GMKI Kupang

kesesakan masa kini: tanda-tanda pembaharuan bangsa: oleh: florit p. tae (ketua gMKI cabang kupang)

Kesesakan Masa Kini: Tanda-tanda Pembaharuan Bangsa; Oleh: Florit P. Tae (Ketua GMKI Cabang Kupang)

Kesesakan masa kini: tanda-tanda pembaharuan bangsa; oleh: Florit Tae (Ketua GMKI Cabang Kupang)

Refleksi Kritis terhadap fenomena pembusukan kekuasaan, hilangnya Malu Spiritual dan mastinya MADILOG

Oleh: Florit P. Tae (Ketua GMKI Cabang Kupang)

Bangsa Ini sedang Sakit. Entah Sakit karena sudah tiba saatnya pembusukan harus terjadi sebagaimana diucapkan berulang kali oleh Rocky Gerung dalam banyak Kesempatan, atau sakit karena “Malu Spiritual” menghilang dari masyarakat yang taat beragama tapi lupa Ber-Tuhan apalagi Beriman. Bangsa ini benar-benar sakit, mungkin juga karena tidak lagi mengindahkan “Madilog” sebagaimana gagasan yang disodorkan salah satu bapak Revolusi Indonesia, Tan Malaka.

Tanda-tanda sakit itu antara lain, Virus Abuse of Power merajalela sampai lahan-lahan yang paling sempit dan kecil. Homo homini lupus est menjadi tontonan masyarakat kecil. Hasrat kekuasaan, kekayaan, kehormatan memerintah dengan tangan besi di dalam diri. Kebisingan propaganda para baser mengganggu telingan dan menampilkan kedangkalan kadar intelektual.

Bangsa ini benar-benar sakit. Banyak Kasus menohok berebut panggung untuk tampil di ruang publik jadi objek tontonan sesama anak bangsa, bahkan masyarakat global. Orang-orang baik dan berintelek seperti Edy, Firli Bahuri, Joni Plate, Anwar Usman, dan rentetan nama lainnya terjerat kasus yang beragam. Pada intinya, kasus-kasus yang menyandera mereka adalah kekejian bagi negara demokratis yang berabad-abad menjunjung nilai keadaban.

Dalam media masa, kita amati penguasa bermain-main dengan Kekuasaanya. Para Elit saling Curiga, lantaran saling bermain “petak umpet” demi kekuasaan dan menguasai. Itulah fakta publik Indonesia hari-hari ini. Memang kita berharap, jika situasi belakangan terjadi sebagai puncak dari pembusukan “sampah-sampah” kekuasaan, maka biarlah terjadi lebih cepat agar bangsa ini memulai yang baru. Yang baru mungkin lebih baik.

Jika, peristiwa yang terjadi hari-hari ini (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) merupakan sebuah pertanda hilangnya “Malu Spiritul”, maka biarlah ini menjadi titik akhir dan titik Awal kita mulai sadar untuk tidak hanya taat beragama, tapi perlu taat Ber-Tuhan dan Beriman. Sebab, kasus-kasus heroik yang terjadi, mempertontonkan negara yang sesungguhnya berdiri atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak punya rasa Malu. Ketika tampil di media (ruang Publik) selalu dengan senyuman, berpidato menebar janji dan harapan yang jelas-jelas Palsu. Segala skenario menutupi miliaran tindakan buruk di belakang layar.

Kita harus terus bertanya, jika fenomena para elit dan masyarakatnya yang menebar kebencian, ketakutan,  hoaks, merancang segala sesuatu karena elektabilitas dan bukan kapasitas merupakan tanda-tanda matinya Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika), maka biarkan semua ini menjadi refleksi, agar sekiranya kita kembali menjadi bangsa yang cerdas. Sebab, bangsa yang besar dan bermartabat harus melihat segala sesuatu, merespon segala sesuatu dengan berdasar pada fakta dan bukan hoaks.

Bangsa ini harus merespon segala sesuatu dengan Dialog dan bukan ujaran kebencian, apalagi mengintimidasi atas nama otoritas kekuasaan. Bangsa ini pada sisi lain, harus menganalisa segala sesuatu dengan logika dan bukan mengkiti saja para elit yang menebar janji dan motivasi, namun membabi buta merampas kekuasaan demi pribadi dan kelompok.

PEMBUSUKAN SEDANG TERJADI

Dalam ilmu biologi, Pembusukan merupakan suatu proses alamiah yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa adanya pembusukan yang melepaskan karbon dari organisme mati, karbon akan terus berkurang. Akibatnya akan semakin berkurang bahan baku untuk kelahiran organisme baru. Sehingga, proses pembusukan memainkan peran kunci dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem di bumi. Proses pembusukan adalah untuk mencegah penumpukan organisme mati.

Jika suatu bangsa telah dipenuhi “sampah-sampah” dengan wajah korupsi, kolusi dan nepotisme, maka perlu adanya upaya “pembusukan” oleh gerakan Civil Society. Sebab, sangat sulit tugas “pembusukan” itu dijalankan oleh pemerintah atau penguasa. Penguasaa kerap kali “berselingkuh” dengan oknum-oknum berintelektual, oligarki dan kaum kapitalis, sehingga upaya pembusukan itu hanyalah narasi, bahkan penindakan tanpa mencabut akar-akarnya. Penguasa kerap kali melakukan “pembusukan” tergantung pada orderan, bahkan bergantung pada apakah oknum yang hendak “digiling” musuh atau kawan. Oleh karena itu, “Pembusukan” mesti diambil alih oleh masyarakat akar rumput (Wong Cilik) melalui gerakan Civil Society.

Sejarah dunia mencatat bahwa orang jahat, penguasa arogan yang terorganisir akan mengalahkan orang baik, masyarakat kecil yang tidak terorganisir. Penguasa akan memenangkan pertarungan karena mereka memiliki seperangkat fasilitas untuk menipu dan menghasut masyarakat miskin dan kecil. Jika menghasut dengan narasi propaganda yang diciptakan oleh penguasa, aktor-aktor politik sombong, maka hegemoni pada saat yang sama menyusup masuk dalam nadi masyarakat rentan. Oleh sebabnya, kesadaran harus dibangkitkan. Kekritisan harus dihidupkan kembali.    

Melihat beragam dinamika dan kontestasi di bangsa kita hari-hari ini, maka tidak berlebihan bila kita harus berharap pembusukan segera terjadi. Pembusukan bila perlu terjadi lebih cepat lebih baik. Sebab, indonesia akan menyambut masa emas dan hadirnya bonus usia produktif anak-anak bangsa di tahun 2045. Pembusukan terjadi sekaranga, dengan demikian kematian aroganisme para elit dan kepentingan diri para penguasa terurai.

“MALU SPIRITUAL” MENGHILANG DALAM SAMUDRA RAYA KEKUASAAN

“Malu Spiritual” merupakan perasaan batin manusia yang muncul tatkala keinginan untuk melanggar nilai-nilai, prinsip-prinsip etis-moral atas dasar kepentingan apapun. “Malu Spiritual” pada satu sisi merupakan perasan yang mengontor sikap dan perilaku seseorang dalam menjalani hidup bersama di ruang publik. Sedangkan,  pada sisi yang lain perasaan ini membuat orang merasa bersalah, malu dan menuntut seseorang untuk mengungkapkan kebersalahannya di depan publik.

Di Indoensia hari-hari ini, “Malu Spiritual” menjadi fenomena yang langka, bahkan sulit kita jumpai dalam ruang publik kita. Banyak aktor politik, pejabat-pejabat negara selalu tampil dengan senyum di depan kamera yang menyorot, kendati menjadi tersangka dalam kasus-kasus korupsi, Nepotisme dan sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa “Malu Spiritual” tidak ada pada diri para “penjahat” ini. Semua merasa baik-baik saja, kendati tindakan mereka merugikan negara, merampas hak-hak masyarakat miskin, bahkan mematikan demokrasi.

Fenomena yang terjadi sekarang disebabkan oleh hasrat untuk menguasai (berkuasa dibidang Ekonomi, hukum, politik dan sebagainya). Yang kaya merasa perlu menambah kekayaan dengan cara korupsi, menerima suap dan lain-lain. Mereka yang sudah berkuasa ingin mempertahankan kekuasaan dengan cara nepotisme dan seterusnya. Lebih lanjut, fenomena “Malu Spiritual” menghilang, karena terkesan hukum tumpul keatas, tajam kebawah. Masyrakat kecil menjadi sasaran empuk hegemoni politik, hukum dan ekonomi. 

Dalam situasi yang demikian, perlunya pembaharuan yang radikal. Negara mesti meciptakan hukum yang ekstrim tegas (seperti memiskinkan, memecat, menghapus hak –hak politik seumur hidup dll.,). Selain negara, lembaga-lembaga keagamaan pun mesti melakukan pendampingan “Pastoral” yang intens dan tidak disandera oleh rasa segan dan sungkan yang palsu.

SUARA “MADILOG” MENYERUAK DI UDARA, TERHALAU NAPSU POPULARITAS

Seiring perkembangan peradaban manusia, teknologi Informasi menjadi sarana untuk membaca, mengetik, mengirim dan mempropaganda. Semua orang menguji kecepatan jari dan menarik sebanyak-banyaknya Viewers tanpa memperhatikan kualitas konten. Kadar kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual “dibunuh” oleh banyaknya pembaca dan pengikut. Alhasil, tindakannya membuat luka pada bangsa ini.

Ruang publik Indonesia saat ini menampilkan secara vulgar bahwa Masyarakat tidak lagi memfokuskan perhatian pada fakta-fakta (Materialisme), sehingga apa yang dibaca, diketik, dikirim bukanlah konten atau informasi yang valid dan mendidik. Ketika menerima berbagai informasi propaganda, masyarakat tidak lagi mempertimbangkan dengan hati yang bersih, melainkan merespon dengan beragam ujaran kebencian pada sesama anak bangsa (Dialektika). Setiap detik pemberitaan yang masuk dalam “dunia yang digenggam”, baik ujaran kebencian, doktrin-doktrin sesat dan sebagainya, masyarakat tidak mempertimbangkan dengan pikiran yang jernih dan sejuk (Logika).

Jika bangsa ini terus seperti ini. Tidak ada pembaharuan yang masif dan serius oleh kaum intelektual dan tokoh-tokoh publik, maka kesakitan bangsa ini akan semakin parah. Virus kebodohan akan menjalar di seluruh tubuh bangsa ini. Organ-organ tubuh bangsa Indonesia yang seharusnya berfungsi menyalurkan makanan yang sehat dan bergisi diserang dan dihancurkan oleh virus yang tak kasat mata itu.

“MADILOG” adalah gagasan yang perlu diinternalisasikan kembali. “MADILOG” harus menjadi konten pembelajaran bagi seluruh masyarakat yang miskin, maupun yang kaya. Yang berjabatan tinggi maupun yang pemulung dijalanan. Sebab, hanya dengan menghidupkan “MADILOG”, bangsa ini perlahan-lahan sembuh dari sakit. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak terluka. Melainkan ia yang berupaya mencari obat penawar sekaligus membersihakan luka-lukanya untuk sembuh dari sakit.

TANDA-TANDA PEMBAHARUAN MUNCUL DALAM KESESAKAN MASA KINI.

Dunia Bergerak seperti sebuah misteri yang tidak kita pahami. Tapi, kita akan selalu menemukan ruang yang mengantarkan kita pada jawaban-jawaban, harapan-harapan, mimpi-mimpi yang kita cari. Secara Spiritual-Teologis, kita perlu mempertimbangkan apa yang diucapkan oleh Teolog besar Indonesia, Eka Darmaputra; “Allah Tak Hanya berbisik melalui pengalaman-pengalaman kita yang menyenangkan. Allah tidak hanya berbicara melalui getaran-getaran kesadaran hati nurani kita. Namun, Dia juga berteriak keras-keras melalui kesakitan-kesakitan, luka-luka bangsa, bencana etis-moral sosial, dan penderitaan-penderitaan publik. Semuanya itu adalah Megafon Allah bagi bangsa Indonesia.”

Refleksi kita, sebagai bangsa yang dituntun oleh Prinsip-prinsip agama, berdasar pada nilai-nilai ketuhanan dan berakar pada iman yang utuh kepada KeTuhanan Yang Maha Esa, maka perlu sampai pada kesadaran bahwa semua Kesesakan masa kini yang dialami bangsa ini adalah suara Tuhan bagi bangsa yang dijanjikan ini.

Bangsa ini, dengan melihat berbagai fenomena yang terjadi, seharusnya kita mulai jujur bahwa mungkin selama ini kita beragama, tapi tidak berTuhan, apalagi beriman. Karena itu, nilai-nilai etis-moral, kesadaran akan makna demokrasi kerakyatana mulai memudar, bahkan nyaris menghilang dari wajah bangsa ini. Sebagai anak bangsa yang hidup dalam pengharapan, pembaharuan harus dimulai. Pembaharuan harus diupayakan dengan melakukan “pembusukan” masal, menghidupkan kembali kesadaran “Malu Spiritual”, dan mengindahkan kembali “MADILOG”. Dengan itu, bangsa Indonesia akan menjadi negara maju, sekaligus beradab. Menjadi negara adikuasa, sekaligus hidup dalam komunalisme dan bukan indiviualisme.

SEBUAH SUMPAH UNTUK BANGSA DAN NEGERIKU, oleh: Florit P. Tae

SEBUAH SUMPAH UNTUK BANGSA DAN NEGERIKU, oleh: Florit P. Tae

refleksi hari sumpah pemuda 28 Oktober 2023 oleh Florit P. Tae

“Kami pemuda-pemudi bersumpah; Berpolitik Etis dan adab, berdemokrasi kerakyatan, melawan Domestikasi Politik kepentingan atas nama persatuan. Kami Pemuda-pemudi bersumpah; mendidik bangsa dan Negeri dengan ide dan karya, melawan kendaraan politik yang bersuara menarik belas kasihan. Kami Pemuda-pemudi Bersumpah; Berbakti tulus demi tanah terjanji Indonesia Merdeka.”

Ketika Nusantara dijajah oleh bangsa yang mencintai Imperialisme dan kolonialisme, para pemuda gerah karena Imperialisme dan kolonialisme adalah duri dalam daging yang mencabik dengan perih tanpa mengingat air mata, keringat dan darah yang mengalir dari tubuh yang kecil dan tulang yang kering. Dengan penuh gairah dan keberanian, kendati nyawa dan tubuh terancam senjata laras Panjang, para pemuda berkumpul dari berbagai wilayah Nusantara dalam kongres Pemuda 27-28 Oktober 1928 yang kemudian melahirkan sebuah sumpah monumental yang menampilkan sebuah pertunjukan tetrikal yang luar biasa menggetarkan. Sumpah itu monumental sebagai sebuah akta spiritual-filosofis yang digagas oleh pemuda-pemudi yang senasib sepenanggungan. Sebab, saat itu masih terpecah belah, belum memahami arah perjuangan menuju Kemerdekaan.

Waktu berlalu, perjuangan bersama terus digerakan, berbagai strategi tercipta dengan satu harapan Indonesia mencapai jembatan emas (Kemerdekaan). 17 Agustus 1945 tiba, disambut ribuan masa berteriak “Bendera harus berkibar, lagu Kebangsaan harus dikumandangkan, teks proklamasi harus dibacakan” dan Bung Karno dalam keadaan sakit dan dengan suara tersendat ia mengucapkan naskah proklamasididepan Istana Merdeka. Peristiwa bersejarah dan menyejarah ini tidak dapat dilepaskan dari perjuangan pemuda. Namun, hari proklamasi kemerdekaan bukan akhir perjuangan bangsa dan pemuda Indonesia. Hari itu menurut Bung Karno adalah sebuah jembatan Emas untuk mencapai Indonesia Merdeka yang sungguh-sungguh Merdeka (Merdeka dari kemiskinan, ketimpangan sosial-ekonomi-politik, lemahnya sumber daya manusia, dan sebagainya). Kemerdekaan ini derengkuh dalam mandat Sila-sila Pancasila yang digagas sebagai falsafah bangsa. 

Indonesia menjadi sebuah bangsa Besar, bangsa dengan spirit Demokrasi yang luar biasa popular, spirit tersebut digemakan oleh seluruh rakyat miskin dan kaya, berpendidikan tinggi maupun rendah, berdasi maupun tidak berdasi. Sebauh menggemakan demokrasi dalam setiap tarikan nafas mereka. Namun, apakah system Demokrasi yang dimaksudkan bukan demokrasi Langsung, demokrasi representatif, demokrasi dpresidensial, demokrasi parlementer, demokrasi partisipatif, demokrasi islam, maupun demorasi sosial. Demokrasi yang dimaksud dan sejogyanya diterapkan adalah Demokrasi Kerakyatan. Inilah Prinsip Demokrasi yang dimaksudkan oleh Bung Hatta dan ditekankan oleh Bung Karno dalam Teks Pancasila. Atau dengan kata lain, Demokrasi Indonesia adalah Demokrasi yang berakar dan berdasar pada Pancasila (Demokrasi Kerakyatan/Demokrasi Pancasila).

Kini, sebagai Pemuda perlu bertanya, apakah realitas hari-hari ini adalah kita tengah berjalan menuju Indonesia Merdeka yang sungguh-sungguh Merdeka? Apakah system Demokrasi yang sedang digembar-gembor adalah demokrasi Kerakyatan? Apakah kaum Tua pemegang kendali Kendaraan Politik sedang Mencontohkan demokrasi? Apakah mereka yang katanya berpengalaman percaya pada kaum muda? Apakah realitas politik kita hari ini sudah berjalan baik tanpa iming-iming kampanye yang beraroma agamis? Dan masih ada banyak pertanyaan lainnya yang perlu kita minta dipertanggungjawabkan. Tapi, rasanya semua pertanyaan jikadiuraikan, bahkan dunia ini tidak mampu menampung pertanyaan-pertanyaan kita.

PEMUDA, DEMOKRASI DAN POLITIK 

Politik merupakan suatu usaha untuk mencapai sebuah kehidupan Masyarakat yang lebih baik, dan politik dalam bentuk yang paling baik ialah usaha dalam mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan. Karena itu, sebagaimana direnungkan oleh Johanes Leimena, “Politik adalah etika untuk melayani dan bukan alat untuk berkuasa”. Tentu yang dimaksudkan oleh Leimena adalah jika menjadi politisi, mendapatkan jabatan structural dalam politik, disitulah anda berkesempatan untuk melayani, dan pelayanan anda tidak terbatas pada keluarga, kelompok, melainkan banyak orang dan sekaligus berpegang pada keadilanekologis, humanis, keadilan hukum dan seterusnya. Bukan sebaliknya, kesempatan duduk pada jabatan politik, mendapatkan kekuasaan dari rakyat, lalu anda menjadi penguasa yang memperdaya dan bukan memberdayakan orang lain. Politik adalah Etika dalam kerangka ideal adalah mempertahankan kekuasaan, mengambil kekuasaan dengan cara yang etis-pancasilais, dengan mengabdi pada demokrasi berkerakyatan yang adil dan beradab. 

Pada kerangka politik yang ideal ini, Demokrasi Kerakyatan mendapat tempat yang paling special dan harus diagungkan. Hal-hal yang mengenai politik dinasti, politik kepentingan kelompok, kendaraan politik yang angkuh dan mendomestikasi seluruh pengikutnya untuk tunduk dan taat pada keputusan ketua umum harus dihindari dan jangan sekali-kali bicara atas nama demokrasi dan mendesain strategi politik belas kasihan demi merayu rakyat yang kecil. Politik yang demikian adalah benalu bagi bangsa dan Negara.Selanjutnya, politik juga akan menjadi benalu, bila para pemain dipanggung politik bergerak dan “menjual diri” atas nama identitas agama. Pertunjukan yang demikian cukup meraja lela dalam ruang public Indonesia yang pancasilais ini. Pemuda harus melawan dengan cara yang etis dan provisional.  

Peran pemuda penting, sebab masih sangat detail mencatat perjuangan para pemuda yang berjuang secara politik-demokratis untuk memperjuangkan kemerdekaan serta menciptakan demokrasi yang berkeadilan. “Pemuda adalah tulang punggung dan penentu arah bangsa” bukanlah semboyan tanpa spirit, bukan juga semboyan tanpa eksistensi. Semboyan itu adalah benar-benar nafas yang menghidupkan politik dan demokrasi berintegritas. Dengan berucap demikian, tidaklah berarti pemuda menafikan perjuangan kaum Tua, atau menyangkali kebijaksanaan mereka yang tua. Gerak Langkah kaum tua yang dinamis telah mencapai puncaknya dan seharusnya mereka mengakhiri perjalanan Panjang dan bersenayamlah sebagai penasehat yang bijak dan bukan menjadi generasi yang mencipta otoritarianisme. Regenerasi dan pengalihan mandat harus bergerak menuju pemuda, dan biarkan mereka menyambutnya untu bergerak maju. Sebab, pemuda selau bergerak secara dinamis. Politik digenggam oleh kaum muda, ditangan mereka akan menabur benih demokrasi yang sejalan dengan spirit Pancasila. Jika ada pemuda yang bertindak sebaliknya, maka ia adalah manusia yang Amnesia History. Gerak langkahnya harus dipenjara untuk mendapatkan Pendidikan yang layak. 

Pemuda, Demokrasi dan Politik adalah gagasan yang dinamis. Pemuda adalah sel-sel aktif yang berperan untuk menciptakan kesejahteraan bangsa dan negara. Kendati demikian, pemuda harus diperkaya dengan ide dan gagasan dalam karya dan pelayanan. Pemuda harus terus merestorasi pikiran dan kapasitas. Sebab, pemuda hanya akan menjadi harapan yang tepat, bila ia melepaskan diri dari kesombongan dan individualistis, kecerobohan dan keberanian yang membuta, serta kepakaran yang mati dan terhanyut oleh kepentingan sesaat.

PEMUDA, IDE DAN KARYA

Pada tahun-tahun perjuangan menuju kemerdekaan, pemuda menggagas banyak terobosan. Semangat untu berkumpul dan mendiskusikan hal ihwal terkait bangsa dan negara dilakukan secara massif dan terstruktur. Pemuda-pemudi dengan mempertaruhkan segalanya, mereka berjuang tanpa lelah, memeras otak, tenaga dan psikis karena mimpi dan harapan harus terwujud. Imperialisme dan kolonialisme harus dilawan. Sebab, spirit pemuda adalah dinamis dan aktif. 

​Pertunjukan teatrikal supah pemuda 1928, perjuangan memproklamirkan kemerdekaan 1945, Upaya mengembalikan demokrasi dimasa-masa orde baru 1998, sampai menyambut bonus domografi 2045, semuanya ditangan pemuda. Pemuda mampu menciptakan peralatan untuk membawa Indonensia menyambut kemerdekaan yang sungguh-sungguh memerdekakan. Segalanya ada ditangan pemuda. Oleh karena itu, pemuda harus memiliki Ide, harus inovatif, harus memiliki mimpi jangka Panjang, harus berani menciptakan karya yang berdampak universal, harus memiliki perspektif global dan humanis. Jika tidak maka ide hanya akan mengendap dalam tanah kering yang sedang diolah kaum tua yang picik, namun bersuara atas nama kemaslahatan bangsa. 

​Sebagai pemuda, mari kita amati bangsa dan Negra yang kita cintai. Mari kita terbuka dan jujur bahwa bangsa kita, sedang digenggam oleh kaum tua sebagai pengendali kendaraan politik. Mereka kerap bersuara mengutuk lawan atas nama keadilan, seolah mereka dikhinati. Padahal, itu hanyalah suara yang menyeruak diudara, menarik simpati, memainkan politik belas kasihan demi dan untuk kepentingan kelompok dan kekuasaan tanpa batas. Mereka tidak sedang mencontohkan demokrasi kerakyatanan, melainkan demokrasi yang dipertontonkan adalah demokrasi belas kasih dan untung-menguntungkan. Banyak pemegang kendali kendaraan politik, merasa dikhinatai lantara berbeda pilihan dan pikiran. Itulah sebabnya, pemuda harus bergerak. Pemuda harus serius. Pemuda harus cerdas dan jeli melihat realitas panggung politik dewasa Ini. Mari kita sadar bahwa kita disuruh bergerak, tapi kaki kita diselimpung. Kita disuruh berdisiplin, sedang mereka mencontohkan yang lain. Mereka menyuruh kita bertindak, tapi setiap tindakan mereka curigai.       

​Sebaliknya, pemuda yang tanpa perjuangan dalam rangka mencapai kekuasaan, melainkan dibentangkan “karpet merah” dan dengan mudah menjejaki panggung kekuasaan adalah pemuda yang pencundang dan tidak layak dianggap sebagai symbol atau representative kaum muda. Sebab, pemuda yang demikian, tanpa perjuangan yang murni dan mendapat kekuasan yang instan, bersuara atas nama demokrasi adalah pemuda yang menyangkal Sejarah Panjang perjungan kaum muda. 

PEMUDA MERAWAT DEMOKRASI, MEWUJUDKAN KEMERDEKAAN

Politik adalah wilayah yang paling keras dan beresiko, karena itu orang-orang muda yang semestinya mengambil bagian di wilayah ini. Sebab, wilayah ini butuh agresifitas yang terukur, keberanian yang inovatif, perjuangan yang total. Politik harus Kembali dalam genggaman kaum muda. Demokrasi harus dirawat oleh kaum muda. Jika pemuda yang bermain dipanggung politik tanpa perjuangan, melainkan sebaliknya menerima estafet karena “Nepotisme”, perlahan-lahan akan dicatat oleh Sejarah dengan tinta emas bahwa pada suatu masa yang lampau, ditangan seorang pemuda, anak pejabat demokrasi mati, walau suaranya berdering kencang seolah ia berkuasa secara demokratis dan melalui jalan demokrasi. 

​Diatas Pundak pemuda, demokrasi kerakyatan diletakkan. Sebab, hari-hari ini, system demokrasi yang diselenggarakan tidak lain dan tidak berbeda dengan system demokrasi pada umumnya. Indonesia memiliki system demokrasi yang unik dan digali dari Rahim Indonesia, kendati ada inspirasi dari pikiran-pikiran para pakar politik dan filosoif melalui buku-buku mereka yang pernah dibaca oleh para pendiri bangsa. Demokrasi kerakyatan adalah sebuah proses yang dilakukan oleh rakyat kecil, miskin dan lapar sebab mereka yang membutuhkan seorang pemimpin yang tau dan merasakan detak jantung mereka. Demokrasi kerakyatan adalah sebuah prinsip berpolitik yang mengangkat pemimpin untuk menyuplai kesejahteraan bagi merek yang benar-benar membutuhkan, dan bukan dipergunakan oleh mereka yang kaya-raya, berkuasa untuk menentukan pemimpin bangsa. Sebab, mereka yang kaya-raya, dan berkuasa akan memilih pemimpin demi kepentingan dan mengamankan posisi sendiri dan kelompok, namun berbicara seolah mereka demokratis.

Hari proklamasi kemerdekaan 1945, merupakan jembatan emas. Kita baru melangkah ke seberang pulau yang kaya dengan susu dan madu melalui jembatan ema situ. Tapi, apakah kita sedang berjalan menyambut kemerdekaan yang benar-benar merdeka.? Rasanya kita perlu bertanya berulang kali, sebab hari-hari ini kita dikatakan Merdeka, tapi mereka memilihkan segalanya untuk kita. Parat elit politik merebut kekuasan dengan dinasti. Bahkan dinasti telah tercipta sejak dalam partai-partai politik. Para elit poitik dan penguasa mempertontonkan sandiwara politik yang lucu dan menjadi benalu bagi negara. Mereka berperang satu sama lain untuk memperebut kekuasaan atas nama rakyat dan Pembangunan.

Pemuda kerap tidak memiliki tempat. Jikapun ada tempat, tiket hanya dimiliki mereka yang lahir dari Rahim penguasa, baik penguasa kendaraan politik (Parpol), maupun penguasa pemegang jabatan structural pemerintahan dan mereka yang memiliki segala sumber daya. Pemuda diragukan, kapasitas dan kapabilitas diabaikan, kekuasaan dilanggengkan oleh mereka yang kaya, segalanya mereka pilihkan untuk kaum muda bangsa. Jika segalanya terus dibiarkan, maka kaum muda akan menjadi penonton dan bukan pemegang kendali politik yang etis-beradab, demokratis berkeadilan dan perlahan-lahan demokrasi kerakyatan yang digagas para pendiri bangsa menjadi kenangan ide tanpa realisasi.

Hari sumpah pemuda mengingatkan kita pada ikrar janji monumental para pemuda yang berjuang untuk bangsa dan negara. Para pemuda merebut kejayaan dengan darah dan air mata demi terlepas dari kolonialisme dan imperialisme. Kendati saat ini, kita telah terlepas dari penjajahan seperti diatas, kita harus juga melihat model penjajahan yang hari ini menggerogoti bangsa dalam wajah yang lain. Penjajahan dalam wajah pengendalian politik, ekonomi dan kekuasaan structural adalah penjajahan bentuk modern yang harus dilawan. Kaum muda harus mengikrarkan janji yang baru sama sekali. Dengan ini tidak berarti kita mengkerdilkan ikrar sumpah pemuda 1928, melainkan sumpah pemuda yang baru sama sekali, dengan bertolak dari realitas penjajahan dalam bentuk modern. Sekiranya kita berujar demikian; “Kami pemuda-pemudi bersumpah; Berpolitik Etis dan adab, berdemokrasi kerakyatan, melawan Domestikasi Politik kepentingan atas nama persatuan. Kami Pemuda-pemudi bersumpah; mendidik bangsa dan Negeri dengan ide dan karya, melawan kendaraan politik yang bersuara menarik belas kasihan. Kami Pemuda-pemudi Bersumpah; Berbakti tulus demi tanah terjanji Indonesia Merdeka.”

Selamat Merayakan Hari Sumpah Pemuda. 

“Anak Muda yang Gaul di Mata Tuhan”, Refleksi Mazmur 119 : 9 oleh: Irma Tersia Mesen 

“Anak Muda yang Gaul di Mata Tuhan”, Refleksi Mazmur 119 : 9 oleh: Irma Tersia Mesen 

Refleksi Mazmur 119 : 9 oleh: Irma Tersia Mesen – Komisariat Rabi GMKI Kupang

“Anak Muda yang Gaul di Mata Tuhan”

Penulis : Irma Tersia Mesen  (Komisariat Rabi)

(Mazmur 119 : 9)

“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih dengan menjaganya sesuai Firman-Mu”

“Berbicara tentang anak muda berarti orang-orang yang usianya masih muda baik itu laki-laki maupun perempuan”.

Sebagai muda-mudi kita memiliki tanggung jawab yang besar di pundak kita ada bermacam-macam harapan terutama sebagai generasi penerus.

Firman Tuhan dalam pengkhotbah 11:9 berkata: Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! .

Firman ini mengatakan bahwa sebagai anak muda kita memiliki kebebasan atau peluang untuk menjalani kehidupan kita di dunia. Banyak tawaran yang ditawarkan oleh dunia kepada kita mulai dari pergaulan, lingkungan hidup dan hal-hal lain yang menarik untuk dinikmati apalagi di era perkembangan IT yang serba instan zaman sekarang.

Namun Tuhan menghendaki supaya kita (orang muda) menjauhi nafsu orang muda, karena segala keinginan untuk memenuhi hawa nafsu hanya akan membawa kita kepada kebinasaan. Karena itu orang muda harus memiliki kekariban dengan Tuhan supaya beroleh kekuatan untuk dapat menolak setiap hawa nafsu yang ada dan firman Tuhan juga mengingatkan kita bahwa sebagai anak-anak muda Kristen kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai dasar, sebagai pedoman hidup kita, agar jalan hidup kita sesuai dengan kehendak Allah.

Lebih dari itu kita harus memiliki komitmen untuk taat dan ketaatan hanya bisa dimulai dari diri kita sendiri.

Bagaimana caranya supaya kita bisa taat?

Ada 2 langkah untuk menunjukkan ketaatan yaitu :

Kenali diri

    Kita harus mengenali diri kita sendiri, mengenali potensi-potensi yang ada dalam diri kita, Kita juga harus punya cara pandang yang baik terhadap diri kita dan potensi yang kita miliki.

    Mandiri

    Mandiri berarti kita harus mampu mengambil keputusan sendiri, tertib bertanggung jawab atas pilihan kita dan yang lebih penting bisa mengendali diri.

    Pertanyaannya bagaimana kita bisa melakukan semua ini?  jawabannya sederhana saja pertama kita harus ambil tanggung jawab atas diri kita dan mulai mengelola kegiatan-kegiatan hidup kita intinya kita harus memiliki karakter/ mental yang kuat (tahan uji).

    Mari memulai dari hal-hal kecil, jadilah pemuda yang gaul di mata Tuhan dengan cara hidup seturut firman -Nya dan percayalah bahwa Tuhan akan membawa kita melihat hal-hal besar  yang luar biasa.

    Syalom, Selamat beraktivitas, kiranya renungan kali ini menjadi alasan mutlak bagi kita untuk tetap menjaga kelakuan kita dan biarlah Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus.  Amin. ”UOUS”

    Gambar Allah yang Bermitra bersama kita dalam Realitas Perbedaan, Konflik, Kekerasan di Bumi Indonesia, oleh: Janter E. Rano Baki

    Gambar Allah yang Bermitra bersama kita dalam Realitas Perbedaan, Konflik, Kekerasan di Bumi Indonesia, oleh: Janter E. Rano Baki

    Janter E. Rano Baki – Staf Kerohanian BPC GMKI Kupang MB 2020-2022

    (Surat Efesus 4:1-16)

    Syalom….. Kata “syalom” berasal dari bahasa Ibrani mengandung makna mendalam, bahwa damai sejahtera Allah dalam kehidupan kita, manusia, dan termasuk segenap ciptaan-Nya. Kata syalom sangat berarti dalam realitas keberagaman saat ini dan seterusnya. Bagaimana damai sejahtera Allah yang bertahkta di atas realitas kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia, bahkan dalam unit terkecil dalam keluarga?

    Kita hidup di tengah perbedaan dan menjadi ancaman konflik yang silih berganti baik sesama individu maupun dalam komunitas tertentu. Ancaman demikian dilatarbelakangi, bahwa fakta menunjukkan setiap orang memiliki keunikan masing-masing (kelebihan dan kelemahan), cara berpikir, tujuan, impian, dan kepentingan yang beragam. Bahkan, anak yang kembarpun secara fisik sama, namun berbeda dengan keunikan, cara berpikir, tujuan, impian, dan kepentingan. Dalam konteks bergereja, setiap kita mempunyai karunia dan peran yang beragam. Apalagi, dalam konteks berbangsa, kita hidup dengan kekayaan budaya dan agama. Lantas untuk apa semuanya itu bagi kehidupan kita, jika benar bahwa perbedaan itu menghasilkan ancaman dan konflik semata?

    Fakta di balik sejumlah perbedaan yang ada, tersirat kekuatan besar yang mestinya kita sadari dan gali bersama. Kita perlu sadar, bahwa perbedaan adalah anugerah Allah. Cara pandang kita perlu dibaharui. Cara hidup kita perlu dibenahi menurut maksud Allah. Setiap keunikan kita adalah kekayaan dari anugerah Allah (pemberian). Maka, sepatutnya setiap pemberian Allah itu kita kelola bersama secara tepat. Pertanyaan kunci yang menjadi reflektif bersama adalah bagaimana kita mengelola (mentransformasi) perbedaan sesuai kehendak Allah?Pertanyaan ini mewakili sejumlah kegelisahan, bahwa perbedaan menimbulkan konflik yang berujung kehancuran relasi, menimbulkan trauma, perlakuan kekerasan verbal (hujatan, cemooh antar agama maupun budaya), diskriminasi, bahkan kekerasan fisik. Dalam kehidupan berbangsa, penganut agama Kristen sebagai kaum minoritas di tengah bangsa ini seringkali mendapatkan perlakuan tidak adil dari pihak tertentu yang memiliki kepentingan dan menyalahgunakan kekuasaan. Maupun sebaliknya, kaum minoritas seringkali juga mendukung jalan kekerasan sebagai upaya mempertahankan dirinya.

    Konflik tidak selamanya mendatangkan kehancuran, tergantung bagaimana kita sebagai mitra Allah mampu melakukan kehendak Allah sehingga mentransformasi konflik perbedaan yang ada pada akhirnya semakin mempererat relasi, semakin membangun toleransi, dan bahu-membahu. Inilah yang menjadi fokus utama kita dan panggilan iman kita bersama. Kita tidak bisa terhindar dari pada konflik, namun kita mentransformasi konflik yang ada.

    Rasul Paulus menyinggung soal bagaimana orang percaya dan juga melibatkan orang lain turut mentransformasi konflik perbedaan, dalam surat Efesus 4:1-16. Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Efesus bahwa sebagai mitra Allah, mereka harus menjaga kesatuan dalam persekutuan. Karunia memang berbeda-beda. Namun, Allah yang memberi karunia, hanya satu. Karena itu, setiap orang perlu bersikap menghargai satu sama lain. Setiap orang perlu memanfaatkan berbagai karunia untuk melayani Allah dan sesama. Dalam nasihat Paulus, ada empat poin penting bagi kita sebagai mitra Allah untuk mengelola perbedaan yang ada. Kita memerlukan empat fondasi yang kokoh.

     Pertama, orang beriman mesti memiliki tabiat/karakter yang baik (ay. 1-2). Apa itu karakter yang baik? Karakter yang baik adalah adalah sifat-sifat mulia yang mesti dimiliki seseorang. Paulus menyebutkan kerendahan hati, lemah lembut, sabar, suka menolong sesama, dan menjaga keharmonisan di dalam hidup bersama. Soal rendah hati, kita berat. Kita yang suka mengandalkan diri dan merasa inti sehingga orang lain diabaikan. Sebagai tubuh Kristus, ia belum menyerahkan dirinya secara utuh kepada Kristus. Karena dalam tubuh Kristus tidak ada yang lebih besar atau dominan dari pada orang lain, karena semuanya sama-sama setara dan berharga di hadapan Allah. Orang yang rendah hati tidak muda terpengaruh dari kelicikan isu politik atas nama agama untuk tujuan politik pihak tertentu. Dia mampu menjauhkan diri dari ujaran kebencian, kekerasan, dan balas dendam. Oleh karena orang yang rendah hati menguasai dirinya sebagai dampak didikan dari Allah atas kehidupannya. Soal kasih, kita dapat menghargai perbedaan, bahkan “merayakan” perbedaan yang ada. Karena hanya dalam kasih Allah, kita dari berbagai latar belakang agama dan budaya dapat melebur dalam relasi yang sehat dan membangun, bahkan bertumbuh bersama-sama. Karena hanya kasih yang dapat mendorong kesadaran dan tanggung jawab kita sebagai mitra Allah. Kasih demikian sangat urgen dalam kehidupan bersama. Apalagi kita masyarakat NTT secara khusus memiliki kekuatan komunitas yang kuat. Kasih mendorong kita bersatu melawan segala bentuk kekerasan dalam konflik yang ada. Isu agama yang memecah belah kita, terkhususnya relasi Kristen dan Islam hancur akibat elit politik tertentu yang berniat memperoleh kuasa. Kita, Kristen dan Islam dari satu keturunan Abraham, namun persaudaraan kita renggang akibat penyalahgunaan politik (berkuasa tanpa kasih Allah), yang sebenarnya tujuan politik adalah mendatangkan damai sejahtera. Misalnya Kitab Suci dipakai oleh pihak tertentu sebagai media untuk mendukung konflik dan kekerasan agar meraup keuntungan politik. Fondasi demikian yang kita lupakan dan abaikan, bahwa faktanya kita bersaudara dari keturunanan Abraham (Isak; lahir keturunan Yahudi, Kristen dan semua orang percaya, dan Ismael; Islam). Fondasi demikian memungkinkan persatuan kita, bahwa sebagai saudara yang memiliki peran dan tanggung jawab yang beragam. Relasi Kristen dan Islam, saya gambarkan sebagai “rumah” yang memiliki kamar masing-masing. Jika kita telah memahami kita adalah satu rumah, satu keluarga, maka kita harus berperang bersama orang asing dari dalam rumah atau luar rumah yang merusak relasi kita.

    Kedua, kesatuan yang mengedepankan damai sejahtera Allah (ay. 3-7). Sekelompok orang bisa bersatu karena berbagai faktor. Ada yang dipaksa orang lain. Ada yang bergantung pada orang lain. Ada yang sekadar ikut arus. Sebagai orang percaya, persekutuan kita tidak didasarkan pada faktor demikian. Sebaliknya, persatuan mesti terjalin akibat adanya ikatan damai sejahtera. Artinya bahwa dalam ikatan persekutuan itu, semua pihak merasa aman, nyaman, dan harmonis satu terhadap yang lain. Orang merasakan kehadiran kita sebagai “rumah” bukan “penginapan”. Satu sama lain tidak merasakan asing dengan yang lain. Karena ada perasaan senasib sepenanggungan dalam persekutuan. Persekutuan dalam satu tubuh, satu Roh, satu pengaharapan di dalam Allah. Dalam hal ini, persatuan bukan berarti satu untuk semua dan bukan pula semua untuk satu. Tapi, persatuan adalah semua untuk semua. Jadi, semua yang terlibat dalam ikatan persatuan itu mempunyai tanggung jawab yang sama untuk memelihara damai sejahtera Allah.

    Ketiga, Allah yang menciptakan perbedaan agar setiap orang bekerja sama membangun Tubuh Kristus (ay. 8-14). Perbedaan itu ciptaan Allah. Karena itu, perbedaan perlu dipandang sebagai anugerah Allah. Karena itu, semua bentuk perbedaan mesti dipakai untuk kemuliaan Allah. Kita memuliakan Allah dengan menghargai setiap keunikan orang masing-masing. Sebab, apa pun keadaan seseorang, dia merupakan ciptaan Allah. Jika kita menghina orang lain karena merasa kita berbeda, maka kita telah menghina Allah yang menciptakannya. Siapakah yang pantas menghina Allah? Tidak ada! Kita terbatas memahami karya Allah. Itu sebabnya, perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan dan kekerasan. Kita dapat memahami maksud Allah ketika kita melakukan firmanNya. Allah menghendaki kita dengan keunikan, kelebihan, kelemahan, cara pandang, impian, kepentingan yang ada difokuskan untuk kebaikan bersama. Jika kita melakukan hal demikian, maka tidak ada lagi penghalang atau tembok dalam relasi kita beragama maupun antar budaya, karena Kristuslah yang memimpin persekutuan kita. Allah bermintra dengan kita, ketika kita sebagai Gereja, Masyarakat, Pemerintah, Lintas Agama, dan Lintas Budaya bekerja sama mendatangkan damai sejahtera Allah secara nyata dalam kehidupan bersama.

    Keempat, Allah yang memberikan keteraturan (ay. 15-16). Itu berarti, bahwa Allah mau supaya semuanya rapi. Tiap bagian tersusun sesuai tempat yang Allah berikan. Dalam hal ini, setiap orang memahami tugas, peran dan tanggung jawab masing-masing. Karya dan pelayanan memang berbeda. Namun, semuanya diarahkan untuk kemuliaan Allah, bukan kemuliaan diri kita atau orang tertentu. Keteraturan dapat terjadi jika kita sudah memiliki karakter Kristus, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat 2a, yakni rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Karakter tersebut hendaknya diwujudnyatakan dalam kehidupan berelasi dengan sesama dalam konteks bergereja dan bermasyarakat. Setiap karunia yang kita miliki tidak ditujukan kita berbangga, berkuasa, dan menyombongkan diri sendiri, melainkan saling melengkapi dan membangun satu dengan lainnya. Keteraturan Allah membuat rumah kita (Indonesia) dengan kamar masing-masing, yakni lintas agama dan lintas budaya menjadi kokoh. Karena itu, rumah yang kokoh adalah karya Allah yang sedang bermitra dengan kita dari latar belakang agama dan budaya yang beragam untuk bersatu dan saling bekerja sama membangun Tubuh Kristus.

    Kita membutuhkan rumah yang kokoh demikian untuk menghadapi krisis relasi antar agama dan budaya yang semakin goyah akibat penyalahgunaan politik (misalnya ancaman politik identitas demi kepentingan tertentu). Kita sebagai mitra Allah terpanggil menjadi rumah yang kokoh melalui jalan kerja sama dan melibatkan Allah, sehingga mentransformasi konflik dan kekerasan yang diciptakan oleh pihak-pihak Perusak Hubungan dalam Gereja dan Bangsa (PHGB) dengan berbagai bentuknya (sejarah dan masa kini) dan tantangan di masa yang akan datang.

    “Belahan Jiwa”, Refleksi Kejadian 2:18 oleh: Ferdi Aryanto Babu

    “Belahan Jiwa”, Refleksi Kejadian 2:18 oleh: Ferdi Aryanto Babu

    Ferdi Aryanto Babu – Komisariat Salam GMKI-Kupang

    Penulis: Ferdi Aryanto Babu (Komisariat Salam)

    Firman : Kejadian 2:18

    TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

    Dari sebuah laman medsos, saya mendengarkan suatu kesaksian dari seorang hamba Tuhan yang cukup terkenal. Saat ditanya tentang awal mulanya memilih Yesus sebagai Juruselamat, ia berkisah bahwa ia menemukan Yesus di dalam kamarnya, saat ia sedang berencana untuk mengakhiri hidupnya. Telinganya mendengar langsung suara Yesus yang berkata, “Aku, Yesus, mengasihimu.” Suara yang tidak pernah lagi didengarnya secara langsung itu, membuat hidupnya berbalik total. Dan tahukah Bung dan Usi sekalian,mengapa saat itu ia ingin mengakhiri hidupnya? Pacarnya memutus cinta. Sesuatu yang amat berarti baginya telah direnggut. Sadarilah bahwa ketika Bung dan Usi sekalian mulai menunjukkan perhatian khusus saat mendekati seseorang yang Bung dan Usi cintai, saat itu Bung dan Usi sedang mengincar sesuatu yang teramat berarti dalam hidupnya, yaitu hatinya. PDKT atau apapun istilahnya di kalangan muda, tidaklah sesederhana itu untuk dipermainkan. Berhati-hatilah dengan hati seseorang, apalagi ketika kita sudah mengikat komitmen yang lebih serius dalam ikatan pernikahan.

    Amsal 4:23 mengatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Hati manusia memancarkan kehidupan. Seorang pria dipenjara karena percaya pada Yesus. Setiap hari, ia menerima pukulan dari salah satu sipir penjara. Namun, tiap kali itu pula, ia berkata, “Aku tidak akan membalas, karena aku tahu Tuhan Yesus mengasihimu.” Semakin hari, semakin banyak pukulan yang harus diterimanya, sampai suatu hari ia ditantang akan dihabisi oleh sang sipir. Jawaban yang sama membuat sang sipir tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Dalam pelukannya, sipir itu memintanya untuk membawa dia kepada Yesus. Hati yang dipenuhi kasih Yesus telah memancarkan kehidupan yang sejati. Sebagai pengikut Yesus, mari pancarkan kehidupan dengan menjaga hati kita dan menjaga hati orang lain, istimewanya bagi belahan jiwa kita, pasangan hidup kita. Mulailah dari masa berpacaran. Hormatilah kekasih hati, pasangan atau belahan jiwa kita, dengan menjaga hatinya.

    Allah adalah inisiator kehidupan keluarga. Sejak semula, Tuhan ingin kita saling bertolong-tolongan, dengan sepenuh hati. Terpujilah Yesus!

    Doa: “Bapa, ampunilah jika aku sering menyakiti hati-Mu dan hati sesamaku, termasuk pasangan hidupku. Tolonglah aku untuk menjaga hatiku dan hati sesamaku. Amin. ”UOUS”

    “PERUBAHAN PARADIGMA MEREDUKSI NILAI LUHUR BUDAYA” (Sebuah Kajian Kritis-Reflektif Terhadap Tradisi “Bawa Lari Perempuan” di Sumba) Oleh: Andraviani Fortuna Umbu Laiya

    “PERUBAHAN PARADIGMA MEREDUKSI NILAI LUHUR BUDAYA”
    (Sebuah Kajian Kritis-Reflektif Terhadap Tradisi “Bawa Lari Perempuan” di Sumba) Oleh: Andraviani Fortuna Umbu Laiya

    Andraviani Fortuna Umbu Laiya – Kabid Or GMKI Kupang

    Dalam refleksi atas sejarah yang telah berlangsung, tak terbantahkan bahwa Indonesia adalah medan yang memikat dengan keragaman budayanya. Realitas ini mengindikasikan bahwa tradisi budaya terus dilestarikan dalam masyarakat, sehingga membentuk identitas yang khas dari masyarakat Indonesia. Akan tetapi, dalam keragaman tersebut, sebuah pertanyaan filosofis muncul: Apakah budaya ini sungguh-sungguh dilestarikan atau hanya dijadikan sebagai latar belakang yang eksotis? Salah satu fenomena yang mencolok dalam budaya Indonesia adalah prosesi adat-istiadat perkawinan. Ini memang menjadi unsur khas yang mencerminkan pentingnya perkawinan sebagai kebutuhan sentral dalam proses peradaban manusia.

    Dalam konteks adat istiadat perkawinan, terdapat bahasa dan tindakan budaya yang sarat dengan makna dan simbolisme. Namun hal ini sangat terbuka terhadap berbagai tafsir individu yang berbeda. Ini menimbulkan pertanyaan yang sangat penting: Apakah masyarakat benar-benar memahami makna budaya ataukah hanya melihatnya melalui lensa interpretasi subjektif yang dapat mereduksi atau bahkan merusak nilai-nilai yang mendasarinya? Ini adalah tantangan filosofis yang mendalam. Sebab, sarat makna yang terkandung dalam suatu tradisi dengan berbagai tafsiran individu dan perubahan jaman dapat menyebabkan penyimpangan terhadap nilai-nilai substansional yang mendasari budaya tersebut sampai pada akhirnya mereduksi nilai dari budaya itu sendiri. Dalam hal ini, masyarakat adat bertanggungjawab secara bijaksana menjadi penjaga nyala budaya, bukan hanya menjaga kearifan lokal tetapi juga melindunginya dari angin penyimpangan yang dapat meredupkannya.

    Salah satu budaya Masyarakat Indonesia yang sangat kental dan terdapat nilai-nilai adat istiadat yang syarat makna ialah tradisi perkawinan di masyarakat adat Sumba. Dalam pemikiran orang Sumba, perkawinan dipandang sebagai peristiwa yang suci dan berkaitan erat dengan keyakinan mereka pada marapu. Marapu seperti yang diungkapkan oleh Kamuri dalam penelitiannya, merupakan inti dari kepercayaan asli orang Sumba. Prinsip-prinsip normatif dalam agama dan marapu menjadi panduan bagi mereka dalam memberi makna pada kehidupan dan mengatur perilaku yang pada akhirnya membentuk identitas budaya mereka.

    TRADISI PERKAWINAN MENGAKAR PADA KEPERCAYAAN TERHADAP MARAPU

    Kepercayaan terhadap Marapu menjadi dasar pandangan masyarakat Sumba terhadap dunia sekitar. masyarakat adat Sumba diarahkan untuk menjalankan prinsip-prinsip yang tertanam dalam tradisi marapu, dan ini juga berlaku dalam konteks perkawinan. Dalam perspektif marapu, perkawinan dianggap sebagai suatu keharusan. Orang yang menikah dianggap sebagai pelayan marapu, sementara mereka yang tidak menikah dianggap tidak ikut serta dalam peran tersebut (L.Bembot & D.Sermada, 2022:73). Oleh karena itu, dasar perkawinan menurut adat masyarakat Sumba adalah berkenaan dengan kehadiran seorang perempuan untuk saling membantu sebagai suami istri dengan tujuan menggenapi tuntutan dewa leluhur melalui pemelihara tradisi marapu.

    Dalam konteks budaya adat Sumba, perkawinan bukanlah sekadar urusan individu calon mempelai atau orang tua mereka. Sebaliknya, perkawinan dianggap sebagai permasalahan yang lebih luas, yang melibatkan kedua belah pihak Kabihu dalam masyarakat adat Sumba. Kabihu dalam konteks ini mencerminkan keberagaman identitas yang ada dalam masyarakat Sumba yang bisa merujuk pada suku atau klan tertentu. Pemahaman ini menunjukkan bahwa perkawinan adat bukanlah hal yang sepele, tetapi sebuah peristiwa yang melibatkan seluruh keluarga besar. Keputusan yang diambil dalam perkawinan ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap kelangsungan eksistensi Kabihu tersebut. Dalam pandangan budaya adat Sumba, perkawinan adalah proses yang menghubungkan dan memperkuat hubungan antara dua Kabihu. Oleh karena itu, konsepsi tersebut menjadi bagian integral dari identitas dan keberlanjutan budaya mereka.

    Perkawinan Masyarakat Adat Sumba, biasanya terdapat dua kebiasaan (Kategori) dan diatur secara tidak tertulis dalam budayanya. Kategori pertama yaitu peminangan; peminangan merupakan momen pertemuan kedua keluarga mempelai untuk membicarakan terkait kesepakatan perkawinan, secara khusus membicarakan hal ihwal terkait jumlah belis atau mahar. Kategori peminangan memilik 4 tahapan yaitu tahap pengenalan, tahap ikat atau bawa siri pinang, tahap melihat rumah laki-laki dan terakhir tahap pindah (Bangi, Soviana R, 2020:133). Sedangkan, kategori kedua adalah perkawinan tanpa melalui tahap peminangan; proses yang demikian terjadi ketika kedua pihak keluarga belum sepakat mengenai jumlah belis dan kesepakatan lainnya, sehingga langsung pada tahapan terakhir yaitu tahap pindah barulah setelah itu diikuti dengan pembicaraan adat terkait belis. Tradisi “bawa lari perempuan” masuk dalam kategori perkawinan tanpa peminangan.

    Dalam pandangan ini, kita mengenali bahwa keluarga laki-laki memegang peranan sangat penting sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk memberikan belis (mahar perkawinan) yang secara adat pun akan dibalas oleh keluarga perempuan sesuai dengan kewajiban adatnya. Akan tetapi yang harus digarisbawahi yaitu pemberian belis ini bukan semata tentang nilai materi, melainkan sebuah simbol tulusnya cinta, pengorbanan, penghargaan terhadap perempuan dan komitmen dalam perkawinan.

    TRADISI “BAWA LARI PEREMPUAN” DI SUMBA

    Tradisi “bawa lari perempuan” dalam masyarakat adat Sumba mengandung esensi budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Tradis ini dikenal dengan beragam istilah atau bahasa adat yang berbeda di 4 kabupaten di Sumba. Pada masyarakat adat Sumba Barat Daya dan Sumba Barat, masyarakat menyebut tradisi ini dengan istilah “Paneta Mawine” (Tangkap perempuan).Selanjutnya, pada masyarakat adat Sumba Tengah menyebut dengan istilah“Plaingindi Mawini” (bawa lari perempuan). Sedangkan, pada masyarakat Sumba Timur mengenal dengan istilah“Piti Rambang” (pengambilan secara paksa). Meskipun masyarakat sumba pada umumnya menyebut dengan beragam istilah, masyarakat luar (selain suku Sumba) mengenalnya dengan istilah “Kawin Tangkap”. Istilah ini lahir dari konstruksi bahasa di media sosial. Beragam istilah dalam mengenal tradisi perkawinan tersebut disebabkan karena bahasa adat yang berbeda. Namun, merujuk pada perbuatan yang sama yaitu tradisi menangkap seorang perempuan secara paksa dengan tujuan perkawinan adat.

    Tradisi “bawa lari perempuan” ini khususnya dilakukan oleh laki-laki dari keluarga bangsawan/Maramba, dikarenakan jumlah belis yang sangat tinggi yang harus diberikan kepada keluarga perempuan. Dalam karya monumental Oe H. Kapita “Masyarakat Sumba dan Adat Istiadatnya”, menjabarkan bahwa piti rambang (pengambilan secara paksa) merupakan pernikahan ritual adat masyarakat Sumba yang menggabungkan elemen-elemen simbolis dengan harmoni yang mendalam. Mekanismenya dimulai dengan calon mempelai laki-laki “menangkap” calon mempelai perempuan dalam proses yang telah diatur dan disetujui oleh kedua keluarga, di mana simbol- simbol seperti kuda yang diikat atau emas mamuli yang tersembunyi di bawah bantal menjadi bagian integral dari tindakan ini, menciptakan suatu keindahan dalam ekspresi budaya dan tradisi masyarakat Sumba.

    Penjelasan diatas sesungguhnya menegaskan bahwa awalnya tradisi ini hanya dapat dilakukan oleh keluarga bangsawan dalam rangka menangkap perempuan yang berstatus bangsawan. Proses “membawa paksa” ini diawali dengan persiapan yang matang, bahkan hanya dilakukan penangkapan di rumah keluarga perempuan untuk tetap menjaga martabat perempuan bangsawan tersebut dan diberikan belis yang tinggi sebagai bentuk penghormatan terhadap proses penyatuan keluarga. Jika disederhanakan maka dapat dikatakan sebagai proses perjodohan oleh dua keluarga bangsawan tanpa persetujuan dari calon mempelai perempuan. Alasan yang melatarbelakangi hal ini, yaitu untuk menjaga hubungan keluarga dalam lingkar bangsawan, menjaga garis keturunan agar tidak salah atau menghindari hubungan yang tidak etis.

    Dari penjabaran ini dapat menunjukan bahwa tradisi “bawa lari perempuan” memiliki nilai luhur budaya kekeluargaan dan penghargaan antara dua pihak keluarga terkait dalam proses mengurus suatu perkawinan adat.

    PERUBAHAN PARADIGMA TERKAIT TRADISI “BAWA LARI PEREMPUAN” DI SUMBA

    Dalam perkembanganya tradisi ini mulai dilakukan oleh semua kalangan masyarakat di sumba sehingga kedalaman nilai-nilai luhur dalam tradisi “bawa lari perempuan” di Sumba menjadi terkikis oleh tindakan-tindakan yang tidak semestinya. Pada akhirnya tindakan-tindakan yang tidak tepat sesuai kebiasaan yang sesungguhnya mencemarkan esensi budaya perkawinan itu sendiri. Seringkali, lokasi penangkapan yang berada di tempat umum dan persiapan yang tidak matang berdampak pada mempermalukan perempuan dan tidak adanya persetujuan keluarga bahkan hingga terjadi berbagai kekerasan. Tindakan yang demikian, sesungguhnya tidak lagi sejalan dengan prinsip dari tradisi “bawa lari perempuan” yang berakar dan dipelihara secara baik dalam masyarakat Sumba pada mulanya melalui nilai kekeluargaan dan penghormatan. Sebab, tradisi ini kini menjadi sesuatu yang “ditakuti”, lantaran dilakukan oleh semua masyarakat secara tidak terarah atau menjauh dari makna dan proses sebenarnya.

    Dalam data yang disajikan oleh LSM SOPAN SUMBA, yang mencatat kasus-kasus praktik “bawa lari perempuan” di Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah dalam rentang tahun 2013-2020 berjumlah 14 kasus, dengan rentan usia korban 16-30 tahun, bahkan termasuk anak-anak di bawah umur yang menjadi korban. Fakta bahwa beberapa korban bahkan mengalami pelecehan seksual adalah peringatan yang sangat serius tentang dampak negatif dari tradisi ini.

    Salah satu kasus Juli 2019, gadis berinisial PRM (16) dari wilayah Kodi Balaghar, Sumba Barat Daya, ditangkap oleh beberapa pria untuk dinikahkan dengan pria berinisial JK (32) yang tidak pernah menjalin hubungan asmara dengannya, menolak untuk dijadikan istri JK, korban akhirnya diperkosa oleh penculik yang berjumlah tujuh orang (baca medan.tribunnews.com).

    Terdapat juga kasus terbaru di Sumba Barat Daya pada tanggal 07 september 2023, dimana seorang perempuan berinisial DM (20) ditangkap secara paksa di jalan raya oleh 20 orang laki-laki, untuk dijadikan istri oleh YBT dengan persetujuan ibu dan paman korban (baca galerisumba.com).

    Bertumpu dalam pandangan hukum positif, kedua actions problem diatas menunjukan adanya peristiwa hukum. Hal tersebut tergambar jelas dari adanya perbuatan pemaksaan perkawinan yang menyebabkan kekerasan verbal, non verbal bahkan seksual yang merupakan suatu kejahatan yang dapat dipidanakan sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan secara khusus dalam Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yangtertuang secara ekplisit dalam Pasal 10 ayat (1) dan (2) terkait Pemaksaan Perkawinan dengan penekanan “Setiap orang”sehinggamemungkinkan pemidanaan bukan hanya terhadap pihak laki-laki tetapi juga terhadap pihak perempuan yang membiarkan adanya pemaksaan perkawinan. Bahkan dapat dikaitkan dengan pasal lainnya dalam UU TPKS jika terjadi beberapa jenis kekerasan seksual.

    Keberadaan Undang-Undang ini seharusnya dianggap sebagai sebuah peringatan dari negara kepada masyarakat, dan sejalan dengan prinsip bahwa Indonesia adalah Negara Hukum. Namun, dalam konteks budaya, pendekatan yang perlu diperhatikan adalah bahwa praktik ini, jika diinterpretasikan sebenarnya merupakan sebuah tindakan penyelewengan terhadap paradigma kultural yang seharusnya dihormati dan dilestarikan oleh nilai-nilai budaya lokal.

    Konsepsi tersebut bila diaamati secara filosofis, memunculkan pertanyaan yang mendalam tentang bagaimana kita dapat menemukan keseimbangan yang bijak antara perlindungan hukum yang diperlukan dan penghormatan terhadap kekayaan budaya kita yang berharga. Bagaimana kita bisa memahami dampak dan implikasi perubahan hukum ini terhadap identitas dan warisan budaya kita? Bagaimana kita dapat menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang telah lama terpatri sambil tetap mematuhi prinsip-prinsip hukum yang adil? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan filosofis yang mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang hubungan antara hukum, budaya, dan etika dalam masyarakat kita.

    REDUKSI MAKNA DALAM TRADISI “BAWA LARI PEREMPUAN” DI SUMBA

    Dalam konsep hermeneutic sebagai pendekatan yang digunakan untuk memahami budaya dengan menghargai konteks, interpretasi subjektif, dialog, dan refleksi. Ini membantu penulis untuk mengungkap makna yang lebih dalam dan kompleks dari fenomena budaya yang mereka teliti, sambil mengakui bahwa makna tersebut dapat berubah seiring waktu (Munir, 2021). Tradisi “bawa lari perempuan” di Sumba mencerminkan pertentangan yang mendalam antara dua pandangan yang berbeda. Di satu sisi, terdapat pandangan yang menganggap tindakan tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang, sebuah proses perkawinan yang sangat mengandung nilai-nilai luhur. Tradisi ini dilakukan oleh laki-laki dari keluarga bangsawan dengan alasan sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa bertujuan untuk menjaga hubungan kekeluargaan dalam lingkar bangsawan dan menghindari tindakan perkawinan yang tidak etis atau menghindari seorang bangsawan menikah dengan bukan bangsawan. Dalam prosesnya tetap menunjukan tanggungjawab keluarga laki-laki dengan pemberian jumlah belis atau mahar yang tinggi sesuai dengan latar belakang seorang keturunan bangsawan. Makna kekeluargaan dan saling menghormati menjadi nilai luhur budaya mendasar dalam praktik “bawa lari perempuan” ini.

    Di sisi lainnya, dengan melihat dalam konstruksi realitas hari-hari ini, kasus yang terus terjadi dan berkembang di ruang publik masyarakat, penulis melihat adanya kompleksitas konflik yang melekat. Diamati lebih serius dengan perspektif hermeneutik, tradisi “bawa lari perempuan” telah berubah menjadi tindakan yang melanggar prinsip-prinsip etika dan hak-hak asasi manusia. Semua ini menciptakan kontradiksi yang sangat tajam dengan esensi dan norma asli dalam budaya pernikahan Sumba yang sebenarnya. Tradisi ini sekarang sering melibatkan pemilihan lokasi

    penangkapan di tempat umum dan persiapan yang tidak matang sehingga berdampak pada mempermalukan perempuan, lalu tidak adanya persetujuan keluarga bahkan dalam beberapa kasus, praktiknya dilakukan dengan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Ini adalah sebuah paradoks yang menyiratkan perubahan dalam interpretasi budaya oleh masyarakat Sumba. Nilai- nilai luhur yang semula memaknai perkawinan dengan nilai kekeluargaan dan penghormatan antar dua pihak keluarga telah mengalami penyimpangan yang berasal dari paradigma baru dalam masyarakat dengan mengorbankan hak asasi individu, khususnya perempuan Sumba. Inilah tantangan besar dari suatu budaya dalam menghadapi interprestasi manusia dan kenyataan yang sangat berat, dimana sebuah tradisi yang semestinya menjadi ekspresi budaya yang menghargai dan melindungi individu, telah berubah menjadi instrumen penghinaan dan penindasan terhadap perempuan.

    Namun, dalam kerangka pemikiran ini, kita menghadapi pertanyaan filosofis yang sangat mendalam: Bagaimana kita dapat memahami dan menghormati nilai-nilai budaya sambil tetap menjaga integritas dan kebijaksanaan dalam mewariskannya? Apakah kita hanya melihat budaya kita melalui lensa interpretasi subjektif yang dapat mengurangi atau bahkan merusak nilai-nilai mendasar? Apakah kita benar-benar meresapi dan menghormati budaya kita, ataukah kita hanya menggunakan tradisi ini untuk memenuhi keinginan dan kepentingan pribadi?

    Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi relevan karena fakta bahwa nilai-nilai luhur yang semula memaknai perkawinan dengan nilai kekeluargaan dan penghormatan antar dua pihak keluarga telah tereduksi dalam praktik “bawa lari perempuan.” Perubahan paradigma dalam masyarakat yang mengorbankan hak asasi individu terutama perempuan Sumba telah menghadirkan dilema filosofis tentang sejauh mana budaya dapat diutamakan tanpa mengorbankan hak asasi individu. Pelestarian budaya yang dihayati dengan penuh rasa hormat terhadap hak asasi individu, khususnya hak perempuan menjadi suatu pemikiran yang mendesak. Ini adalah pertanda bahwa dalam mempertahankan dan mewarisi budaya, kita tidak boleh lupa untuk menjaga prinsip-prinsip etika dan hak asasi manusia yang menjadi dasar keadilan dan martabat individu dalam masyarakat.

    Menutup kajian reflektif diatas, penulis mengutip pandangan Friedrich Nietzsche dalam karyanya yang berjudul “Beyond Good and Evil”. Nietzsche berpandangan bahwa “In individuals, insanity is rare; but in groups, parties, nations and epochs, it is the rule”. Kalimat ini menyoroti konteks budaya yang seringkali terdapat ketersesatan dalam pemaknaan nilai- nilai budaya yang akhirnya melahirkan pandangan atau tindakan yang tidak sesuai dengan budaya tersebut.

    “Bagaikan Bejana”, Refleksi Yeremia 18 : 1-17 oleh: Irma Tersia Mesen

    “Bagaikan Bejana”, Refleksi Yeremia 18 : 1-17 oleh: Irma Tersia Mesen

    Irma Tersia Mesen – Komisariat Rabi GMKI-Kupang

    Penulis: Irma Tersia Mesen (Komisariat Rabi)

    Firman: Yeremia 18 : 1-17

    “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya”. (Yeremia 18 : 4)

    Seorang seniman tidak akan berhenti  berusaha sebelum menghasilkan karya yang indah, demikian pula dengan Allah. Allah tidak akan menyerah terhadap ketidaksetiaan kita.

    Firman ini diawali dengan tindakan simbolis dimana Allah memerintahkan nabi Yeremia untuk belajar dari dari si tukang periuk yang sedang kerja pelarikan (ayat 1-3)

    Firman Tuhan mengatakan bahwa hidup kita seperti tanah liat di tangan tukang periuk yang awalnya tidak ada arti sama sekali. Namun ketika tukang periuk mengambil kita dari kehidupan yang tidak berarti itu, Ia mulai membentuk kita seturut Kehendak-Nya dan akhirnya kita menjadi berharga.

    Proses Tuhan itu tidak mudah, mudah bagi kita untuk mengatakan bahwa kita adalah bejana yang siap dibentuk tapi realitanya tidak semudah yang kita pikirkan.

    Kita harus melewati proses yang panjang, melewati tahap demi tahap sama seperti sebuah bejana. Kadang kita merasa sakit hati, marah dan kecewa tapi itulah proses. kita harus rela memberi diri(taat) untuk diproses/dibentuk Tuhan, karna Tuhan tau persis bagaimana kehidupan kita kelak.

    Tuhan menghancurkan kehidupan lama kita bukan untuk menghancurkan kita tetapi Ia menghancurkan kita dan Ia mulai memperbaiki/ mempersiapkan kita menjadi lebih baik lagi, menjadi alat yang berguna bagi kemuliaan-Nya.

    Hidup butuh proses dan proses butuh waktu bahkan harga yang harus dibayar. tetapi jika kita menjalani proses dengan penuh ketaatan, ketahuilah proses yang kita lalui tidak pernah mengkhianati hasil yang kita peroleh.

    Syalom dan Selamat beraktivitas, Tuhan Yesus sang kepala Gerakan memberkati kita senantiasa. Amin “UOUS”

    “Janji Tuhan”, Refleksi Yeremia 17 : 7-8 oleh: Ferdi Aryanto Babu

    Janji Tuhan”, Refleksi Yeremia 17 : 7-8 oleh: Ferdi Aryanto Babu

    Ferdi Aryanto Babu – Komisariat Salam GMKI-Kupang

    Penulis : Ferdi Aryanto Babu (Komisariat Salam)

    Firman : Yeremia 17 : 7-8

    “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”.

    Tuhan memberikan janji-Nya kepada orang percaya. Firman-Nya, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN.” Berkat di sini adalah berkat yang turun dari Allah bagi manusia, yaitu segala sesuatu yang baik. Allah menyatakan diri-Nya sebagai sumber berkat dan Ia senang memberkati umat-Nya. Abraham adalah salah satu contoh orang yang diberkati Tuhan.

    Nats kita juga mengungkapkan syarat agar kita diberkati oleh Tuhan. Pertama, mengandalkan Tuhan. Ketika mengandalkan Tuhan, kita perlu percaya dengan teguh kepada Tuhan. Kita harus yakin bahwa Tuhan dapat dipercaya. Percaya kita kepada Tuhan juga harus disertai pengetahuan bahwa Allah sanggup melakukan segala perkara. Tuhan yang kita percayai adalah Tuhan yang Mahakuasa dan tidak pernah mengecewakan. Dalam segala hal yang kita hadapi, bagian kita adalah tetap percaya. Kedua, menaruh harapan kepada Tuhan. Seseorang akan menerima janji Tuhan apabila ia menaruh harapannya kepada Tuhan dengan keputusan yang bulat. Jika percaya berbicara tentang masa sekarang, harapan menunjuk pada masa mendatang. Kita tidak mengetahui hari esok. Namun sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi, kita yakin Tuhan yang mengatur hari esok. Rancangan Tuhan adalah masa depan yang penuh harapan. Tidak ada kehidupan masa depan yang lebih baik dari yang disiapkan oleh Tuhan bagi kita. Tidak ada yang dapat menggagalkan rancangan Tuhan, asalkan kita menaruh harapan kepada-Nya.

    Kehidupan orang yang diberkati Tuhan digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Akarnya bertumbuh ke arah sumber mata air. Di saat musim kering, selalu mendapatkan air. Sumber air yang hidup adalah Tuhan (Yeremia 17:13). Jika kita dekat dengan Tuhan sebagai sumber kehidupan, maka kita tidak takut menghadapi tahun kekeringan. Orang percaya yang mengandalkan Tuhan tidak akan berhenti berbuah. Tuhan setia dan Mahakuasa. Apapun yang kita hadapi, tetap letakkan hidup dan masa depan kita kepada Tuhan. Tuhan menyediakan jauh lebih banyak untuk segala sesuatu di masa sekarang, mendatang bahkan hingga kekekalan. Mari kita tetap percaya dan berharap kepada Tuhan yang suka memberkati umat-Nya. Doa: “Tuhan Yesus, janji-Mu itu Ya dan Amin. Aku percaya Engkau pasti memberkatiku sesuai dengan janji-janji-Mu. Amin. “UOUS”

    Refleksikan Perjalanan 61 Tahun, GMKI Kupang Gelar Ibadah Syukur Dies Natalis

    Refleksikan Perjalanan 61 Tahun, GMKI Kupang Gelar Ibadah Syukur Dies Natalis

    Refleksikan Perjalanan 61 Tahun, GMKI Kupang Gelar Ibadah Syukur Dies Natalis (22/08/23)

    GMKI Kupang pada pada tanggal 18 Agustus 2023 lalu telah menemui Dies Natalisnya yang ke-61 tahun. Sabagai ungkapan syukur atas perjalanan 61 tahun GMKI Kupang menggelar ibadah syukur Dies Natalis ke–61 yang bertempat di Student Center GMKI Kupang pada hari Selasa, 22 Agustus 2023.

    GMKI Kupang boleh bersuka cita karena terhitung sejak 18 Agustus 1962 sampai dengan saat ini GMKI Kupang terus menunjukan eksistensinya di medan layan gereja, perguruan tinggi dan masyarakat.

    Hadir dalam kegiatan ini para senior GMKI Kupang, Badan Pengurus Cabang GMKI Kupang, Pengurus Komisariat GMKI Kupang, anggota GMKI Kupang dan organisasi Cipayung Kota Kupang.

    Acara ini diawali dengan ibadah yang yang pimpin oleh Pdt. Sally Bulan, S. Th dengan tema: “Solidaritas untuk GMKI Bergerak Menyambut Masa Depan”

    Senior Herlof Foeh yang mewakili senior dalam sambutannya menyampaiakan “di GMKI kita mengenal Ut Omnes Unum Sint walaupun kita berbeda-beda tetap satu. GMKI Kupang harus mempunyai new motivation, kita harus punya motivasi yang baru dan terbarukan”.

    Senior yang juga merupakan dosen di FISIP UNDANA itu menambahkan “suatu organisasi dengan sistem yang baik sekalipun akan mengalami keburukan. Sebagai organisasi harus mempunyai imunitas aktor. Imunitas aktor itu adalah integritas aktor, personality aktor. Kekuatan imunitas kita tergantung bagaimana kita punya komitmen orgnisatoris yang kuat sehingga walaupun kita diterpa badai tetap jalan kita lurus ke depan.

    Menutup sambutannya ia menegaskan kepada GMKI dan Cipayung untuk harus menjadi pengawal bagi jalannya pemilihan umum 2024 mendatang.

    Ketua Cabang GMKI Kupang, Florit P. Tae dalam sambutannya menyampaikan GMKI sementara bergerak dalam dua realitas, kita bergerak dalam realitas eksternal dan juga realitas internal. Kita berhadapan dengan situasi sosial, situasi politik, ekonomi dan lain sebagainya, itulah realitas eksternal. Dan juga di situasi yang sama kita berhadapan dengan realitas internal, proses pengkaderan tidak berjalan baik-baik saja, situasi kekudusan GMKI yang tidak baik-baik saja, berbagai hal kita alami di dalam internal.

    Florit menambahkan, hanya dengan solidaritas, hanya dengan kesatuan, hanya dengan upaya utuk menjaga kebersamaan kita akan tetap berdiri kokoh sebagai organisasi mahasiswa.

    Acara Dies Natalis GMKI Kupang ke-61 dilanjutkan dengan tiup lilin bersama oleh Senior dan Badan Pengurus Cabang sebagai tanda suka cita bersama dan kemudian ditutup dengan foto bersama.

     “YESUS AIR HIDUP” REFLEKSI DARI YOHANES 4:1-14

     

     “YESUS AIR HIDUP” REFLEKSI DARI YOHANES 4:1-14 OLEH: FLORIT P. TAE

    Florit P. TaeKetua Cabang GMKI Kupang

    Saudara-saudara, mengawali perenungan dan refleksi ini, masing-masing membacakan salah satu nats dalam teks Yohanes 4:13-14. Dan sesudah itu, mari ambil waktu untuk ada dalam momen hening.

    Jawab Yesus kepadanya: Barang siapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barang siapa minum air yang akan kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.  (Yohanes 4:13-14).

    Selama ini, para penafsir menjelaskan dengan sangat luas makna dari cerita perjumpaan Yesus dengan Perempuan Samaria. Banyak ahli Tafsir yang mengatakan bahwa cerita ini hendak menggambarkan sikap kemanusiaan Yesus yang bisa haus akan air. Para teolog dan bapa-bapak gereja menggunakan cerita ini sebagai salah satu cerita Alkitab yang menegaskan hakekat Kemanusiaan Yesus. Tetapi, banyak Teolog juga yang menggunakan cerita tersebut untuk menerangkan sikap Yesus yang bersolider dengan Perempuan tertindas, orang-orang yang diasingkan, termarjinalkan dan seterusnya dan sebagainya. Memang, Keterangan-keterangan tersebut tentu, tidak salah.

    Bukankah cerita perjumpaan Yesus dan Perempuan Samaria adalah bentuk solidaritas Yesus dengan orang asing yang termarjinal?, bukankah cerita tentang Yesus yang haus merupakan cerita yang menarik kita untuk mengenal Yesus sebagai  sahabat? Bukankah cerita itu juga hendak mengarahkan kita pada pengakuan bahwa Yesus sebagai Manusia Sejati?

    Namun, tepat seperti dialog menarik yang terjadi antara Yesus dan Perempuan itu,  Yesus berkata: Berilah Aku Minum!, Sang Perempuan menjawab dengan terheran-heran, :Masakan Engkau seorang Yahudi minta minum kepada ku, seorang Samaria? Lantas dengan penuh kuasa dan kasih yang tulus Yesus berkata: Jikalau engkau tau tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu “Berikanlah Aku minum” Niscaya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.

    Bagi saya, Yesus menunjukan dirinya sebagai seorang Penjamu. Cerita ini, tidak hanya hendak memberi penegasan bahwa  Yesus adalah Manusia yang bisa haus, juga tidak hanya bercerita tentang Yesus bersolider dengan Perempuan dan orang-orang termarjinal. Tetapi, cerita ini juga hendak menegaskan bahwa Yesus adalah Tamu bagi perempuan samaria dan sekalaigus sebagai “penjamu” bagi perempuan Samaria yang termarjinal itu. Yesus sedang mengajarkan sebuah Teologi yang amat penting bagi kita yakni Teologi Jamuan.  

    Saya mengambil istilah “Jamuan” ini dari Leonardo Boff, Teolog Fransiskan dari Brasil. Baginya, Yesus itu sangat solider dengan mereka yang kecil, lemah, termarginal. Leonardo Boff mrnulis dengan sangat indah dalam sebuah bukunya Jesus Christ Liberator :

    Yesus tidak menawarkan air dari Sorga yang jauh disana lalu mengundang manusia untuk berusaha menjangkaunya, pada hal sudah pasti manusia tidak dapat meraihnya. Air itu yang kini turun, menerobos pekatnya dosa dan memasuki ruang dahaga manusia.[1]

    Boff sesungguhnya secara terbuka ia mau menegskan bahwa Yesus tidak hanya penyedia air hidup, tetapi Yesus adalah air hidup itu sendiri. Di dalam diri Yesus kita menemukan Air yang sangat sejuk itu, di dalam diriNya kita menemukan pelepas dahaga itu. 

    Perempuan Samaria itu, sesungguhnya merupakan seorang yang haus, seorang yang sedang berjalan dalam padang gurun yang amat terik. Ia berjalan sendirian. Perempuan Samaria itu tidak ditemani oleh suaminya, Perempuan itu tidak ditemani oleh orang-orang sekitarnya. Ia bahkan kehabisan penyejuk. Oleh karena itu, Yesus berbicara soal Air Kehidupan karena Yesus Tau bahwa Perempuan itu membutuhkannya. Ia membutuhkan Yesus sebagai satu-satunya penyejuk. Ia membutuhkan teman seperjalanan ketika menumpuh gurun hidup yang panjang, penuh hinaan, stigma dan seterusnya dan sebagainya. Yesus menjamu perempuan itu dengan Air yang kerap Ia sebut Air Hidup. Oleh karena itu, spiritualitas seperti apa yang mesti diterapkan?

    Izinkan saya menutup dengan beberapa pemikiran dan refleksi yang memang masih tercerai-berai, namun semoga memberikan petunjuk konkret bagi kita semua dalam menghidupi Teologi Jamuan:

    1. Yesus adalah Air Hidup, jika engkau sedang dahaga, lelah karena Tugas Kuliah, masalah Keluarga, masalah pacaran dan seterusnya dan sebagainya, datanglah kepada Yesus mintalah segelas air penyejuk tuk menyejukkan dahagamu.
    2. Menjadi Penjamu, bukanlah sebuah tanggung jawab yang mudah. Menjadi penjamu, membutuhkan kerelaan, ketulusan. Dan tentu harus selalu belajar dari sang Penjamu ulung Yesus Kristus.
    3. Anak-anak GMKI adalah kumpulan orang Asing, berbeda suku, latar belakang status sosial, beda kampus, beda pikiran dan seterusnya. Namun, sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk kita melatih diri menjadi penjamu yang baik. Kita kerap dibutuhkan untuk menjadi sahabat berbagi, oleh karena itu, jadilah pribadi seperti Air yang Menyejukkan. Selalu berupaya menghidangakn kesejukan bagi siapa saja yang dijumpai.
    4. Hanya dengan spiritualitas semacam itu, kita dapat belajar mencintai Yesus sang Air Hidup kembali, mencintai diri sendiri kembali, dan mencintai dunia kembali.

    Demikian refleksi yang dapat saya bagikan. Terima kasih.

    [1] Leonnardo Boff.

    Scroll to Top