang kering. Dengan penuh gairah dan keberanian, kendati nyawa dan tubuh terancam senjata laras Panjang, para pemuda berkumpul dari berbagai wilayah Nusantara dalam kongres Pemuda 27-28 Oktober 1928 yang kemudian melahirkan sebuah sumpah monumental yang menampilkan sebuah pertunjukan tetrikal yang luar biasa menggetarkan. Sumpah itu monumental sebagai sebuah akta spiritual-filosofis yang digagas oleh pemuda-pemudi yang senasib sepenanggungan. Sebab, saat itu masih terpecah belah, belum memahami arah perjuangan menuju Kemerdekaan.

Waktu berlalu, perjuangan bersama terus digerakan, berbagai strategi tercipta dengan satu harapan Indonesia mencapai jembatan emas (Kemerdekaan). 17 Agustus 1945 tiba, disambut ribuan masa berteriak “Bendera harus berkibar, lagu Kebangsaan harus dikumandangkan, teks proklamasi harus dibacakan” dan Bung Karno dalam keadaan sakit dan dengan suara tersendat ia mengucapkan naskah proklamasididepan Istana Merdeka. Peristiwa bersejarah dan menyejarah ini tidak dapat dilepaskan dari perjuangan pemuda. Namun, hari proklamasi kemerdekaan bukan akhir perjuangan bangsa dan pemuda Indonesia. Hari itu menurut Bung Karno adalah sebuah jembatan Emas untuk mencapai Indonesia Merdeka yang sungguh-sungguh Merdeka (Merdeka dari kemiskinan, ketimpangan sosial-ekonomi-politik, lemahnya sumber daya manusia, dan sebagainya). Kemerdekaan ini derengkuh dalam mandat Sila-sila Pancasila yang digagas sebagai falsafah bangsa. 

Indonesia menjadi sebuah bangsa Besar, bangsa dengan spirit Demokrasi yang luar biasa popular, spirit tersebut digemakan oleh seluruh rakyat miskin dan kaya, berpendidikan tinggi maupun rendah, berdasi maupun tidak berdasi. Sebauh menggemakan demokrasi dalam setiap tarikan nafas mereka. Namun, apakah system Demokrasi yang dimaksudkan bukan demokrasi Langsung, demokrasi representatif, demokrasi dpresidensial, demokrasi parlementer, demokrasi partisipatif, demokrasi islam, maupun demorasi sosial. Demokrasi yang dimaksud dan sejogyanya diterapkan adalah Demokrasi Kerakyatan. Inilah Prinsip Demokrasi yang dimaksudkan oleh Bung Hatta dan ditekankan oleh Bung Karno dalam Teks Pancasila. Atau dengan kata lain, Demokrasi Indonesia adalah Demokrasi yang berakar dan berdasar pada Pancasila (Demokrasi Kerakyatan/Demokrasi Pancasila).

Kini, sebagai Pemuda perlu bertanya, apakah realitas hari-hari ini adalah kita tengah berjalan menuju Indonesia Merdeka yang sungguh-sungguh Merdeka? Apakah system Demokrasi yang sedang digembar-gembor adalah demokrasi Kerakyatan? Apakah kaum Tua pemegang kendali Kendaraan Politik sedang Mencontohkan demokrasi? Apakah mereka yang katanya berpengalaman percaya pada kaum muda? Apakah realitas politik kita hari ini sudah berjalan baik tanpa iming-iming kampanye yang beraroma agamis? Dan masih ada banyak pertanyaan lainnya yang perlu kita minta dipertanggungjawabkan. Tapi, rasanya semua pertanyaan jikadiuraikan, bahkan dunia ini tidak mampu menampung pertanyaan-pertanyaan kita.

PEMUDA, DEMOKRASI DAN POLITIK 

Politik merupakan suatu usaha untuk mencapai sebuah kehidupan Masyarakat yang lebih baik, dan politik dalam bentuk yang paling baik ialah usaha dalam mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan. Karena itu, sebagaimana direnungkan oleh Johanes Leimena, “Politik adalah etika untuk melayani dan bukan alat untuk berkuasa”. Tentu yang dimaksudkan oleh Leimena adalah jika menjadi politisi, mendapatkan jabatan structural dalam politik, disitulah anda berkesempatan untuk melayani, dan pelayanan anda tidak terbatas pada keluarga, kelompok, melainkan banyak orang dan sekaligus berpegang pada keadilanekologis, humanis, keadilan hukum dan seterusnya. Bukan sebaliknya, kesempatan duduk pada jabatan politik, mendapatkan kekuasaan dari rakyat, lalu anda menjadi penguasa yang memperdaya dan bukan memberdayakan orang lain. Politik adalah Etika dalam kerangka ideal adalah mempertahankan kekuasaan, mengambil kekuasaan dengan cara yang etis-pancasilais, dengan mengabdi pada demokrasi berkerakyatan yang adil dan beradab. 

Pada kerangka politik yang ideal ini, Demokrasi Kerakyatan mendapat tempat yang paling special dan harus diagungkan. Hal-hal yang mengenai politik dinasti, politik kepentingan kelompok, kendaraan politik yang angkuh dan mendomestikasi seluruh pengikutnya untuk tunduk dan taat pada keputusan ketua umum harus dihindari dan jangan sekali-kali bicara atas nama demokrasi dan mendesain strategi politik belas kasihan demi merayu rakyat yang kecil. Politik yang demikian adalah benalu bagi bangsa dan Negara.Selanjutnya, politik juga akan menjadi benalu, bila para pemain dipanggung politik bergerak dan “menjual diri” atas nama identitas agama. Pertunjukan yang demikian cukup meraja lela dalam ruang public Indonesia yang pancasilais ini. Pemuda harus melawan dengan cara yang etis dan provisional.  

Peran pemuda penting, sebab masih sangat detail mencatat perjuangan para pemuda yang berjuang secara politik-demokratis untuk memperjuangkan kemerdekaan serta menciptakan demokrasi yang berkeadilan. “Pemuda adalah tulang punggung dan penentu arah bangsa” bukanlah semboyan tanpa spirit, bukan juga semboyan tanpa eksistensi. Semboyan itu adalah benar-benar nafas yang menghidupkan politik dan demokrasi berintegritas. Dengan berucap demikian, tidaklah berarti pemuda menafikan perjuangan kaum Tua, atau menyangkali kebijaksanaan mereka yang tua. Gerak Langkah kaum tua yang dinamis telah mencapai puncaknya dan seharusnya mereka mengakhiri perjalanan Panjang dan bersenayamlah sebagai penasehat yang bijak dan bukan menjadi generasi yang mencipta otoritarianisme. Regenerasi dan pengalihan mandat harus bergerak menuju pemuda, dan biarkan mereka menyambutnya untu bergerak maju. Sebab, pemuda selau bergerak secara dinamis. Politik digenggam oleh kaum muda, ditangan mereka akan menabur benih demokrasi yang sejalan dengan spirit Pancasila. Jika ada pemuda yang bertindak sebaliknya, maka ia adalah manusia yang Amnesia History. Gerak langkahnya harus dipenjara untuk mendapatkan Pendidikan yang layak. 

Pemuda, Demokrasi dan Politik adalah gagasan yang dinamis. Pemuda adalah sel-sel aktif yang berperan untuk menciptakan kesejahteraan bangsa dan negara. Kendati demikian, pemuda harus diperkaya dengan ide dan gagasan dalam karya dan pelayanan. Pemuda harus terus merestorasi pikiran dan kapasitas. Sebab, pemuda hanya akan menjadi harapan yang tepat, bila ia melepaskan diri dari kesombongan dan individualistis, kecerobohan dan keberanian yang membuta, serta kepakaran yang mati dan terhanyut oleh kepentingan sesaat.

PEMUDA, IDE DAN KARYA

Pada tahun-tahun perjuangan menuju kemerdekaan, pemuda menggagas banyak terobosan. Semangat untu berkumpul dan mendiskusikan hal ihwal terkait bangsa dan negara dilakukan secara massif dan terstruktur. Pemuda-pemudi dengan mempertaruhkan segalanya, mereka berjuang tanpa lelah, memeras otak, tenaga dan psikis karena mimpi dan harapan harus terwujud. Imperialisme dan kolonialisme harus dilawan. Sebab, spirit pemuda adalah dinamis dan aktif. 

​Pertunjukan teatrikal supah pemuda 1928, perjuangan memproklamirkan kemerdekaan 1945, Upaya mengembalikan demokrasi dimasa-masa orde baru 1998, sampai menyambut bonus domografi 2045, semuanya ditangan pemuda. Pemuda mampu menciptakan peralatan untuk membawa Indonensia menyambut kemerdekaan yang sungguh-sungguh memerdekakan. Segalanya ada ditangan pemuda. Oleh karena itu, pemuda harus memiliki Ide, harus inovatif, harus memiliki mimpi jangka Panjang, harus berani menciptakan karya yang berdampak universal, harus memiliki perspektif global dan humanis. Jika tidak maka ide hanya akan mengendap dalam tanah kering yang sedang diolah kaum tua yang picik, namun bersuara atas nama kemaslahatan bangsa. 

​Sebagai pemuda, mari kita amati bangsa dan Negra yang kita cintai. Mari kita terbuka dan jujur bahwa bangsa kita, sedang digenggam oleh kaum tua sebagai pengendali kendaraan politik. Mereka kerap bersuara mengutuk lawan atas nama keadilan, seolah mereka dikhinati. Padahal, itu hanyalah suara yang menyeruak diudara, menarik simpati, memainkan politik belas kasihan demi dan untuk kepentingan kelompok dan kekuasaan tanpa batas. Mereka tidak sedang mencontohkan demokrasi kerakyatanan, melainkan demokrasi yang dipertontonkan adalah demokrasi belas kasih dan untung-menguntungkan. Banyak pemegang kendali kendaraan politik, merasa dikhinatai lantara berbeda pilihan dan pikiran. Itulah sebabnya, pemuda harus bergerak. Pemuda harus serius. Pemuda harus cerdas dan jeli melihat realitas panggung politik dewasa Ini. Mari kita sadar bahwa kita disuruh bergerak, tapi kaki kita diselimpung. Kita disuruh berdisiplin, sedang mereka mencontohkan yang lain. Mereka menyuruh kita bertindak, tapi setiap tindakan mereka curigai.       

​Sebaliknya, pemuda yang tanpa perjuangan dalam rangka mencapai kekuasaan, melainkan dibentangkan “karpet merah” dan dengan mudah menjejaki panggung kekuasaan adalah pemuda yang pencundang dan tidak layak dianggap sebagai symbol atau representative kaum muda. Sebab, pemuda yang demikian, tanpa perjuangan yang murni dan mendapat kekuasan yang instan, bersuara atas nama demokrasi adalah pemuda yang menyangkal Sejarah Panjang perjungan kaum muda. 

PEMUDA MERAWAT DEMOKRASI, MEWUJUDKAN KEMERDEKAAN

Politik adalah wilayah yang paling keras dan beresiko, karena itu orang-orang muda yang semestinya mengambil bagian di wilayah ini. Sebab, wilayah ini butuh agresifitas yang terukur, keberanian yang inovatif, perjuangan yang total. Politik harus Kembali dalam genggaman kaum muda. Demokrasi harus dirawat oleh kaum muda. Jika pemuda yang bermain dipanggung politik tanpa perjuangan, melainkan sebaliknya menerima estafet karena “Nepotisme”, perlahan-lahan akan dicatat oleh Sejarah dengan tinta emas bahwa pada suatu masa yang lampau, ditangan seorang pemuda, anak pejabat demokrasi mati, walau suaranya berdering kencang seolah ia berkuasa secara demokratis dan melalui jalan demokrasi. 

​Diatas Pundak pemuda, demokrasi kerakyatan diletakkan. Sebab, hari-hari ini, system demokrasi yang diselenggarakan tidak lain dan tidak berbeda dengan system demokrasi pada umumnya. Indonesia memiliki system demokrasi yang unik dan digali dari Rahim Indonesia, kendati ada inspirasi dari pikiran-pikiran para pakar politik dan filosoif melalui buku-buku mereka yang pernah dibaca oleh para pendiri bangsa. Demokrasi kerakyatan adalah sebuah proses yang dilakukan oleh rakyat kecil, miskin dan lapar sebab mereka yang membutuhkan seorang pemimpin yang tau dan merasakan detak jantung mereka. Demokrasi kerakyatan adalah sebuah prinsip berpolitik yang mengangkat pemimpin untuk menyuplai kesejahteraan bagi merek yang benar-benar membutuhkan, dan bukan dipergunakan oleh mereka yang kaya-raya, berkuasa untuk menentukan pemimpin bangsa. Sebab, mereka yang kaya-raya, dan berkuasa akan memilih pemimpin demi kepentingan dan mengamankan posisi sendiri dan kelompok, namun berbicara seolah mereka demokratis.

Hari proklamasi kemerdekaan 1945, merupakan jembatan emas. Kita baru melangkah ke seberang pulau yang kaya dengan susu dan madu melalui jembatan ema situ. Tapi, apakah kita sedang berjalan menyambut kemerdekaan yang benar-benar merdeka.? Rasanya kita perlu bertanya berulang kali, sebab hari-hari ini kita dikatakan Merdeka, tapi mereka memilihkan segalanya untuk kita. Parat elit politik merebut kekuasan dengan dinasti. Bahkan dinasti telah tercipta sejak dalam partai-partai politik. Para elit poitik dan penguasa mempertontonkan sandiwara politik yang lucu dan menjadi benalu bagi negara. Mereka berperang satu sama lain untuk memperebut kekuasaan atas nama rakyat dan Pembangunan.

Pemuda kerap tidak memiliki tempat. Jikapun ada tempat, tiket hanya dimiliki mereka yang lahir dari Rahim penguasa, baik penguasa kendaraan politik (Parpol), maupun penguasa pemegang jabatan structural pemerintahan dan mereka yang memiliki segala sumber daya. Pemuda diragukan, kapasitas dan kapabilitas diabaikan, kekuasaan dilanggengkan oleh mereka yang kaya, segalanya mereka pilihkan untuk kaum muda bangsa. Jika segalanya terus dibiarkan, maka kaum muda akan menjadi penonton dan bukan pemegang kendali politik yang etis-beradab, demokratis berkeadilan dan perlahan-lahan demokrasi kerakyatan yang digagas para pendiri bangsa menjadi kenangan ide tanpa realisasi.

Hari sumpah pemuda mengingatkan kita pada ikrar janji monumental para pemuda yang berjuang untuk bangsa dan negara. Para pemuda merebut kejayaan dengan darah dan air mata demi terlepas dari kolonialisme dan imperialisme. Kendati saat ini, kita telah terlepas dari penjajahan seperti diatas, kita harus juga melihat model penjajahan yang hari ini menggerogoti bangsa dalam wajah yang lain. Penjajahan dalam wajah pengendalian politik, ekonomi dan kekuasaan structural adalah penjajahan bentuk modern yang harus dilawan. Kaum muda harus mengikrarkan janji yang baru sama sekali. Dengan ini tidak berarti kita mengkerdilkan ikrar sumpah pemuda 1928, melainkan sumpah pemuda yang baru sama sekali, dengan bertolak dari realitas penjajahan dalam bentuk modern. Sekiranya kita berujar demikian; “Kami pemuda-pemudi bersumpah; Berpolitik Etis dan adab, berdemokrasi kerakyatan, melawan Domestikasi Politik kepentingan atas nama persatuan. Kami Pemuda-pemudi bersumpah; mendidik bangsa dan Negeri dengan ide dan karya, melawan kendaraan politik yang bersuara menarik belas kasihan. Kami Pemuda-pemudi Bersumpah; Berbakti tulus demi tanah terjanji Indonesia Merdeka.”

Selamat Merayakan Hari Sumpah Pemuda. 

“PERUBAHAN PARADIGMA MEREDUKSI NILAI LUHUR BUDAYA” (Sebuah Kajian Kritis-Reflektif Terhadap Tradisi “Bawa Lari Perempuan” di Sumba) Oleh: Andraviani Fortuna Umbu Laiya

“PERUBAHAN PARADIGMA MEREDUKSI NILAI LUHUR BUDAYA”
(Sebuah Kajian Kritis-Reflektif Terhadap Tradisi “Bawa Lari Perempuan” di Sumba) Oleh: Andraviani Fortuna Umbu Laiya

Andraviani Fortuna Umbu Laiya – Kabid Or GMKI Kupang

Dalam refleksi atas sejarah yang telah berlangsung, tak terbantahkan bahwa Indonesia adalah medan yang memikat dengan keragaman budayanya. Realitas ini mengindikasikan bahwa tradisi budaya terus dilestarikan dalam masyarakat, sehingga membentuk identitas yang khas dari masyarakat Indonesia. Akan tetapi, dalam keragaman tersebut, sebuah pertanyaan filosofis muncul: Apakah budaya ini sungguh-sungguh dilestarikan atau hanya dijadikan sebagai latar belakang yang eksotis? Salah satu fenomena yang mencolok dalam budaya Indonesia adalah prosesi adat-istiadat perkawinan. Ini memang menjadi unsur khas yang mencerminkan pentingnya perkawinan sebagai kebutuhan sentral dalam proses peradaban manusia.

Dalam konteks adat istiadat perkawinan, terdapat bahasa dan tindakan budaya yang sarat dengan makna dan simbolisme. Namun hal ini sangat terbuka terhadap berbagai tafsir individu yang berbeda. Ini menimbulkan pertanyaan yang sangat penting: Apakah masyarakat benar-benar memahami makna budaya ataukah hanya melihatnya melalui lensa interpretasi subjektif yang dapat mereduksi atau bahkan merusak nilai-nilai yang mendasarinya? Ini adalah tantangan filosofis yang mendalam. Sebab, sarat makna yang terkandung dalam suatu tradisi dengan berbagai tafsiran individu dan perubahan jaman dapat menyebabkan penyimpangan terhadap nilai-nilai substansional yang mendasari budaya tersebut sampai pada akhirnya mereduksi nilai dari budaya itu sendiri. Dalam hal ini, masyarakat adat bertanggungjawab secara bijaksana menjadi penjaga nyala budaya, bukan hanya menjaga kearifan lokal tetapi juga melindunginya dari angin penyimpangan yang dapat meredupkannya.

Salah satu budaya Masyarakat Indonesia yang sangat kental dan terdapat nilai-nilai adat istiadat yang syarat makna ialah tradisi perkawinan di masyarakat adat Sumba. Dalam pemikiran orang Sumba, perkawinan dipandang sebagai peristiwa yang suci dan berkaitan erat dengan keyakinan mereka pada marapu. Marapu seperti yang diungkapkan oleh Kamuri dalam penelitiannya, merupakan inti dari kepercayaan asli orang Sumba. Prinsip-prinsip normatif dalam agama dan marapu menjadi panduan bagi mereka dalam memberi makna pada kehidupan dan mengatur perilaku yang pada akhirnya membentuk identitas budaya mereka.

TRADISI PERKAWINAN MENGAKAR PADA KEPERCAYAAN TERHADAP MARAPU

Kepercayaan terhadap Marapu menjadi dasar pandangan masyarakat Sumba terhadap dunia sekitar. masyarakat adat Sumba diarahkan untuk menjalankan prinsip-prinsip yang tertanam dalam tradisi marapu, dan ini juga berlaku dalam konteks perkawinan. Dalam perspektif marapu, perkawinan dianggap sebagai suatu keharusan. Orang yang menikah dianggap sebagai pelayan marapu, sementara mereka yang tidak menikah dianggap tidak ikut serta dalam peran tersebut (L.Bembot & D.Sermada, 2022:73). Oleh karena itu, dasar perkawinan menurut adat masyarakat Sumba adalah berkenaan dengan kehadiran seorang perempuan untuk saling membantu sebagai suami istri dengan tujuan menggenapi tuntutan dewa leluhur melalui pemelihara tradisi marapu.

Dalam konteks budaya adat Sumba, perkawinan bukanlah sekadar urusan individu calon mempelai atau orang tua mereka. Sebaliknya, perkawinan dianggap sebagai permasalahan yang lebih luas, yang melibatkan kedua belah pihak Kabihu dalam masyarakat adat Sumba. Kabihu dalam konteks ini mencerminkan keberagaman identitas yang ada dalam masyarakat Sumba yang bisa merujuk pada suku atau klan tertentu. Pemahaman ini menunjukkan bahwa perkawinan adat bukanlah hal yang sepele, tetapi sebuah peristiwa yang melibatkan seluruh keluarga besar. Keputusan yang diambil dalam perkawinan ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap kelangsungan eksistensi Kabihu tersebut. Dalam pandangan budaya adat Sumba, perkawinan adalah proses yang menghubungkan dan memperkuat hubungan antara dua Kabihu. Oleh karena itu, konsepsi tersebut menjadi bagian integral dari identitas dan keberlanjutan budaya mereka.

Perkawinan Masyarakat Adat Sumba, biasanya terdapat dua kebiasaan (Kategori) dan diatur secara tidak tertulis dalam budayanya. Kategori pertama yaitu peminangan; peminangan merupakan momen pertemuan kedua keluarga mempelai untuk membicarakan terkait kesepakatan perkawinan, secara khusus membicarakan hal ihwal terkait jumlah belis atau mahar. Kategori peminangan memilik 4 tahapan yaitu tahap pengenalan, tahap ikat atau bawa siri pinang, tahap melihat rumah laki-laki dan terakhir tahap pindah (Bangi, Soviana R, 2020:133). Sedangkan, kategori kedua adalah perkawinan tanpa melalui tahap peminangan; proses yang demikian terjadi ketika kedua pihak keluarga belum sepakat mengenai jumlah belis dan kesepakatan lainnya, sehingga langsung pada tahapan terakhir yaitu tahap pindah barulah setelah itu diikuti dengan pembicaraan adat terkait belis. Tradisi “bawa lari perempuan” masuk dalam kategori perkawinan tanpa peminangan.

Dalam pandangan ini, kita mengenali bahwa keluarga laki-laki memegang peranan sangat penting sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk memberikan belis (mahar perkawinan) yang secara adat pun akan dibalas oleh keluarga perempuan sesuai dengan kewajiban adatnya. Akan tetapi yang harus digarisbawahi yaitu pemberian belis ini bukan semata tentang nilai materi, melainkan sebuah simbol tulusnya cinta, pengorbanan, penghargaan terhadap perempuan dan komitmen dalam perkawinan.

TRADISI “BAWA LARI PEREMPUAN” DI SUMBA

Tradisi “bawa lari perempuan” dalam masyarakat adat Sumba mengandung esensi budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Tradis ini dikenal dengan beragam istilah atau bahasa adat yang berbeda di 4 kabupaten di Sumba. Pada masyarakat adat Sumba Barat Daya dan Sumba Barat, masyarakat menyebut tradisi ini dengan istilah “Paneta Mawine” (Tangkap perempuan).Selanjutnya, pada masyarakat adat Sumba Tengah menyebut dengan istilah“Plaingindi Mawini” (bawa lari perempuan). Sedangkan, pada masyarakat Sumba Timur mengenal dengan istilah“Piti Rambang” (pengambilan secara paksa). Meskipun masyarakat sumba pada umumnya menyebut dengan beragam istilah, masyarakat luar (selain suku Sumba) mengenalnya dengan istilah “Kawin Tangkap”. Istilah ini lahir dari konstruksi bahasa di media sosial. Beragam istilah dalam mengenal tradisi perkawinan tersebut disebabkan karena bahasa adat yang berbeda. Namun, merujuk pada perbuatan yang sama yaitu tradisi menangkap seorang perempuan secara paksa dengan tujuan perkawinan adat.

Tradisi “bawa lari perempuan” ini khususnya dilakukan oleh laki-laki dari keluarga bangsawan/Maramba, dikarenakan jumlah belis yang sangat tinggi yang harus diberikan kepada keluarga perempuan. Dalam karya monumental Oe H. Kapita “Masyarakat Sumba dan Adat Istiadatnya”, menjabarkan bahwa piti rambang (pengambilan secara paksa) merupakan pernikahan ritual adat masyarakat Sumba yang menggabungkan elemen-elemen simbolis dengan harmoni yang mendalam. Mekanismenya dimulai dengan calon mempelai laki-laki “menangkap” calon mempelai perempuan dalam proses yang telah diatur dan disetujui oleh kedua keluarga, di mana simbol- simbol seperti kuda yang diikat atau emas mamuli yang tersembunyi di bawah bantal menjadi bagian integral dari tindakan ini, menciptakan suatu keindahan dalam ekspresi budaya dan tradisi masyarakat Sumba.

Penjelasan diatas sesungguhnya menegaskan bahwa awalnya tradisi ini hanya dapat dilakukan oleh keluarga bangsawan dalam rangka menangkap perempuan yang berstatus bangsawan. Proses “membawa paksa” ini diawali dengan persiapan yang matang, bahkan hanya dilakukan penangkapan di rumah keluarga perempuan untuk tetap menjaga martabat perempuan bangsawan tersebut dan diberikan belis yang tinggi sebagai bentuk penghormatan terhadap proses penyatuan keluarga. Jika disederhanakan maka dapat dikatakan sebagai proses perjodohan oleh dua keluarga bangsawan tanpa persetujuan dari calon mempelai perempuan. Alasan yang melatarbelakangi hal ini, yaitu untuk menjaga hubungan keluarga dalam lingkar bangsawan, menjaga garis keturunan agar tidak salah atau menghindari hubungan yang tidak etis.

Dari penjabaran ini dapat menunjukan bahwa tradisi “bawa lari perempuan” memiliki nilai luhur budaya kekeluargaan dan penghargaan antara dua pihak keluarga terkait dalam proses mengurus suatu perkawinan adat.

PERUBAHAN PARADIGMA TERKAIT TRADISI “BAWA LARI PEREMPUAN” DI SUMBA

Dalam perkembanganya tradisi ini mulai dilakukan oleh semua kalangan masyarakat di sumba sehingga kedalaman nilai-nilai luhur dalam tradisi “bawa lari perempuan” di Sumba menjadi terkikis oleh tindakan-tindakan yang tidak semestinya. Pada akhirnya tindakan-tindakan yang tidak tepat sesuai kebiasaan yang sesungguhnya mencemarkan esensi budaya perkawinan itu sendiri. Seringkali, lokasi penangkapan yang berada di tempat umum dan persiapan yang tidak matang berdampak pada mempermalukan perempuan dan tidak adanya persetujuan keluarga bahkan hingga terjadi berbagai kekerasan. Tindakan yang demikian, sesungguhnya tidak lagi sejalan dengan prinsip dari tradisi “bawa lari perempuan” yang berakar dan dipelihara secara baik dalam masyarakat Sumba pada mulanya melalui nilai kekeluargaan dan penghormatan. Sebab, tradisi ini kini menjadi sesuatu yang “ditakuti”, lantaran dilakukan oleh semua masyarakat secara tidak terarah atau menjauh dari makna dan proses sebenarnya.

Dalam data yang disajikan oleh LSM SOPAN SUMBA, yang mencatat kasus-kasus praktik “bawa lari perempuan” di Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah dalam rentang tahun 2013-2020 berjumlah 14 kasus, dengan rentan usia korban 16-30 tahun, bahkan termasuk anak-anak di bawah umur yang menjadi korban. Fakta bahwa beberapa korban bahkan mengalami pelecehan seksual adalah peringatan yang sangat serius tentang dampak negatif dari tradisi ini.

Salah satu kasus Juli 2019, gadis berinisial PRM (16) dari wilayah Kodi Balaghar, Sumba Barat Daya, ditangkap oleh beberapa pria untuk dinikahkan dengan pria berinisial JK (32) yang tidak pernah menjalin hubungan asmara dengannya, menolak untuk dijadikan istri JK, korban akhirnya diperkosa oleh penculik yang berjumlah tujuh orang (baca medan.tribunnews.com).

Terdapat juga kasus terbaru di Sumba Barat Daya pada tanggal 07 september 2023, dimana seorang perempuan berinisial DM (20) ditangkap secara paksa di jalan raya oleh 20 orang laki-laki, untuk dijadikan istri oleh YBT dengan persetujuan ibu dan paman korban (baca galerisumba.com).

Bertumpu dalam pandangan hukum positif, kedua actions problem diatas menunjukan adanya peristiwa hukum. Hal tersebut tergambar jelas dari adanya perbuatan pemaksaan perkawinan yang menyebabkan kekerasan verbal, non verbal bahkan seksual yang merupakan suatu kejahatan yang dapat dipidanakan sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan secara khusus dalam Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yangtertuang secara ekplisit dalam Pasal 10 ayat (1) dan (2) terkait Pemaksaan Perkawinan dengan penekanan “Setiap orang”sehinggamemungkinkan pemidanaan bukan hanya terhadap pihak laki-laki tetapi juga terhadap pihak perempuan yang membiarkan adanya pemaksaan perkawinan. Bahkan dapat dikaitkan dengan pasal lainnya dalam UU TPKS jika terjadi beberapa jenis kekerasan seksual.

Keberadaan Undang-Undang ini seharusnya dianggap sebagai sebuah peringatan dari negara kepada masyarakat, dan sejalan dengan prinsip bahwa Indonesia adalah Negara Hukum. Namun, dalam konteks budaya, pendekatan yang perlu diperhatikan adalah bahwa praktik ini, jika diinterpretasikan sebenarnya merupakan sebuah tindakan penyelewengan terhadap paradigma kultural yang seharusnya dihormati dan dilestarikan oleh nilai-nilai budaya lokal.

Konsepsi tersebut bila diaamati secara filosofis, memunculkan pertanyaan yang mendalam tentang bagaimana kita dapat menemukan keseimbangan yang bijak antara perlindungan hukum yang diperlukan dan penghormatan terhadap kekayaan budaya kita yang berharga. Bagaimana kita bisa memahami dampak dan implikasi perubahan hukum ini terhadap identitas dan warisan budaya kita? Bagaimana kita dapat menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang telah lama terpatri sambil tetap mematuhi prinsip-prinsip hukum yang adil? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan filosofis yang mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang hubungan antara hukum, budaya, dan etika dalam masyarakat kita.

REDUKSI MAKNA DALAM TRADISI “BAWA LARI PEREMPUAN” DI SUMBA

Dalam konsep hermeneutic sebagai pendekatan yang digunakan untuk memahami budaya dengan menghargai konteks, interpretasi subjektif, dialog, dan refleksi. Ini membantu penulis untuk mengungkap makna yang lebih dalam dan kompleks dari fenomena budaya yang mereka teliti, sambil mengakui bahwa makna tersebut dapat berubah seiring waktu (Munir, 2021). Tradisi “bawa lari perempuan” di Sumba mencerminkan pertentangan yang mendalam antara dua pandangan yang berbeda. Di satu sisi, terdapat pandangan yang menganggap tindakan tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang, sebuah proses perkawinan yang sangat mengandung nilai-nilai luhur. Tradisi ini dilakukan oleh laki-laki dari keluarga bangsawan dengan alasan sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa bertujuan untuk menjaga hubungan kekeluargaan dalam lingkar bangsawan dan menghindari tindakan perkawinan yang tidak etis atau menghindari seorang bangsawan menikah dengan bukan bangsawan. Dalam prosesnya tetap menunjukan tanggungjawab keluarga laki-laki dengan pemberian jumlah belis atau mahar yang tinggi sesuai dengan latar belakang seorang keturunan bangsawan. Makna kekeluargaan dan saling menghormati menjadi nilai luhur budaya mendasar dalam praktik “bawa lari perempuan” ini.

Di sisi lainnya, dengan melihat dalam konstruksi realitas hari-hari ini, kasus yang terus terjadi dan berkembang di ruang publik masyarakat, penulis melihat adanya kompleksitas konflik yang melekat. Diamati lebih serius dengan perspektif hermeneutik, tradisi “bawa lari perempuan” telah berubah menjadi tindakan yang melanggar prinsip-prinsip etika dan hak-hak asasi manusia. Semua ini menciptakan kontradiksi yang sangat tajam dengan esensi dan norma asli dalam budaya pernikahan Sumba yang sebenarnya. Tradisi ini sekarang sering melibatkan pemilihan lokasi

penangkapan di tempat umum dan persiapan yang tidak matang sehingga berdampak pada mempermalukan perempuan, lalu tidak adanya persetujuan keluarga bahkan dalam beberapa kasus, praktiknya dilakukan dengan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Ini adalah sebuah paradoks yang menyiratkan perubahan dalam interpretasi budaya oleh masyarakat Sumba. Nilai- nilai luhur yang semula memaknai perkawinan dengan nilai kekeluargaan dan penghormatan antar dua pihak keluarga telah mengalami penyimpangan yang berasal dari paradigma baru dalam masyarakat dengan mengorbankan hak asasi individu, khususnya perempuan Sumba. Inilah tantangan besar dari suatu budaya dalam menghadapi interprestasi manusia dan kenyataan yang sangat berat, dimana sebuah tradisi yang semestinya menjadi ekspresi budaya yang menghargai dan melindungi individu, telah berubah menjadi instrumen penghinaan dan penindasan terhadap perempuan.

Namun, dalam kerangka pemikiran ini, kita menghadapi pertanyaan filosofis yang sangat mendalam: Bagaimana kita dapat memahami dan menghormati nilai-nilai budaya sambil tetap menjaga integritas dan kebijaksanaan dalam mewariskannya? Apakah kita hanya melihat budaya kita melalui lensa interpretasi subjektif yang dapat mengurangi atau bahkan merusak nilai-nilai mendasar? Apakah kita benar-benar meresapi dan menghormati budaya kita, ataukah kita hanya menggunakan tradisi ini untuk memenuhi keinginan dan kepentingan pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi relevan karena fakta bahwa nilai-nilai luhur yang semula memaknai perkawinan dengan nilai kekeluargaan dan penghormatan antar dua pihak keluarga telah tereduksi dalam praktik “bawa lari perempuan.” Perubahan paradigma dalam masyarakat yang mengorbankan hak asasi individu terutama perempuan Sumba telah menghadirkan dilema filosofis tentang sejauh mana budaya dapat diutamakan tanpa mengorbankan hak asasi individu. Pelestarian budaya yang dihayati dengan penuh rasa hormat terhadap hak asasi individu, khususnya hak perempuan menjadi suatu pemikiran yang mendesak. Ini adalah pertanda bahwa dalam mempertahankan dan mewarisi budaya, kita tidak boleh lupa untuk menjaga prinsip-prinsip etika dan hak asasi manusia yang menjadi dasar keadilan dan martabat individu dalam masyarakat.

Menutup kajian reflektif diatas, penulis mengutip pandangan Friedrich Nietzsche dalam karyanya yang berjudul “Beyond Good and Evil”. Nietzsche berpandangan bahwa “In individuals, insanity is rare; but in groups, parties, nations and epochs, it is the rule”. Kalimat ini menyoroti konteks budaya yang seringkali terdapat ketersesatan dalam pemaknaan nilai- nilai budaya yang akhirnya melahirkan pandangan atau tindakan yang tidak sesuai dengan budaya tersebut.

Refleksikan Perjalanan 61 Tahun, GMKI Kupang Gelar Ibadah Syukur Dies Natalis

Refleksikan Perjalanan 61 Tahun, GMKI Kupang Gelar Ibadah Syukur Dies Natalis

Refleksikan Perjalanan 61 Tahun, GMKI Kupang Gelar Ibadah Syukur Dies Natalis (22/08/23)

GMKI Kupang pada pada tanggal 18 Agustus 2023 lalu telah menemui Dies Natalisnya yang ke-61 tahun. Sabagai ungkapan syukur atas perjalanan 61 tahun GMKI Kupang menggelar ibadah syukur Dies Natalis ke–61 yang bertempat di Student Center GMKI Kupang pada hari Selasa, 22 Agustus 2023.

GMKI Kupang boleh bersuka cita karena terhitung sejak 18 Agustus 1962 sampai dengan saat ini GMKI Kupang terus menunjukan eksistensinya di medan layan gereja, perguruan tinggi dan masyarakat.

Hadir dalam kegiatan ini para senior GMKI Kupang, Badan Pengurus Cabang GMKI Kupang, Pengurus Komisariat GMKI Kupang, anggota GMKI Kupang dan organisasi Cipayung Kota Kupang.

Acara ini diawali dengan ibadah yang yang pimpin oleh Pdt. Sally Bulan, S. Th dengan tema: “Solidaritas untuk GMKI Bergerak Menyambut Masa Depan”

Senior Herlof Foeh yang mewakili senior dalam sambutannya menyampaiakan “di GMKI kita mengenal Ut Omnes Unum Sint walaupun kita berbeda-beda tetap satu. GMKI Kupang harus mempunyai new motivation, kita harus punya motivasi yang baru dan terbarukan”.

Senior yang juga merupakan dosen di FISIP UNDANA itu menambahkan “suatu organisasi dengan sistem yang baik sekalipun akan mengalami keburukan. Sebagai organisasi harus mempunyai imunitas aktor. Imunitas aktor itu adalah integritas aktor, personality aktor. Kekuatan imunitas kita tergantung bagaimana kita punya komitmen orgnisatoris yang kuat sehingga walaupun kita diterpa badai tetap jalan kita lurus ke depan.

Menutup sambutannya ia menegaskan kepada GMKI dan Cipayung untuk harus menjadi pengawal bagi jalannya pemilihan umum 2024 mendatang.

Ketua Cabang GMKI Kupang, Florit P. Tae dalam sambutannya menyampaikan GMKI sementara bergerak dalam dua realitas, kita bergerak dalam realitas eksternal dan juga realitas internal. Kita berhadapan dengan situasi sosial, situasi politik, ekonomi dan lain sebagainya, itulah realitas eksternal. Dan juga di situasi yang sama kita berhadapan dengan realitas internal, proses pengkaderan tidak berjalan baik-baik saja, situasi kekudusan GMKI yang tidak baik-baik saja, berbagai hal kita alami di dalam internal.

Florit menambahkan, hanya dengan solidaritas, hanya dengan kesatuan, hanya dengan upaya utuk menjaga kebersamaan kita akan tetap berdiri kokoh sebagai organisasi mahasiswa.

Acara Dies Natalis GMKI Kupang ke-61 dilanjutkan dengan tiup lilin bersama oleh Senior dan Badan Pengurus Cabang sebagai tanda suka cita bersama dan kemudian ditutup dengan foto bersama.

Resensi Buku 11 fakta Era Google, bergesernya pemahaman Agama dari kebenaran mutlak menuju keyakinan kultural milik Bersama, Oleh: Florit P. Tae

Resensi Buku 11 fakta Era Google, bergesernya pemahaman Agama dari kebenaran mutlak menuju keyakinan kultural milik Bersama, Oleh: Florit P. Tae

Ali, Januar Denny, 11 fakta Era Google, bergesernya pemahaman Agama dari kebenaran mutlak menuju keyakinan kultural milik Bersama, Jakarta:  Cerah Budaya Indonesia (CBI), 2021; 144 halaman.

Oleh: Florit P. Tae

Hidup adalah sebuah perayaan atau ekaristi. Kita tidak dapat menikmati keindahan perayaan hidup yang eksistensial, jika kita masih tetap hidup dalam kecurigaan dan menuduh satu dengan yang lain.

Buku yang ditulis oleh Denny JA, merupakan sebuah karya akademis yang apic, sebab mengandaikan spiritualitas keterbukaan yang mempesona dari seorang Denny JA. Jika dibaca dengan melepaskan segala bentuk kecurigaan yang telah ditanamkan oleh doktrin agama, maka kita akan menjumpai betapa pentingnya keterbukaan dan penghargaan terhadap sesama manusia dengan segala jenis agama dan keyakinannya.

Denny JA menguak fakta-fakta menarik yang tidak disadari manusia beragama hari-hari ini. Denny JA memperlihatkan fenomena agama yang sangat banyak. Berdasarkan penelusurannya dari berbagai media, ada 4.300 agama yang sedang berkembang, lengkap dengan ciri khas keyakinannya masing-masing. Ini adalah fakta tentang agama dan keyakinan di era Google menurut Denny JA.

Dalam menuraikan fakta-fakta tentang pengaruh orang beragama dalam penyelenggaraan negara, Denny JA memaparkan hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan lembaga-lembaga penelitian yang melakukan riset yang kemudian dikembangkan oleh Denny JA sudah sangat diakui oleh kalangan akademisi. Jadi, kredibilitas dari setiap data dan fakta yang diperlihatkan oleh Denny JA dapat dipercaya.

Buku 11 fakta era google ini dibagi menjadi 4 bab, dan pada epilog, Denny JA memperlihatkan penderiannya sebagai seorang “Manusia utuh” yang menyadari dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari orang lain, apapun agama dan keyakinannya. Selain itu, Denny JA menegaskan keyakinannya bahwa di Era Google, Agama mesti menjadi Kekayaan Kultural milik bersama. Dengan demikian, kita dapat hidup bersama dan bergandengan tangan merayakan kehidupan di tengah-tengah dunia yang semakin berkembang.

Pada bab I, Denny JA menguraikan secara menakjubkan bahwa negara-negara yang mayoritas masyarakat tidak menganggap agama penting adalah negara yang tingkat kebahagiaan masyarakat tinggi, tingkat Korupsi rendah dan memiliki kesejahteraan yang baik. Sedangkan, negara-negara yang mayoritas masyarakatnya beragama, justrus terpampang Korupsi, ketidakbahagiaan dan ketidak sejahteraan. Masyarakat beragama tidak memberi dampak apa-apa, selain memelihara korupsi, kemiskinan dan ketidakadilan.

Selanjutnya, pada Bab II, Denny JA memperlihatkan berbagai penemuan dan penelitian ilmu pengetahuan (arkeolog) tentang fakta rill dibalik cerita-cerita historis dalam kitab suci berbagai agama. Denny JA hendak mengajak manusia beragama untuk membuka diri pada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan. Tentu yang dimaksudkan Denny JA adalah bahwa meskipun keyakinan-keyakinan kita terhadap cerita-cerita historis sebagai karya Allah itu penting, tetapi tidak harus anti terhadap ilmu pengetahuan. Milih untuk tetap menjadi manusia spiritual, namun, harus membuka mata merenungkan aneka temuan ilmu pengetahuan. Argumren tersebut ditegaskan dengan sangat indah ketika Denny JA mengutip sebuah pepatah “Spiritualitas berurusan dengan makna tertinggi kehidupan. Ilmu pengetahuan berurusan dengan pembuktian ranting-ranting kehidupan. Spiritualitas tak membutuhkan ilmu pengetahuan. Ilmu penghetahuan tak membutuhkan Spiritualitas. Tapi, manusia yang utuh memerlukan keduanya”.

Bab III, Denny JA berbicara secara khusus tentang toleransi umat beragama maupun yang tidak beragama. Pada bagian ini, Denny JA menguraikan secara khsus penghargaan berbasis gender di agama Islam dan memberikan solusi dalam menafsir teks-teks suci dalam kitab suci. Denny JA secara terbuka menolong umat beragama untuk memperbaharui pola pikir dalam menafsir tekas-teks suci secara terbuka dan mengutamakan penghargaan terhadap sesama manusia yang beragama berbeda, berkeyakinan berbeda dan sebagainya. Selanjutnya, menurut Denny JA, dalam menafsir teks-teks suci, kita juga mesti belajr dari teks-teks yang lain yang ditulis oleh para teolog. Dengan kata lain, oleh Denny JA kita mesti belajar dan mencari dukumen-dokumen tua tentang toleransi. Dengan demikian kita dapat menafsir dengan tepat.

Pada bab IV, Denny JA menguraikan makna terdalam atau intisari agama. Denny JA menjembatani berbagai fenomena yang telah diperlihatkan oleh berbagai penilitian yang telah diuraikan pada bab I maupun Bab II. Pada bab-bab sebelumnya, Denny JA dengan bertolak dari berbagai hasil riset, bahwa agama “seolah” tidak berhasil merubah pola pikir manusia, manusia yang beragama justru menampilkan gaya hidup yang korup, tidak bahagia dan tidak sejahtera. Negara-negara yang mayoritas masyarakat beragama justru menjadi negara yang terbelakang dalam hal kesejahteraan, kebahagiaan dan maraknya korupsi. Namun, pada Bab IV ini, Denny JA justru mengajak manusia untuk tetap beragama dengan berpegang pada nilai-nilai eksistensial agama. Setiap nilai-nilai ajaran agama (nilai-nilai luhur) di ikuti secara taat oleh para penganutnya. Selain itu, setiap manusia yang beragama mesti mencari dan mendalami intisari agama dan tulisan-tulisan kitab suci masing-masing agama. Oleh Denny JA, didalam agama dan masing-masing kitab suci terdapat harta karun yang tersembunyi. Denny JA menyebut harta karun yang tersembunyi itu antara lain, The Golden Rule (Prinsip Kebajika), Power of Giving (Kekuatan memberi), The Onenes (Kesatuan). Tiga harta karun ini oleh Denny JA adalah Spiritual Blue Diamonds.Selain mutiara dalam Agama, pada akhir bab ini, Denny JA menguraikan 10 Mutiara Kitab Suci dari berbagai agama dan keyakinan antara lain; Prinsip Tauhid, Keadilan, Toleransi, Derma/Sedekah, Kesatuan, Ibadah/dakwah, Komitmen pada kebenaran, Bersyukur, Mmemaafkan, Jujur dan taat. Inilah 10 mutiara dalam kitab suci menurut Denny JA.

Pada akhir buku ini, Denny JA merekomendasikan kepada kita sebagai umat beragama maupun tidak beragama, bahwa agama mesti dipahami sebagai kekayaan kultur milik bersama. Dengan menampilkan berbagai fakta hasil penelitian bahwa dibnyak negara, hari-hari raya setaip agama dirayakan bersama bahkan setiap orang yang beragama maupun tidak, merasa penting untuk merayakan hari-hari raya sebagai kekayaan kultur. Sebab, setaip hari raya adalah momen reflektif untuk kita semua dalam merayakan hidup bersama di dalam dunia yang diciptaan oleh sang Ilahi.

Kelebihan dari buku tersebut adalah:

  1. Setiap sumber-umber penelitian dilampirkan pada bagian catatan kaki.
  2. Penulis sangat berani untuk mengungkapkan fakta-fakta penelitian yang ditemukan.
  3. Setiap topik pembahasan, Penulis seakan memberikan kesempatan kepada pembaca untuk berefleksi tentang keyakinannya.
  4. Penulis berupaya menampilkan fakta-fakta yang dapat diuji secara akademis, namun tetap mengarahkan pembaca untuk berpikir kritis baik terhadap hasil temuan ilmu pengetahuan, maupun keyakinan yang telah ditanam dalam agama.

Kekurangan dari buku tersebut adalah;

  1. Akhir dari buku ini, pada uraian mengenai 10 mutiara kitab suci, penulis hanya berangkat dari teks-teks suci Al-Qur’an.
  2. Penulis tidak mengelaborasi teks-teks suci dari berbagai agama yang berhubungan dengan 10 mutiara itu.  

Pada akhirnya, buku yang ditulis oleh Denny JA merupakan karya akademis sekaligus Spiritualitas yang mengagumkan. Denny JA menjelajahi dunia dengan segala seluk beluk kepongahannya melalui hasil-hasil penelitian yang akademis. Hasil penelitian merupakan kelebihan perkembangan ilmu pengetahuan yang perlu dihargai, sebab dengan menemukan fakta-fakta rill yang terjadi kita dapat mengoreksi diri apakah, kita sudah beragama dengan benar atau tidak? Apakah kita sudah menafsir teks-teks suci kitab suci dengan tepat atau belum?. Hasil penelitian terkait kekurangan dan kejanggalan yang diperlihatkan kaum beragama di berbagai negara menjadi pertanyaan reflektif bagi kita yang beragama. Denny JA merupakan salah satu akademisi yang berpegang teguh pada nilai-nilai terdalam dari keyakinannya, sembari membuka ruang persahabatan bagi semua manusia. Hidup di dalam dunia merupakan sebuah ziarah. Setaip umat beragama maupun tidak beragama, sama-sama berziarah di dalam dunia. Karena itu, untuk mencapai tujuan bersama, kita mesti saling menopang, saling mendengar denyut jantung. Sebab, Ziarah hidup mesti dirayakan bersama. 

Bersyukur Selalu

Bersyukur Selalu

Penulis: Mardila Kebkole (Komisariat STIM)

Firman : 1 Tesalonika 5:12-22

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)

Mengalami masa-masa sulit adalah perkara yang tidak mudah diterima oleh banyak anak Tuhan. Kita maunya hanya menerima yang baik-baik saja, menerima berkat Tuhan tanpa ada embel-embel masalah di belakangnya.

Orang lebih mudah mengucap syukur ketika dalam keadaan baik dan diberkati saja. Jika keadaan sedang tidak baik rasanya sulit sekali untuk mengucap syukur. Tuhan menghendaki kita untuk mengucap syukur dalam segala hal. Kata “dalam segala hal” berarti di segala situasi: baik atau tidak baik keadaannya, sedang krisis atau berkelimpahan, untung atau rugi, saat sehat atau sakit, berhasil ataupun gagal. Jadi mengucap syukur bukanlah sekadar saran atau himbauan, melainkan suatu perintah atau kehendak Tuhan. Perintah berarti harus ditaatai. Mengucap syukur adalah tanda kedewasaan rohani. Seorang anak biasanya memiliki sifat manja, labil, cengeng, dan kurang sabar. Menghadapi masalah sedikit saja atau ketika kemauannya tidak dituruti akan langsung ngambek, marah, dan tidak mau makan. Sifat kekanak-kanakan pada dasarnya adalah usaha meminta dan memaksa Tuhan untuk menuruti keinginannya.

Apakah kita mau menjadi kanak-kanak terus? Tentunya tidak. Kita pasti ingin mengalami pertumbuhan dari hari ke hari hingga mencapai kedewasaan penuh. “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Korintus 13:11). Orang dewasa rohani pasti memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan. “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” (Ibrani 5:14), sehingga sesulit apa pun keadaannya kita bisa berkata, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu.”

Dalam segala perkara Tuhan turut bekerja, karena itu tetaplah mengucap syukur dalam segala hal!

Amin. UOUS

GMKI Kupang diterima audensi oleh Rektor UKAW Kupang

BPC GMKI Kupang bersama Rektor UKAW Kupang (07/08/2023)

GMKI Kupang diterima audensi oleh Rektor UKAW Kupang

Audensi GMKI Kupang di terima langsung oleh Rektor UKAW-Kupang (Universitas Kristen Artha Wacana) yang juga senior GMKI Bapak Dr. Ir. Ayub Meko di ruangan kerjanya. Kehadiran GMKI-Kupang dalam rangka berdiskusi terkait dengan isu-isu yang terjadi di lingkungan masyarakat, gereja dan juga yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi sebagai medan layan GMKI.

GMKI Kupang dalam kesempatan itupun menyampaikan bahwa GMKI-Kupang dalam menjalankan roda organisasi dan kaderisasi maka akan dilaksanakan implementasi PDSPK 2006 Tahun 2023 yang di rencanakan akan mulai pada tanggal 24 Agustus 2023. Dengan melihat anggota GMKI-Kupang yang hampir sebagian besar bertempat tinggal di sekitar kampus UKAW Kupang maka dengan demikian GMKI-Kupang meminta dukungan sekaligus tempat kepada pimpinan UKAW Kupang agar kegiatan PDSPK dapat berjalan dengan baik.

Rektor UKAW Kupang menerima kehadiran GMKI sekaligus menyampaikan bahwa UKAW dan GMKI memiliki visi misi yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama  terhadap  pergumulan gereja dan bangsa Indonesia, Keterpanggilan  yang sama inilah menjadi GMKI dan UKAW tak bisa di pisahkan.

Struktur BPC GMKI Kupang MB 2022-2024

Pelantikan BPC GMKI Kupang 01/11/2023

Berikut susunan struktur kepengurusan BPC GMKI Kupang MB 2022-2024:

 NAMA BADAN PENGURUS CABANG 2022-2024JABATAN
1Florit P. TaeKetua Cabang
2Andarviani F.U. LayaKetua Bidang Organisasi
3Stephany Tamar MoneKetua Bidang Pendidikan Kader dan kerohanian
4Alfred KamauKetua Bidang Aksi dan Partisipasi
5Erna Y. ThonSekretaris Cabang
6Lucky J. E. LianWakil Sekretaris
7Helmi MurisBendahara Cabang
8Tribento LapaimaliWakil bendahara
9Bernadus U.Y.TayiSekretaris Funsional Bidang Organisasi
10Nadap P. BaloSekretaris Funsional Bidang Kewirausahaan
11Yabes Y. BansaeSekretaris Funsional Bidang Penelitian dan Pengembangan
12Yortina T. LakfanuSekretaris Fungsional PKP
13Dominggus Riwu LapaSekretaris Funsional Bidang Kader
14Arkap Lukas LanmaySekretaris Funsional Bidang Kerohanian
15Erwin LubasabalaraSekretaris Funsional Bidang Aksidan Partisipasi
16Amran J. TanesibSekretaris Funsional Bidang Media & Komunikasi
17Aldi A.H.I BaitanuStaf Sekfung Bidang Organisasi
18Yosi Estralita ManhituStaf Sekfung Bidang Kewirausahaan
19Marten AtabunaStaf Sekfung Bidang Penelitian dan pengembengan
20Aldy J.M. PeloStaf Sekfung Bidang Kader
21Yanti TenisStaf Sekfung Bidang Kerohanian
22Noni Aldiyanto TalanStaf Sekfung Bidang Aksi Partisipasi
23Riski Almado KakeStaf Sekfung Bidang Media & Komunikasi
24Norce AduStaf Sekfung PKP
25Hendrik MalaikaiKoordinator Komisariat Wilayah I
26Irwanto MahokloriKoordinator Komisariat Wilayah II
27Rainhard F. AtaloKoordinator Komisariat Wilayah III

Komisariat BPC GMKI Kupang

 WilayahKomisariat
1    1Rabi
2FKM
3Hagai
4IAKN
5Ayub
6    2Teologi
7Hukum UKAW
8Rasul
9Talenta
10Galilea
11      3STIM
12Salam
13Anak Domba
14Nuh
15Taurat
16Salomo
17Ikhthus

Anggaran Dasar, visi, Misi GMKI

ANGGARAN DASAR GERAKAN MAHASISWA KRISTEN INDONESIA

PEMBUKAAN

Sesungguhnya Yesus Kristus, Anak Allah dan Juruselamat, ialah Tuhan manusia dan alam semesta. Kehadiran-Nya dalam sejarah ialah perbuatan Allah untuk menebus dan menyelamatkan manusia melalui kematian dan kebangkitan-Nya yang menjadikan semuanya baru dan sempurna.

Anugerah-Nya yang dinyatakan dalam karya-Nya memanggil manusia untuk percaya dan mengucap syukur dalam penatalayanan alam semesta, mewujudkan iman, pengharapan dan cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Roh Kudus menghidupkan persekutuan orang beriman selaku Gereja yang esa, am dan rasuli, yang diutus untuk menyampaikan kabar keselamatan dan pembebasan bagi pembaruan manusia dan alam semesta.

Maka menjadi panggilan dan pengutusan setiap warga gereja yang ditempatkan Tuhan di dalam perjalanan sejarah bangsa dan negara Indonesia, untuk menyatakan kehadiran-Nya dalam pemberitaan-Nya dan kehidupan yang bertanggungjawab bersumber pada Alkitab yang menya-ksikan Yesus Kristus ialah Tuhan dan Juruselamat di dalam keesaan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus yang mengerjakan keselamatan manusia untuk mewujudkan kesejahteraan, perdamaian, keadilan dan kebenaran di tengah-tengah Masyarakat, Bangsa dan Negara.

Untuk mewujudkan panggilan dan pengutusan dalam kehidupan dan perkembangan perguruan tinggi dan mahasiswa, maka pada tanggal 9 Februari 1950 Mahasiswa Kristen Indonesia yang melanjutkan usaha Christelijke Studenteen Vereeniging op Java, yang berdiri pada tanggal 28 Desember 1932 di Kaliurang untuk mengikutsertakan Gereja dalam pergerakan oikumene dan perjuangan Bangsa yang dalam revolusi kemerdekaan Indonesia menjelma menjadi Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia bersama-sama dengan Christelijke Studenteen Vereeniging pada waktu itu timbul sebagai persekutuan yang baru bersama-sama berjuang menegakkan dan mempertahankan Republik Indonesia, Negara Proklamasi 17 Agustus 1945, kemudian meleburkan diri dan berhimpun dalam satu bentuk persekutuan dengan nama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia yang bergabung dalam World Student Christian Federation.

 

VISI

Visi Organisasi ini adalah terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih.

 

MISI

Misi organisasi ini adalah:

  1. Mengajak mahasiswa dan warga perguruan tinggi lainnya kepada pengenalan akan Yesus Kristus selaku Tuhan dan Penebus dan memperdalam iman dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
  2. Membina kesadaran selaku warga gereja yang esa di tengah-tengah mahasiswa dan perguruan tinggi dalam kesaksian memperbaharui masyarakat, manusia dan gereja.
  3. Mempersiapkan pemimin dan penggerak yang ahli dan bertanggung jawab dengan menjalankan panggilan di tengah-tengah masyarakat, negara, gereja, perguruan tinggi dan mahasiswa, dan menjadi sarana bagi terwujudnya kesejahteraan, perdamaian, keadilan, kebenaran dan cinta kasih di tengah-tengah manusia dan alam semesta.
Scroll to Top