“YESUS AIR HIDUP” REFLEKSI DARI YOHANES 4:1-14 OLEH: FLORIT P. TAE

Florit P. TaeKetua Cabang GMKI Kupang

Saudara-saudara, mengawali perenungan dan refleksi ini, masing-masing membacakan salah satu nats dalam teks Yohanes 4:13-14. Dan sesudah itu, mari ambil waktu untuk ada dalam momen hening.

Jawab Yesus kepadanya: Barang siapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barang siapa minum air yang akan kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.  (Yohanes 4:13-14).

Selama ini, para penafsir menjelaskan dengan sangat luas makna dari cerita perjumpaan Yesus dengan Perempuan Samaria. Banyak ahli Tafsir yang mengatakan bahwa cerita ini hendak menggambarkan sikap kemanusiaan Yesus yang bisa haus akan air. Para teolog dan bapa-bapak gereja menggunakan cerita ini sebagai salah satu cerita Alkitab yang menegaskan hakekat Kemanusiaan Yesus. Tetapi, banyak Teolog juga yang menggunakan cerita tersebut untuk menerangkan sikap Yesus yang bersolider dengan Perempuan tertindas, orang-orang yang diasingkan, termarjinalkan dan seterusnya dan sebagainya. Memang, Keterangan-keterangan tersebut tentu, tidak salah.

Bukankah cerita perjumpaan Yesus dan Perempuan Samaria adalah bentuk solidaritas Yesus dengan orang asing yang termarjinal?, bukankah cerita tentang Yesus yang haus merupakan cerita yang menarik kita untuk mengenal Yesus sebagai  sahabat? Bukankah cerita itu juga hendak mengarahkan kita pada pengakuan bahwa Yesus sebagai Manusia Sejati?

Namun, tepat seperti dialog menarik yang terjadi antara Yesus dan Perempuan itu,  Yesus berkata: Berilah Aku Minum!, Sang Perempuan menjawab dengan terheran-heran, :Masakan Engkau seorang Yahudi minta minum kepada ku, seorang Samaria? Lantas dengan penuh kuasa dan kasih yang tulus Yesus berkata: Jikalau engkau tau tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu “Berikanlah Aku minum” Niscaya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.

Bagi saya, Yesus menunjukan dirinya sebagai seorang Penjamu. Cerita ini, tidak hanya hendak memberi penegasan bahwa  Yesus adalah Manusia yang bisa haus, juga tidak hanya bercerita tentang Yesus bersolider dengan Perempuan dan orang-orang termarjinal. Tetapi, cerita ini juga hendak menegaskan bahwa Yesus adalah Tamu bagi perempuan samaria dan sekalaigus sebagai “penjamu” bagi perempuan Samaria yang termarjinal itu. Yesus sedang mengajarkan sebuah Teologi yang amat penting bagi kita yakni Teologi Jamuan.  

Saya mengambil istilah “Jamuan” ini dari Leonardo Boff, Teolog Fransiskan dari Brasil. Baginya, Yesus itu sangat solider dengan mereka yang kecil, lemah, termarginal. Leonardo Boff mrnulis dengan sangat indah dalam sebuah bukunya Jesus Christ Liberator :

Yesus tidak menawarkan air dari Sorga yang jauh disana lalu mengundang manusia untuk berusaha menjangkaunya, pada hal sudah pasti manusia tidak dapat meraihnya. Air itu yang kini turun, menerobos pekatnya dosa dan memasuki ruang dahaga manusia.[1]

Boff sesungguhnya secara terbuka ia mau menegskan bahwa Yesus tidak hanya penyedia air hidup, tetapi Yesus adalah air hidup itu sendiri. Di dalam diri Yesus kita menemukan Air yang sangat sejuk itu, di dalam diriNya kita menemukan pelepas dahaga itu. 

Perempuan Samaria itu, sesungguhnya merupakan seorang yang haus, seorang yang sedang berjalan dalam padang gurun yang amat terik. Ia berjalan sendirian. Perempuan Samaria itu tidak ditemani oleh suaminya, Perempuan itu tidak ditemani oleh orang-orang sekitarnya. Ia bahkan kehabisan penyejuk. Oleh karena itu, Yesus berbicara soal Air Kehidupan karena Yesus Tau bahwa Perempuan itu membutuhkannya. Ia membutuhkan Yesus sebagai satu-satunya penyejuk. Ia membutuhkan teman seperjalanan ketika menumpuh gurun hidup yang panjang, penuh hinaan, stigma dan seterusnya dan sebagainya. Yesus menjamu perempuan itu dengan Air yang kerap Ia sebut Air Hidup. Oleh karena itu, spiritualitas seperti apa yang mesti diterapkan?

Izinkan saya menutup dengan beberapa pemikiran dan refleksi yang memang masih tercerai-berai, namun semoga memberikan petunjuk konkret bagi kita semua dalam menghidupi Teologi Jamuan:

  1. Yesus adalah Air Hidup, jika engkau sedang dahaga, lelah karena Tugas Kuliah, masalah Keluarga, masalah pacaran dan seterusnya dan sebagainya, datanglah kepada Yesus mintalah segelas air penyejuk tuk menyejukkan dahagamu.
  2. Menjadi Penjamu, bukanlah sebuah tanggung jawab yang mudah. Menjadi penjamu, membutuhkan kerelaan, ketulusan. Dan tentu harus selalu belajar dari sang Penjamu ulung Yesus Kristus.
  3. Anak-anak GMKI adalah kumpulan orang Asing, berbeda suku, latar belakang status sosial, beda kampus, beda pikiran dan seterusnya. Namun, sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk kita melatih diri menjadi penjamu yang baik. Kita kerap dibutuhkan untuk menjadi sahabat berbagi, oleh karena itu, jadilah pribadi seperti Air yang Menyejukkan. Selalu berupaya menghidangakn kesejukan bagi siapa saja yang dijumpai.
  4. Hanya dengan spiritualitas semacam itu, kita dapat belajar mencintai Yesus sang Air Hidup kembali, mencintai diri sendiri kembali, dan mencintai dunia kembali.

Demikian refleksi yang dapat saya bagikan. Terima kasih.

[1] Leonnardo Boff.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top