Kesesakan Masa Kini: Tanda-tanda Pembaharuan Bangsa; Oleh: Florit P. Tae (Ketua GMKI Cabang Kupang)

Kesesakan masa kini: tanda-tanda pembaharuan bangsa; oleh: Florit Tae (Ketua GMKI Cabang Kupang)

Refleksi Kritis terhadap fenomena pembusukan kekuasaan, hilangnya Malu Spiritual dan mastinya MADILOG

Oleh: Florit P. Tae (Ketua GMKI Cabang Kupang)

Bangsa Ini sedang Sakit. Entah Sakit karena sudah tiba saatnya pembusukan harus terjadi sebagaimana diucapkan berulang kali oleh Rocky Gerung dalam banyak Kesempatan, atau sakit karena “Malu Spiritual” menghilang dari masyarakat yang taat beragama tapi lupa Ber-Tuhan apalagi Beriman. Bangsa ini benar-benar sakit, mungkin juga karena tidak lagi mengindahkan “Madilog” sebagaimana gagasan yang disodorkan salah satu bapak Revolusi Indonesia, Tan Malaka.

Tanda-tanda sakit itu antara lain, Virus Abuse of Power merajalela sampai lahan-lahan yang paling sempit dan kecil. Homo homini lupus est menjadi tontonan masyarakat kecil. Hasrat kekuasaan, kekayaan, kehormatan memerintah dengan tangan besi di dalam diri. Kebisingan propaganda para baser mengganggu telingan dan menampilkan kedangkalan kadar intelektual.

Bangsa ini benar-benar sakit. Banyak Kasus menohok berebut panggung untuk tampil di ruang publik jadi objek tontonan sesama anak bangsa, bahkan masyarakat global. Orang-orang baik dan berintelek seperti Edy, Firli Bahuri, Joni Plate, Anwar Usman, dan rentetan nama lainnya terjerat kasus yang beragam. Pada intinya, kasus-kasus yang menyandera mereka adalah kekejian bagi negara demokratis yang berabad-abad menjunjung nilai keadaban.

Dalam media masa, kita amati penguasa bermain-main dengan Kekuasaanya. Para Elit saling Curiga, lantaran saling bermain “petak umpet” demi kekuasaan dan menguasai. Itulah fakta publik Indonesia hari-hari ini. Memang kita berharap, jika situasi belakangan terjadi sebagai puncak dari pembusukan “sampah-sampah” kekuasaan, maka biarlah terjadi lebih cepat agar bangsa ini memulai yang baru. Yang baru mungkin lebih baik.

Jika, peristiwa yang terjadi hari-hari ini (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) merupakan sebuah pertanda hilangnya “Malu Spiritul”, maka biarlah ini menjadi titik akhir dan titik Awal kita mulai sadar untuk tidak hanya taat beragama, tapi perlu taat Ber-Tuhan dan Beriman. Sebab, kasus-kasus heroik yang terjadi, mempertontonkan negara yang sesungguhnya berdiri atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak punya rasa Malu. Ketika tampil di media (ruang Publik) selalu dengan senyuman, berpidato menebar janji dan harapan yang jelas-jelas Palsu. Segala skenario menutupi miliaran tindakan buruk di belakang layar.

Kita harus terus bertanya, jika fenomena para elit dan masyarakatnya yang menebar kebencian, ketakutan,  hoaks, merancang segala sesuatu karena elektabilitas dan bukan kapasitas merupakan tanda-tanda matinya Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika), maka biarkan semua ini menjadi refleksi, agar sekiranya kita kembali menjadi bangsa yang cerdas. Sebab, bangsa yang besar dan bermartabat harus melihat segala sesuatu, merespon segala sesuatu dengan berdasar pada fakta dan bukan hoaks.

Bangsa ini harus merespon segala sesuatu dengan Dialog dan bukan ujaran kebencian, apalagi mengintimidasi atas nama otoritas kekuasaan. Bangsa ini pada sisi lain, harus menganalisa segala sesuatu dengan logika dan bukan mengkiti saja para elit yang menebar janji dan motivasi, namun membabi buta merampas kekuasaan demi pribadi dan kelompok.

PEMBUSUKAN SEDANG TERJADI

Dalam ilmu biologi, Pembusukan merupakan suatu proses alamiah yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa adanya pembusukan yang melepaskan karbon dari organisme mati, karbon akan terus berkurang. Akibatnya akan semakin berkurang bahan baku untuk kelahiran organisme baru. Sehingga, proses pembusukan memainkan peran kunci dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem di bumi. Proses pembusukan adalah untuk mencegah penumpukan organisme mati.

Jika suatu bangsa telah dipenuhi “sampah-sampah” dengan wajah korupsi, kolusi dan nepotisme, maka perlu adanya upaya “pembusukan” oleh gerakan Civil Society. Sebab, sangat sulit tugas “pembusukan” itu dijalankan oleh pemerintah atau penguasa. Penguasaa kerap kali “berselingkuh” dengan oknum-oknum berintelektual, oligarki dan kaum kapitalis, sehingga upaya pembusukan itu hanyalah narasi, bahkan penindakan tanpa mencabut akar-akarnya. Penguasa kerap kali melakukan “pembusukan” tergantung pada orderan, bahkan bergantung pada apakah oknum yang hendak “digiling” musuh atau kawan. Oleh karena itu, “Pembusukan” mesti diambil alih oleh masyarakat akar rumput (Wong Cilik) melalui gerakan Civil Society.

Sejarah dunia mencatat bahwa orang jahat, penguasa arogan yang terorganisir akan mengalahkan orang baik, masyarakat kecil yang tidak terorganisir. Penguasa akan memenangkan pertarungan karena mereka memiliki seperangkat fasilitas untuk menipu dan menghasut masyarakat miskin dan kecil. Jika menghasut dengan narasi propaganda yang diciptakan oleh penguasa, aktor-aktor politik sombong, maka hegemoni pada saat yang sama menyusup masuk dalam nadi masyarakat rentan. Oleh sebabnya, kesadaran harus dibangkitkan. Kekritisan harus dihidupkan kembali.    

Melihat beragam dinamika dan kontestasi di bangsa kita hari-hari ini, maka tidak berlebihan bila kita harus berharap pembusukan segera terjadi. Pembusukan bila perlu terjadi lebih cepat lebih baik. Sebab, indonesia akan menyambut masa emas dan hadirnya bonus usia produktif anak-anak bangsa di tahun 2045. Pembusukan terjadi sekaranga, dengan demikian kematian aroganisme para elit dan kepentingan diri para penguasa terurai.

“MALU SPIRITUAL” MENGHILANG DALAM SAMUDRA RAYA KEKUASAAN

“Malu Spiritual” merupakan perasaan batin manusia yang muncul tatkala keinginan untuk melanggar nilai-nilai, prinsip-prinsip etis-moral atas dasar kepentingan apapun. “Malu Spiritual” pada satu sisi merupakan perasan yang mengontor sikap dan perilaku seseorang dalam menjalani hidup bersama di ruang publik. Sedangkan,  pada sisi yang lain perasaan ini membuat orang merasa bersalah, malu dan menuntut seseorang untuk mengungkapkan kebersalahannya di depan publik.

Di Indoensia hari-hari ini, “Malu Spiritual” menjadi fenomena yang langka, bahkan sulit kita jumpai dalam ruang publik kita. Banyak aktor politik, pejabat-pejabat negara selalu tampil dengan senyum di depan kamera yang menyorot, kendati menjadi tersangka dalam kasus-kasus korupsi, Nepotisme dan sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa “Malu Spiritual” tidak ada pada diri para “penjahat” ini. Semua merasa baik-baik saja, kendati tindakan mereka merugikan negara, merampas hak-hak masyarakat miskin, bahkan mematikan demokrasi.

Fenomena yang terjadi sekarang disebabkan oleh hasrat untuk menguasai (berkuasa dibidang Ekonomi, hukum, politik dan sebagainya). Yang kaya merasa perlu menambah kekayaan dengan cara korupsi, menerima suap dan lain-lain. Mereka yang sudah berkuasa ingin mempertahankan kekuasaan dengan cara nepotisme dan seterusnya. Lebih lanjut, fenomena “Malu Spiritual” menghilang, karena terkesan hukum tumpul keatas, tajam kebawah. Masyrakat kecil menjadi sasaran empuk hegemoni politik, hukum dan ekonomi. 

Dalam situasi yang demikian, perlunya pembaharuan yang radikal. Negara mesti meciptakan hukum yang ekstrim tegas (seperti memiskinkan, memecat, menghapus hak –hak politik seumur hidup dll.,). Selain negara, lembaga-lembaga keagamaan pun mesti melakukan pendampingan “Pastoral” yang intens dan tidak disandera oleh rasa segan dan sungkan yang palsu.

SUARA “MADILOG” MENYERUAK DI UDARA, TERHALAU NAPSU POPULARITAS

Seiring perkembangan peradaban manusia, teknologi Informasi menjadi sarana untuk membaca, mengetik, mengirim dan mempropaganda. Semua orang menguji kecepatan jari dan menarik sebanyak-banyaknya Viewers tanpa memperhatikan kualitas konten. Kadar kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual “dibunuh” oleh banyaknya pembaca dan pengikut. Alhasil, tindakannya membuat luka pada bangsa ini.

Ruang publik Indonesia saat ini menampilkan secara vulgar bahwa Masyarakat tidak lagi memfokuskan perhatian pada fakta-fakta (Materialisme), sehingga apa yang dibaca, diketik, dikirim bukanlah konten atau informasi yang valid dan mendidik. Ketika menerima berbagai informasi propaganda, masyarakat tidak lagi mempertimbangkan dengan hati yang bersih, melainkan merespon dengan beragam ujaran kebencian pada sesama anak bangsa (Dialektika). Setiap detik pemberitaan yang masuk dalam “dunia yang digenggam”, baik ujaran kebencian, doktrin-doktrin sesat dan sebagainya, masyarakat tidak mempertimbangkan dengan pikiran yang jernih dan sejuk (Logika).

Jika bangsa ini terus seperti ini. Tidak ada pembaharuan yang masif dan serius oleh kaum intelektual dan tokoh-tokoh publik, maka kesakitan bangsa ini akan semakin parah. Virus kebodohan akan menjalar di seluruh tubuh bangsa ini. Organ-organ tubuh bangsa Indonesia yang seharusnya berfungsi menyalurkan makanan yang sehat dan bergisi diserang dan dihancurkan oleh virus yang tak kasat mata itu.

“MADILOG” adalah gagasan yang perlu diinternalisasikan kembali. “MADILOG” harus menjadi konten pembelajaran bagi seluruh masyarakat yang miskin, maupun yang kaya. Yang berjabatan tinggi maupun yang pemulung dijalanan. Sebab, hanya dengan menghidupkan “MADILOG”, bangsa ini perlahan-lahan sembuh dari sakit. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak terluka. Melainkan ia yang berupaya mencari obat penawar sekaligus membersihakan luka-lukanya untuk sembuh dari sakit.

TANDA-TANDA PEMBAHARUAN MUNCUL DALAM KESESAKAN MASA KINI.

Dunia Bergerak seperti sebuah misteri yang tidak kita pahami. Tapi, kita akan selalu menemukan ruang yang mengantarkan kita pada jawaban-jawaban, harapan-harapan, mimpi-mimpi yang kita cari. Secara Spiritual-Teologis, kita perlu mempertimbangkan apa yang diucapkan oleh Teolog besar Indonesia, Eka Darmaputra; “Allah Tak Hanya berbisik melalui pengalaman-pengalaman kita yang menyenangkan. Allah tidak hanya berbicara melalui getaran-getaran kesadaran hati nurani kita. Namun, Dia juga berteriak keras-keras melalui kesakitan-kesakitan, luka-luka bangsa, bencana etis-moral sosial, dan penderitaan-penderitaan publik. Semuanya itu adalah Megafon Allah bagi bangsa Indonesia.”

Refleksi kita, sebagai bangsa yang dituntun oleh Prinsip-prinsip agama, berdasar pada nilai-nilai ketuhanan dan berakar pada iman yang utuh kepada KeTuhanan Yang Maha Esa, maka perlu sampai pada kesadaran bahwa semua Kesesakan masa kini yang dialami bangsa ini adalah suara Tuhan bagi bangsa yang dijanjikan ini.

Bangsa ini, dengan melihat berbagai fenomena yang terjadi, seharusnya kita mulai jujur bahwa mungkin selama ini kita beragama, tapi tidak berTuhan, apalagi beriman. Karena itu, nilai-nilai etis-moral, kesadaran akan makna demokrasi kerakyatana mulai memudar, bahkan nyaris menghilang dari wajah bangsa ini. Sebagai anak bangsa yang hidup dalam pengharapan, pembaharuan harus dimulai. Pembaharuan harus diupayakan dengan melakukan “pembusukan” masal, menghidupkan kembali kesadaran “Malu Spiritual”, dan mengindahkan kembali “MADILOG”. Dengan itu, bangsa Indonesia akan menjadi negara maju, sekaligus beradab. Menjadi negara adikuasa, sekaligus hidup dalam komunalisme dan bukan indiviualisme.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top