Gambar Allah yang Bermitra bersama kita dalam Realitas Perbedaan, Konflik, Kekerasan di Bumi Indonesia, oleh: Janter E. Rano Baki

Janter E. Rano Baki – Staf Kerohanian BPC GMKI Kupang MB 2020-2022

(Surat Efesus 4:1-16)

Syalom….. Kata “syalom” berasal dari bahasa Ibrani mengandung makna mendalam, bahwa damai sejahtera Allah dalam kehidupan kita, manusia, dan termasuk segenap ciptaan-Nya. Kata syalom sangat berarti dalam realitas keberagaman saat ini dan seterusnya. Bagaimana damai sejahtera Allah yang bertahkta di atas realitas kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia, bahkan dalam unit terkecil dalam keluarga?

Kita hidup di tengah perbedaan dan menjadi ancaman konflik yang silih berganti baik sesama individu maupun dalam komunitas tertentu. Ancaman demikian dilatarbelakangi, bahwa fakta menunjukkan setiap orang memiliki keunikan masing-masing (kelebihan dan kelemahan), cara berpikir, tujuan, impian, dan kepentingan yang beragam. Bahkan, anak yang kembarpun secara fisik sama, namun berbeda dengan keunikan, cara berpikir, tujuan, impian, dan kepentingan. Dalam konteks bergereja, setiap kita mempunyai karunia dan peran yang beragam. Apalagi, dalam konteks berbangsa, kita hidup dengan kekayaan budaya dan agama. Lantas untuk apa semuanya itu bagi kehidupan kita, jika benar bahwa perbedaan itu menghasilkan ancaman dan konflik semata?

Fakta di balik sejumlah perbedaan yang ada, tersirat kekuatan besar yang mestinya kita sadari dan gali bersama. Kita perlu sadar, bahwa perbedaan adalah anugerah Allah. Cara pandang kita perlu dibaharui. Cara hidup kita perlu dibenahi menurut maksud Allah. Setiap keunikan kita adalah kekayaan dari anugerah Allah (pemberian). Maka, sepatutnya setiap pemberian Allah itu kita kelola bersama secara tepat. Pertanyaan kunci yang menjadi reflektif bersama adalah bagaimana kita mengelola (mentransformasi) perbedaan sesuai kehendak Allah?Pertanyaan ini mewakili sejumlah kegelisahan, bahwa perbedaan menimbulkan konflik yang berujung kehancuran relasi, menimbulkan trauma, perlakuan kekerasan verbal (hujatan, cemooh antar agama maupun budaya), diskriminasi, bahkan kekerasan fisik. Dalam kehidupan berbangsa, penganut agama Kristen sebagai kaum minoritas di tengah bangsa ini seringkali mendapatkan perlakuan tidak adil dari pihak tertentu yang memiliki kepentingan dan menyalahgunakan kekuasaan. Maupun sebaliknya, kaum minoritas seringkali juga mendukung jalan kekerasan sebagai upaya mempertahankan dirinya.

Konflik tidak selamanya mendatangkan kehancuran, tergantung bagaimana kita sebagai mitra Allah mampu melakukan kehendak Allah sehingga mentransformasi konflik perbedaan yang ada pada akhirnya semakin mempererat relasi, semakin membangun toleransi, dan bahu-membahu. Inilah yang menjadi fokus utama kita dan panggilan iman kita bersama. Kita tidak bisa terhindar dari pada konflik, namun kita mentransformasi konflik yang ada.

Rasul Paulus menyinggung soal bagaimana orang percaya dan juga melibatkan orang lain turut mentransformasi konflik perbedaan, dalam surat Efesus 4:1-16. Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Efesus bahwa sebagai mitra Allah, mereka harus menjaga kesatuan dalam persekutuan. Karunia memang berbeda-beda. Namun, Allah yang memberi karunia, hanya satu. Karena itu, setiap orang perlu bersikap menghargai satu sama lain. Setiap orang perlu memanfaatkan berbagai karunia untuk melayani Allah dan sesama. Dalam nasihat Paulus, ada empat poin penting bagi kita sebagai mitra Allah untuk mengelola perbedaan yang ada. Kita memerlukan empat fondasi yang kokoh.

 Pertama, orang beriman mesti memiliki tabiat/karakter yang baik (ay. 1-2). Apa itu karakter yang baik? Karakter yang baik adalah adalah sifat-sifat mulia yang mesti dimiliki seseorang. Paulus menyebutkan kerendahan hati, lemah lembut, sabar, suka menolong sesama, dan menjaga keharmonisan di dalam hidup bersama. Soal rendah hati, kita berat. Kita yang suka mengandalkan diri dan merasa inti sehingga orang lain diabaikan. Sebagai tubuh Kristus, ia belum menyerahkan dirinya secara utuh kepada Kristus. Karena dalam tubuh Kristus tidak ada yang lebih besar atau dominan dari pada orang lain, karena semuanya sama-sama setara dan berharga di hadapan Allah. Orang yang rendah hati tidak muda terpengaruh dari kelicikan isu politik atas nama agama untuk tujuan politik pihak tertentu. Dia mampu menjauhkan diri dari ujaran kebencian, kekerasan, dan balas dendam. Oleh karena orang yang rendah hati menguasai dirinya sebagai dampak didikan dari Allah atas kehidupannya. Soal kasih, kita dapat menghargai perbedaan, bahkan “merayakan” perbedaan yang ada. Karena hanya dalam kasih Allah, kita dari berbagai latar belakang agama dan budaya dapat melebur dalam relasi yang sehat dan membangun, bahkan bertumbuh bersama-sama. Karena hanya kasih yang dapat mendorong kesadaran dan tanggung jawab kita sebagai mitra Allah. Kasih demikian sangat urgen dalam kehidupan bersama. Apalagi kita masyarakat NTT secara khusus memiliki kekuatan komunitas yang kuat. Kasih mendorong kita bersatu melawan segala bentuk kekerasan dalam konflik yang ada. Isu agama yang memecah belah kita, terkhususnya relasi Kristen dan Islam hancur akibat elit politik tertentu yang berniat memperoleh kuasa. Kita, Kristen dan Islam dari satu keturunan Abraham, namun persaudaraan kita renggang akibat penyalahgunaan politik (berkuasa tanpa kasih Allah), yang sebenarnya tujuan politik adalah mendatangkan damai sejahtera. Misalnya Kitab Suci dipakai oleh pihak tertentu sebagai media untuk mendukung konflik dan kekerasan agar meraup keuntungan politik. Fondasi demikian yang kita lupakan dan abaikan, bahwa faktanya kita bersaudara dari keturunanan Abraham (Isak; lahir keturunan Yahudi, Kristen dan semua orang percaya, dan Ismael; Islam). Fondasi demikian memungkinkan persatuan kita, bahwa sebagai saudara yang memiliki peran dan tanggung jawab yang beragam. Relasi Kristen dan Islam, saya gambarkan sebagai “rumah” yang memiliki kamar masing-masing. Jika kita telah memahami kita adalah satu rumah, satu keluarga, maka kita harus berperang bersama orang asing dari dalam rumah atau luar rumah yang merusak relasi kita.

Kedua, kesatuan yang mengedepankan damai sejahtera Allah (ay. 3-7). Sekelompok orang bisa bersatu karena berbagai faktor. Ada yang dipaksa orang lain. Ada yang bergantung pada orang lain. Ada yang sekadar ikut arus. Sebagai orang percaya, persekutuan kita tidak didasarkan pada faktor demikian. Sebaliknya, persatuan mesti terjalin akibat adanya ikatan damai sejahtera. Artinya bahwa dalam ikatan persekutuan itu, semua pihak merasa aman, nyaman, dan harmonis satu terhadap yang lain. Orang merasakan kehadiran kita sebagai “rumah” bukan “penginapan”. Satu sama lain tidak merasakan asing dengan yang lain. Karena ada perasaan senasib sepenanggungan dalam persekutuan. Persekutuan dalam satu tubuh, satu Roh, satu pengaharapan di dalam Allah. Dalam hal ini, persatuan bukan berarti satu untuk semua dan bukan pula semua untuk satu. Tapi, persatuan adalah semua untuk semua. Jadi, semua yang terlibat dalam ikatan persatuan itu mempunyai tanggung jawab yang sama untuk memelihara damai sejahtera Allah.

Ketiga, Allah yang menciptakan perbedaan agar setiap orang bekerja sama membangun Tubuh Kristus (ay. 8-14). Perbedaan itu ciptaan Allah. Karena itu, perbedaan perlu dipandang sebagai anugerah Allah. Karena itu, semua bentuk perbedaan mesti dipakai untuk kemuliaan Allah. Kita memuliakan Allah dengan menghargai setiap keunikan orang masing-masing. Sebab, apa pun keadaan seseorang, dia merupakan ciptaan Allah. Jika kita menghina orang lain karena merasa kita berbeda, maka kita telah menghina Allah yang menciptakannya. Siapakah yang pantas menghina Allah? Tidak ada! Kita terbatas memahami karya Allah. Itu sebabnya, perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan dan kekerasan. Kita dapat memahami maksud Allah ketika kita melakukan firmanNya. Allah menghendaki kita dengan keunikan, kelebihan, kelemahan, cara pandang, impian, kepentingan yang ada difokuskan untuk kebaikan bersama. Jika kita melakukan hal demikian, maka tidak ada lagi penghalang atau tembok dalam relasi kita beragama maupun antar budaya, karena Kristuslah yang memimpin persekutuan kita. Allah bermintra dengan kita, ketika kita sebagai Gereja, Masyarakat, Pemerintah, Lintas Agama, dan Lintas Budaya bekerja sama mendatangkan damai sejahtera Allah secara nyata dalam kehidupan bersama.

Keempat, Allah yang memberikan keteraturan (ay. 15-16). Itu berarti, bahwa Allah mau supaya semuanya rapi. Tiap bagian tersusun sesuai tempat yang Allah berikan. Dalam hal ini, setiap orang memahami tugas, peran dan tanggung jawab masing-masing. Karya dan pelayanan memang berbeda. Namun, semuanya diarahkan untuk kemuliaan Allah, bukan kemuliaan diri kita atau orang tertentu. Keteraturan dapat terjadi jika kita sudah memiliki karakter Kristus, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat 2a, yakni rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Karakter tersebut hendaknya diwujudnyatakan dalam kehidupan berelasi dengan sesama dalam konteks bergereja dan bermasyarakat. Setiap karunia yang kita miliki tidak ditujukan kita berbangga, berkuasa, dan menyombongkan diri sendiri, melainkan saling melengkapi dan membangun satu dengan lainnya. Keteraturan Allah membuat rumah kita (Indonesia) dengan kamar masing-masing, yakni lintas agama dan lintas budaya menjadi kokoh. Karena itu, rumah yang kokoh adalah karya Allah yang sedang bermitra dengan kita dari latar belakang agama dan budaya yang beragam untuk bersatu dan saling bekerja sama membangun Tubuh Kristus.

Kita membutuhkan rumah yang kokoh demikian untuk menghadapi krisis relasi antar agama dan budaya yang semakin goyah akibat penyalahgunaan politik (misalnya ancaman politik identitas demi kepentingan tertentu). Kita sebagai mitra Allah terpanggil menjadi rumah yang kokoh melalui jalan kerja sama dan melibatkan Allah, sehingga mentransformasi konflik dan kekerasan yang diciptakan oleh pihak-pihak Perusak Hubungan dalam Gereja dan Bangsa (PHGB) dengan berbagai bentuknya (sejarah dan masa kini) dan tantangan di masa yang akan datang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top