Resensi Buku 11 fakta Era Google, bergesernya pemahaman Agama dari kebenaran mutlak menuju keyakinan kultural milik Bersama, Oleh: Florit P. Tae

Ali, Januar Denny, 11 fakta Era Google, bergesernya pemahaman Agama dari kebenaran mutlak menuju keyakinan kultural milik Bersama, Jakarta:  Cerah Budaya Indonesia (CBI), 2021; 144 halaman.

Oleh: Florit P. Tae

Hidup adalah sebuah perayaan atau ekaristi. Kita tidak dapat menikmati keindahan perayaan hidup yang eksistensial, jika kita masih tetap hidup dalam kecurigaan dan menuduh satu dengan yang lain.

Buku yang ditulis oleh Denny JA, merupakan sebuah karya akademis yang apic, sebab mengandaikan spiritualitas keterbukaan yang mempesona dari seorang Denny JA. Jika dibaca dengan melepaskan segala bentuk kecurigaan yang telah ditanamkan oleh doktrin agama, maka kita akan menjumpai betapa pentingnya keterbukaan dan penghargaan terhadap sesama manusia dengan segala jenis agama dan keyakinannya.

Denny JA menguak fakta-fakta menarik yang tidak disadari manusia beragama hari-hari ini. Denny JA memperlihatkan fenomena agama yang sangat banyak. Berdasarkan penelusurannya dari berbagai media, ada 4.300 agama yang sedang berkembang, lengkap dengan ciri khas keyakinannya masing-masing. Ini adalah fakta tentang agama dan keyakinan di era Google menurut Denny JA.

Dalam menuraikan fakta-fakta tentang pengaruh orang beragama dalam penyelenggaraan negara, Denny JA memaparkan hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan lembaga-lembaga penelitian yang melakukan riset yang kemudian dikembangkan oleh Denny JA sudah sangat diakui oleh kalangan akademisi. Jadi, kredibilitas dari setiap data dan fakta yang diperlihatkan oleh Denny JA dapat dipercaya.

Buku 11 fakta era google ini dibagi menjadi 4 bab, dan pada epilog, Denny JA memperlihatkan penderiannya sebagai seorang “Manusia utuh” yang menyadari dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari orang lain, apapun agama dan keyakinannya. Selain itu, Denny JA menegaskan keyakinannya bahwa di Era Google, Agama mesti menjadi Kekayaan Kultural milik bersama. Dengan demikian, kita dapat hidup bersama dan bergandengan tangan merayakan kehidupan di tengah-tengah dunia yang semakin berkembang.

Pada bab I, Denny JA menguraikan secara menakjubkan bahwa negara-negara yang mayoritas masyarakat tidak menganggap agama penting adalah negara yang tingkat kebahagiaan masyarakat tinggi, tingkat Korupsi rendah dan memiliki kesejahteraan yang baik. Sedangkan, negara-negara yang mayoritas masyarakatnya beragama, justrus terpampang Korupsi, ketidakbahagiaan dan ketidak sejahteraan. Masyarakat beragama tidak memberi dampak apa-apa, selain memelihara korupsi, kemiskinan dan ketidakadilan.

Selanjutnya, pada Bab II, Denny JA memperlihatkan berbagai penemuan dan penelitian ilmu pengetahuan (arkeolog) tentang fakta rill dibalik cerita-cerita historis dalam kitab suci berbagai agama. Denny JA hendak mengajak manusia beragama untuk membuka diri pada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan. Tentu yang dimaksudkan Denny JA adalah bahwa meskipun keyakinan-keyakinan kita terhadap cerita-cerita historis sebagai karya Allah itu penting, tetapi tidak harus anti terhadap ilmu pengetahuan. Milih untuk tetap menjadi manusia spiritual, namun, harus membuka mata merenungkan aneka temuan ilmu pengetahuan. Argumren tersebut ditegaskan dengan sangat indah ketika Denny JA mengutip sebuah pepatah “Spiritualitas berurusan dengan makna tertinggi kehidupan. Ilmu pengetahuan berurusan dengan pembuktian ranting-ranting kehidupan. Spiritualitas tak membutuhkan ilmu pengetahuan. Ilmu penghetahuan tak membutuhkan Spiritualitas. Tapi, manusia yang utuh memerlukan keduanya”.

Bab III, Denny JA berbicara secara khusus tentang toleransi umat beragama maupun yang tidak beragama. Pada bagian ini, Denny JA menguraikan secara khsus penghargaan berbasis gender di agama Islam dan memberikan solusi dalam menafsir teks-teks suci dalam kitab suci. Denny JA secara terbuka menolong umat beragama untuk memperbaharui pola pikir dalam menafsir tekas-teks suci secara terbuka dan mengutamakan penghargaan terhadap sesama manusia yang beragama berbeda, berkeyakinan berbeda dan sebagainya. Selanjutnya, menurut Denny JA, dalam menafsir teks-teks suci, kita juga mesti belajr dari teks-teks yang lain yang ditulis oleh para teolog. Dengan kata lain, oleh Denny JA kita mesti belajar dan mencari dukumen-dokumen tua tentang toleransi. Dengan demikian kita dapat menafsir dengan tepat.

Pada bab IV, Denny JA menguraikan makna terdalam atau intisari agama. Denny JA menjembatani berbagai fenomena yang telah diperlihatkan oleh berbagai penilitian yang telah diuraikan pada bab I maupun Bab II. Pada bab-bab sebelumnya, Denny JA dengan bertolak dari berbagai hasil riset, bahwa agama “seolah” tidak berhasil merubah pola pikir manusia, manusia yang beragama justru menampilkan gaya hidup yang korup, tidak bahagia dan tidak sejahtera. Negara-negara yang mayoritas masyarakat beragama justru menjadi negara yang terbelakang dalam hal kesejahteraan, kebahagiaan dan maraknya korupsi. Namun, pada Bab IV ini, Denny JA justru mengajak manusia untuk tetap beragama dengan berpegang pada nilai-nilai eksistensial agama. Setiap nilai-nilai ajaran agama (nilai-nilai luhur) di ikuti secara taat oleh para penganutnya. Selain itu, setiap manusia yang beragama mesti mencari dan mendalami intisari agama dan tulisan-tulisan kitab suci masing-masing agama. Oleh Denny JA, didalam agama dan masing-masing kitab suci terdapat harta karun yang tersembunyi. Denny JA menyebut harta karun yang tersembunyi itu antara lain, The Golden Rule (Prinsip Kebajika), Power of Giving (Kekuatan memberi), The Onenes (Kesatuan). Tiga harta karun ini oleh Denny JA adalah Spiritual Blue Diamonds.Selain mutiara dalam Agama, pada akhir bab ini, Denny JA menguraikan 10 Mutiara Kitab Suci dari berbagai agama dan keyakinan antara lain; Prinsip Tauhid, Keadilan, Toleransi, Derma/Sedekah, Kesatuan, Ibadah/dakwah, Komitmen pada kebenaran, Bersyukur, Mmemaafkan, Jujur dan taat. Inilah 10 mutiara dalam kitab suci menurut Denny JA.

Pada akhir buku ini, Denny JA merekomendasikan kepada kita sebagai umat beragama maupun tidak beragama, bahwa agama mesti dipahami sebagai kekayaan kultur milik bersama. Dengan menampilkan berbagai fakta hasil penelitian bahwa dibnyak negara, hari-hari raya setaip agama dirayakan bersama bahkan setiap orang yang beragama maupun tidak, merasa penting untuk merayakan hari-hari raya sebagai kekayaan kultur. Sebab, setaip hari raya adalah momen reflektif untuk kita semua dalam merayakan hidup bersama di dalam dunia yang diciptaan oleh sang Ilahi.

Kelebihan dari buku tersebut adalah:

  1. Setiap sumber-umber penelitian dilampirkan pada bagian catatan kaki.
  2. Penulis sangat berani untuk mengungkapkan fakta-fakta penelitian yang ditemukan.
  3. Setiap topik pembahasan, Penulis seakan memberikan kesempatan kepada pembaca untuk berefleksi tentang keyakinannya.
  4. Penulis berupaya menampilkan fakta-fakta yang dapat diuji secara akademis, namun tetap mengarahkan pembaca untuk berpikir kritis baik terhadap hasil temuan ilmu pengetahuan, maupun keyakinan yang telah ditanam dalam agama.

Kekurangan dari buku tersebut adalah;

  1. Akhir dari buku ini, pada uraian mengenai 10 mutiara kitab suci, penulis hanya berangkat dari teks-teks suci Al-Qur’an.
  2. Penulis tidak mengelaborasi teks-teks suci dari berbagai agama yang berhubungan dengan 10 mutiara itu.  

Pada akhirnya, buku yang ditulis oleh Denny JA merupakan karya akademis sekaligus Spiritualitas yang mengagumkan. Denny JA menjelajahi dunia dengan segala seluk beluk kepongahannya melalui hasil-hasil penelitian yang akademis. Hasil penelitian merupakan kelebihan perkembangan ilmu pengetahuan yang perlu dihargai, sebab dengan menemukan fakta-fakta rill yang terjadi kita dapat mengoreksi diri apakah, kita sudah beragama dengan benar atau tidak? Apakah kita sudah menafsir teks-teks suci kitab suci dengan tepat atau belum?. Hasil penelitian terkait kekurangan dan kejanggalan yang diperlihatkan kaum beragama di berbagai negara menjadi pertanyaan reflektif bagi kita yang beragama. Denny JA merupakan salah satu akademisi yang berpegang teguh pada nilai-nilai terdalam dari keyakinannya, sembari membuka ruang persahabatan bagi semua manusia. Hidup di dalam dunia merupakan sebuah ziarah. Setaip umat beragama maupun tidak beragama, sama-sama berziarah di dalam dunia. Karena itu, untuk mencapai tujuan bersama, kita mesti saling menopang, saling mendengar denyut jantung. Sebab, Ziarah hidup mesti dirayakan bersama. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top